Hidup Tidak Berlebih

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

HIDUP TIDAK BERLEBIH

Hendy Pagar Alam, Commercial Director HK Realtindo

“Nikmati hidup tidak berlebih” pesan ibunya itu selalu teringat dan menjadi pegangan hidup bapak dua anak ini. Jenjang karirnya memang tidak begitu mulus meski berakhir manis, setelah banting stir ke properti. Kini, Hendy Pagar Alam menapaki sukses. Usaha dan kerja kerasnya itu mengantarkannya ke jajaran Direksi PT HK Realtindo – perusahaan plat merah yang fokus pada pengembangan bisnis properti."

 

Sore itu udara Jakarta nampak tak bersahabat. Gerimis mulai mengguyur selatan Jakarta. Usai menghadiri sebuah acara, pria 45 tahun ini pun bergegas menuju Grand Kemang Hotel, di Kemang, Jakarta Selatan. Tidak lama menunggu, personil Majalah Property and The City yang sudah siap pun langsung “touch-up”. Juru foto dan lighting tak ketinggalan, gesit mempersiapkan beberapa lokasi foto di pojok hotel itu. Hendy, demikian dia biasa dipanggil, mulai beraksi. Pengarah gaya sepertinya tak begitu sulit mengarahkan beberapa pose yang diinginkan. Sepertinya bapak dua anak ini sudah cukup fasih di depan kamera Nikon milik sang fotografer.

 

“Ayo kita wawancara dulu,” ajak Hendy di sela sesi foto tersebut. Sembari menunggu persiapan selanjutnya, Hendy pun mengisahkan perjalanan hidupnya hingga berlabuh di perusahaan properti.

Perjalanan Karir

 

Hendy lahir di Jakarta, 6 Oktober 1970. Hijrah ke Lampung, Sumatera mengikuti usaha ayahnya yang menancapkan bendera bisnis transportasi jasa di provinsi itu. Usaha yang mulai berkembang pesat kala itu, ‘memaksa’ Hendy sebagai anak lelaki satu-satunya untuk dapat meneruskannya. Fakultas Ekonomi di Universitas Bandar Lampung menjadi pilihan tepat untuk menggawangi urusan operasional usaha yang susah payah didirikan ayahnya tersebut. Meski sambil bekerja, Hendy berhasil menyelesaikannya kuliahnya pada tahun 1995. Pada akhirnya, Hendy dipercaya sebagai Opreational Manager PT Trans Bandar Taksi yang mengurusi sekira 300 unit taksi yang tersebar ke beberapa kota lainnya, seperti Palembang dan Jambi.

 

Memasuki tahun 1998, usaha transportasi itu mulai terguncang. Krisis ekonomi dan kerusuhan yang melanda saat itu berdampak besar pada pengembangan usaha. Banyak armada taksi yang dibakar. Sementara biaya operasional yang juga terus membengkak memaksa pengurangan karyawan dan penjualan sebagian armada lainnya.

“Properti itu membutuhkan pandangan yang sangat luas, tidak hanya dari satu sisi. Properti adalah bagian daripada seni.”

“Skemanya berubah. Jadi armadanya kami jual ke pengemudinya, sehingga dia mencicil kepada kami,” cerita Hendy mengenang.

Situasi tidak memungkinkan, Hendy pindah ke Jakarta. Di Ibu Kota, dia bekerja di sebuah perusahaan financial services di Astra Jardine Company. Masih di perusahaan financial services, Hendy kemudian bergabung ke Argo Manunggal Group. “Di sini karir saya cukup melesat,” ucapnya singkat.

Properti adalah Seni

Hendy mulai menjajaki karir propertinya kala bergabung dengan Lippo Group sebagai GM Marketing. Di Lippo Land, Hendy dipercaya untuk terlibat menangani berbagai proyek Lippo, seperti Lippo Cikarang, Lippo Bukit Sentul, Lippo Karawaci, Lippo Carita, Lippo Sudirman, dan beberapa proyek lainnya.

 

Sekitar tahun 2000 Hendy mengundurkan diri dari Lippo dan bergabung dengan Tripadi Group sebagai Direktur Marketing. Sekitar setahun bergabung, Hendy kemudian ambil bagian dalam grup usaha Bakrie dan menduduki posisi sebagai Vice President Customer Service di PT Bakrie Finance Corporation.

 

Setelah melanglang buana ke beberapa perusahaan besar bahkan menduduki jabatan yang cukup strategis, Hendy memutuskan untuk kembali terjun ke bidang properti. Keputusan ini dia ambil lantaran menurutnya tantangan dan gairah kerja sesungguhnya berada di bidang properti sebagaimana yang pernah dia alami semasa di Lippo Group. “Bagi saya, pekerjaan yang sangat menantang dan menarik adalah properti. Properti itu membutuhkan pandangan yang sangat luas, tidak hanya dari satu sisi. Properti adalah bagian daripada seni,” terang Hendy.

 

Akhir tahun 2006 Hendy bergabung dengan Gapura Prima Group. Namun hanya bertahan dua tahun. Atas ajakan beberapa rekannya, Hendy kemudian bergabung dan terlibat dalam mendirikan Menara 165 di Jl. TB Simatupang, Jakarta Selatan, setelah kembali dari perjalanan Umroh, pada 2009. “Tetapi Menara 165 ini bukan developer. Jadi setelah mendirikan gedung ini ya selesai. Sementara saya tidak bisa mengeksplor ilmu yang saya punya,” kata Hendy.

 

Panjang bergolak dengan batin, Hendy memutuskan untuk kembali lagi ke perusahaan properti. Tahun 2011 dia bergabung lagi dengan Gapura Prima hingga berakhir di 2014 dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Marketing dan Operasi.

 

“Tahun 2015 saya mengikuti tes direksi BUMN, yaitu di HK Realtindo,” lanjutnya. Sejak saat itu Hendy diterima dan bergabung di perusahaan milik pemerintah tersebut. Hendy menggawangi divisi Pemasaran dan Penjualan, Pengembangan Bisnis, Unit Bisnis Pengembangan Diversifikasi Properti, dan HR3 (Hotel, Rumah Sakit, Rusun, dan Recurring Income) sebagai Direktur Komersial di PT HK Realtindo. “Jadi di sinilah passion saya. Kita tidak akan bosan bekerja di sini,” tegas Hendy.

 

Di HK Realtindo, Hendy terjun langsung menangani sejumlah proyek besar perusahaan, baik yang sudah dan yang akan dibangun. Sebut saja Olympic Residence Sentul yang sudah diluncurkan beberapa waktu lalu. Ada pula H Tower Rasuna Said, Kubikahomy di Serpong Tangerang, H Residence MTH, H Residence Kemayoran, dan beberapa proyek lainnya.

Bahkan Hendy berujar, salah satu kunci kesuksesannya adalah DUIT yang merupakan singkatan dari Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal.

“Terlalu naïf kalau kita tidak doa memohon petunjuk untuk segala sesuatu yang akan kita lakukan. Terlalu naïf juga kalau kita tidak punya usaha. Terlalu naïf juga kalau kita tidak ada ikhtiar. Dan terlalu angkuh sekali mengandalkan kekuatan sendiri kalau kita tidak berserah diri kepada Allah,” papar Hendy.

“Saya tidak pernah mengandalkan kekuatan saya sendiri,” tambah Hendy lagi.
Dan lagi, sambung putra ketiga dari empat bersudara ini, “Ibu adalah separuh hidup dan jiwa saya. Semua yang saya raih dan yang ada saat ini adalah karena ridho seorang ibu,” ujar Hendy. Lebih lanjut, Hendy mengulang petuah ibunya, “Nikmati hidup tidak berlebih.” Pesan itu membawa makna mendalam setiap langkah yang hendak dia ambil hingga mencapai sukses yang dimaknai sebagai ketenangan jiwa.

“Sukses itu tidak semata-mata karena harta atau jabatan. Sukses adalah ketenangan jiwa. Sukses itu adalah apa yang diinginkan dapat tercapai,” jelas Hendy. Maka tidaklah berlebihan, kini Hendy mendambakan sebuah perusahaan properti miliknya sendiri. “Sesungguhnya yang paling saya senang adalah saya ingin punya perusahaan properti sendiri. Ya, inilah salah satu cita-cita saya yang belum tercapai,” tutup pria yang suka olahraga berenang dan gym ini. [pio]

(Jkt,3/2/2016)

 

 

 

You have no rights to post comments