×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

MODULAR HOUSE, MIMPI ANAK MUDA MEMBANTU NEGERI

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

MODULAR HOUSE, MIMPI ANAK MUDA MEMBANTU NEGERI

Dhanistha Dyaksa Void Collaborative

Soekarno bilang, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Demikian halnya dengan Dhanistha Dyaksa, punya mimpi besar untuk memajukan bangsa ini. Modular house, sebuah konsep hunian yang disebutnya akan sangat membantu masyarakat Indonesia. Hunian masa depan, memanfaatkan teknologi dengan metode komputasi.

“Saya sedang mendalami sebuah pendekatan desain yaitu parametric design, sebuah tools inovasi dengan berpikir secara komputasi. Sebuah desain yang terukur dan menggunakan kalkulasi alogaritma dalam membuat desainnya,” ujar Dhanis.

Pria kelahiran Surabaya, 26 Desember 1986 ini pun berencana akan menerapkan model desain yang disebutnya modular house tersebut untuk membantu masyarakat terpinggirkan di Indonesia. “Kalau GoJek adalah terobosan teknologi untuk mengatasi beberapa masalah kemacetan, saya juga ingin melakukan hal yang sama untuk membantu masyarakat pinggiran yang bermasalah dengan huniannya,” jelas pengagum klub sepak bola Manchester United ini.

Lantas bagaimana caranya putra pertama dari dua bersaudara ini bisa mewujudkan mimpi besarnya itu? Berikut penuturan Dhanis kepada tim Property and The City, beberapa waktu lalu di The Hermitage, Menteng, Jakarta:

Bagaimana Anda mulai tertarik pada
bidang ini?

Kedua orang tua saya pecinta seni. Ayah saya dosen desainer interior dan ibu arsitektur. Ibu saya adalah salah satu yang terlibat dalam membangun Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) di Bandung bersama tim arsitek dari Jepang. Sedangkan bapak lebih banyak ke research and development, saya pun sangat mengagumi konsistensi dia terhadap dunia pendidikan. Sehingga sejak kecil memang saya juga menyukai dunia ini, terutama desain yang berawal dari hobi menggambar seperti Dragon Ball, Doraemon, dan lainnya. Kemudian saya masuk ke Seni Rupa dan Desain di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sana saya masuk ke Desainer Interior karena

saya sudah sangat tertarik dengan dunia bangunan dan interior. Apalagi, banyak yang bilang kalau desainer interior lebih laki (pria -red) banget lah. Jadi banyak hal yang bisa dikerjakan. Saya selesai kuliah di ITB tahun 2009. Setelah itu saya sempat bekerja enam bulan di Bintaro, Tangerang, sebagai Junior Interior Designer. Setelah itu ada tawaran dari teman saya yang kebetulan sudah lebih dahulu bekerja di sebuah perusahaan konsultan desain interior di Singapura. Sejak tahun 2010 saya bekerja di sana hingga 2014 lalu. Kemudian saya putuskan kembali ke Indonesia karena hendak melanjutkan pendidikan saya ke S2.

Apa yang Anda kerjakan di sana?

Jadi ini adalah sebuah perusahaan konsultan kecil, karena bagi saya konsultan kecil akan memberi peran yang lebih besar. Sehingga memang pengalaman yang hendak saya cari, bukan portofolio yang banyak.

Lantas karya atau proyek apa saja yang pernah Anda kerjakan semasa di Singapura?

Pertama kali saya mengikuti kompetisi desain pada tahun 2012, yang saat itu diselenggarakan di Indonesia. Karya saya ‘Arcouch’ berhasil masuk sebagai juara II untuk desain sofa (bench) dari rotan. Dari situ motivasi saya untuk ikutan kompetisi terus meningkat dan memang lebih banyak di Indonesia. Kebanyakan memang kompetisi produk furniture. Sejak itu mungkin sudah sekitar 10 kompetisi saya ikuti dan enam kali masuk finalis.

Bagaimana dengan rencana S2 Anda?

Saat ini saya masih mengejar beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Tapi saya sudah diterima di beberapa universitas, salah satunya di Delft University of Technology (TU Delft) di Barcelona, Spanyol. Di sana saya memilih jurusan Advance Design and Digital Architecture. Dimana nantinya akan mengajarkan lebih kepada teknis bagaimana kita berpikir secara komputasi. Saya memang suka terhadap dunia ini sejak lama. Saya tahu arsitek Zaha Hadid yang sangat terkenal dengan berbagai karya desain-desain futuristik yang digabungkan dengan teknologi.

Lalu kenapa di Barcelona, bukan di Universitas Stuttgart, sebagaimana salah satu universitas pilihan Anda?

Barcelona adalah nenek moyang dari metode ini. Di sana ada satu katedral namanya Gereja Expiatori de la Sagrada Família atau Sagrada Familia yang kini menjadi salah satu ikon Kota Barcelona. Arsiteknya adalah Antonio Gaudi (1852-1926), dia pernah bilang bahwa gereja ini baru akan finish setelah teknologinya sudah ada. Setelah sempat terhenti akhirnya gereja yang dibangun sejak 1883 dilanjutkan dan hingga kini tak kunjung selesai. Jadi, nanti kurang lebih di sana akan ada kuliah lapangan yang nantinya menjelaskan bagaimana pertama kali mereka membuat bentuk-bentuk unik seperti yang ada di dalam bangunan itu.

Apakah kemudian Anda akan terapkan di Indonesia?

Saya sadar memang cukup berat untuk dapat merealisasikan hal ini di Indonesia. Tapi mungkin suatu saat saya akan lebih mengarahkan ke tujuan sosial. Kalau misalkan teknologi ini bisa digunakan di kelas menengah ke bawah tentu ini sangat membantu. Kalau GoJek adalah terobosan teknologi untuk mengatasi beberapa masalah kemacetan, saya juga ingin melakukan hal yang sama untuk membantu masyarakat pinggiran yang bermasalah dengan huniannya. Jadi saya ingin membuat modular house.

Apa itu Modular House?

Ini adalah sebuah konsep hunian yang juga menerapkan teknologi. Contoh kasus masyarakat pinggiran di Kampung Pulo, Jakarta atau di tempat lainnya. Ketika mereka digusur, tentu rumah mereka tinggalkan dengan berbagai material yang nantinya akan hancur dibongkar Satpol PP. Dengan modular house ini, mereka bisa menciptakan bangunan seperti menginstal dengan gampang, sehingga saat mereka harus pindah, mereka pun bisa membongkarnya dengan gampang pula. Mungkin nanti bekerja sama dengan pemerintah atau investor.

Bagaimana ide ini bermula?

Saya membaca artikel mengenai Alejandro Aravena, seorang arsitek asal Amerika Latin. Di sana dia mengatasi permasalahan yang kurang lebih sama. Dia membuat rumah murah dengan konstruksi yang gampang. Dari situ saya berpikir, nanti saat studi di Barcelona, ujungnya adalah kita akan membuat sebuah pavilion (banguan tanpa struktur) yang akhirnya bisa terbuat dengan modular. Tapi memang pada umumnya digunakan untuk temporary event, seperti di outdoor dan ada gubahan bentuk arsitekturnya sebagai pelengkap (hardware), itupun juga nanti sama. Namun saya merasa bahwa itu belum begitu tepat dan efektif, karena yang bisa merasakan adalah masyarakat kelas atas. Sedangkan kelas bawahnya belum bisa merasakannya. Sehingga modular house yang akan saya jalankan adalah untuk masyarakat bawah.  

Artinya bisa dijangkau oleh masyarakat kelas bawah?

Betul. Bagaimana caranya nanti saya akan coba membuatnya dengan bahan dasar yang ada di Indonesia. Apakah itu rotan, bambu, yang akhirnya direkonstruksi dengan misalnya batu bata. Jadi ini adalah kombinasi. Tapi semua ini adalah rencana jangka panjang, bahkan mungkin generasi setelah saya baru bisa direalisasikan secara komersial.

Kabarnya sekarang Anda sudah punya brand sendiri?

Ya, namanya Visionary on Innovative Design (Void) Collaborative. Brand ini mulai saya kembangkan sejak Juli 2014. Jadi apa yang saya dapatkan selama empat tahun bekerja di sana, coba saya jalankan di Indonesia, sembari menunggu waktu tepat untuk melanjutkan kuliah saya. Saya masih punya link dan jaringan, serta beberapa teman yang masih bisa membantu saya. Dan akhirnya beginilah saya sekarang, ada beberapa proyek yang saya kerjakan. Sebenarnya saya tidak ingin monoton mengerjakan proyek interior, tapi saya lebih ingin mengutak-atik instalasi desain yang nantinya lebih ke arah urban design. Nantinya akan lebih bekerja sama dengan pemerintah. Jadi secara desain memang lebih eksploratif dan inovatif dibanding komersilnya.

Apa yang sudah Anda kerjakan melalui Void Collaborative tersebut?

Saya sempat bekerjasama dengan beberapa arsitek dan desainer lainnya untuk beberapa proyek, seperti artwork di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Alhamdulillah selesai. Selain itu juga saya pernah mengerjakan artwork di Museum Kepresidenan Bogor. Untuk pekerjaan interior perumahan juga sudah saya kerjakan, tapi bukan kolaborasi. Saya kerjakan sendiri, dan sekarang masih berlangsung.

Bagaimana sebuah ide bisa muncul untuk kemudian menginspirasi Anda menyelesaikan sebuah proyek?

Agak bohong kalau misalnya sebuah ide berasal dari awal langsung terbeber semua. Benar adanya, yang namanya proses ya proses. Di saat kita sedang mendesain, di tengah jalan tiba-tiba kita mendapatkan sebuah inspirasi, maka bisa saja berubah saat itu. Di situ akhirnya saya merasa bahwa proses desain sangat berkembang. Jadi inspirasi bisa dari manapun, bisa dari alam, orang sekitar, dan lainnya.

Apa hasil karya Anda yang paling membekas atau membanggakan?

Untuk interior saya pernah mengerjakan interior lobby untuk International Plaza di Singapura dan Tanjong Pagar MRT entrance, juga di Singapura. Sementara untuk produk, yang jelas karya pertama saya sewaktu pertama kali saya menang dalam ajang Indonesia Furniture Design Award 2012, yakni ‘Arcouch’ itu. Saya benar-benar bereksplorasi secara maksimal di karya ini. Seakan-akan produk ini tidak bisa dikerjakan, sebab bentuknya memang terlalu rumit. Tapi akhirnya saya bisa kerjakan karena material yang saya pilih adalah rotan. Saya bangga bisa gunakan material asli dari alam Indonesia. Saya juga tidak membuatnya terlalu konvensional atau klasik, tetapi saya membuatnya lebih kontemporer.

Selain konsep Modular House sebagai rencana jangka panjang Anda, adakah yang lebih konkrit dalam waktu yang lebih pendek ke depan?

Yang jelas modular house adalah sebuah rencana teramat panjang yang perlu pemikiran dan konsep matang untuk bisa diterapkan secara masal di Indonesia. Tapi yang jelas dalam waktu ke depan ini, saya lebih berkonsentrasi mengurusi keluarga. Mempersiapkan yang terbaik untuk anak-anak saya sebagai generasi penerus saya tentunya. Dengan begitu, saya masih berharap kelak jika modular house tidak bisa terealisasi melalui tangan saya, mungkin merekalah yang akan melanjutkannya.

Lantas siapa tokoh seni atau arsitek dunia yang Anda kagumi?

Ada beberapa tokoh arsitek dunia yang saya kagumi. Ada Zaha Hadid, Patrik Schumacher, Bjarke Ingels, dan teman saya sendiri yang sekarang menjadi partner saya, Gemawang Swaribathoro. (Jkt,8/12/2015)

 

You have no rights to post comments