MICHAEL GINARTO

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

MICHAEL GINARTO

Head of Asia Crown Group International

How Bad Do You Want to Succeed?

Jakarta masih basah siang itu, saat tim Property and The City memasuki salah satu ruang pertemuan di Aston at Kuningan Suites. Ruangan bernuansa modern itu adalah tempat kami akan berbincang dengan tangan kanan Iwan Sunito di Indonesia, yang bermimpi menjadi salah satu anak muda kebanggan bangsa di bidang properti.

Kisah hidup Head of Asia Crown Group International yang penuh warna, dimulai saat Michael Ginarto remaja ‘diungsikan’ ke luar negeri oleh sang Ayah. Ia tak mau melihat anaknya tinggal kelas di bangku kelas 1 sekolah menengah pertama di Jakarta. Putra kedua dari pasangan keluarga kelas menengah biasa ini terancam tak naik kelas karena nilainya yang kurang. Meski akhirnya berhasil naik kelas, namun Michael tetap harus ikut rencana sang ayah untuk menetap bersama nenek tercinta di Kanada.

Saat itu pertengahan 1996, tak lama sebelum kisruh politik mengguncang tanah air. Kisruh yang sama hinggap dalam kehidupan Michael, saat ia harus merasakan goncangan budaya dalam proses adaptasinya di lingkungan baru. Tak sebentar, lelaki yang murah senyum ini harus melalui proses tak kurang dari tiga tahun hingga akhirnya bisa menaklukkan Negara yang beribukota di Ottawa ini.

Asuhan tangan dingin sang nenek rupanya membekas begitu dalam di benak dan pikiran suami dari Irene Sebastian ini. Disiplin adalah poin terpenting yang berhasil ditancapkan oleh sang nenek. Dan pengalaman hidupnya di Kanada berhasil membuat Michael tumbuh menjadi pribadi yang lebih optimis dan haus ilmu.

“Separuh hidup saya bersama oma. Beliau adalah salah satu mentor saya yang banyak memberikan pengaruh positif dalam diri saya saat ini,” ungkapnya saat berbincang dengan tim Property and The City di sore yang teduh.

Saat Harus Mengambil Risiko

Ingar-bingar teknologi dunia maya sempat membelokkan jalan hidup Michael. Setelah berhasil meraih gelar Bachelor di bidang Teknologi Informasi hanya dalam waktu tiga tahun saja, Michael kemudian membaktikan ilmunya di dua perusahaan berskala besar, salah satunya IBM.

 

Pulang ke tanah air tak membuat ayah dari dua putri dan seorang putra ini lantas bersantai. Mimpinya untuk berkarya di bisnis properti membawanya ke perusahaan yang bergerak di bidang landbanking dan land assets management, Walton International Group. Disini lah, Michael belajar lebih intensif lagi terkait bidang properti. Mulai dari proses paling dasar pengembangan sebuah proyek properti, yaitu proses pembebasan lahan.

 

Hanya membutuhkan waktu delapan bulan lamanya bagi Michael untuk berada di tangga karir seorang manajer.  Setelah satu tahun belajar di perusahaan tersebut, Michael pun memutuskan untuk menimba ilmu di perusahaan lain. Itu pun hanya selintas lalu, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk mendirikan bisnis sendiri.

 

“Kunci sukses saya itu bersumber dari sebuah quote: apapun dalam pikiran kita yang kita percaya bisa meraihnya, maka akan tercapai. Meski ada lebih dari 10 alasan saya untuk berhenti dari bisnis yang saya dirikan sendiri itu, tapi saya tidak lakukan, karena saya ingin sukses,” ujar dia.
Saat mengembangkan bisnis air minum dalam kemasan inilah, Michael belajar empat hal besar. Michael belajar untuk percaya bahwa ia bisa berhasil, belajar yang namanya pengorbanan, belajar untuk tidak menyerah, dan Michael pun belajar untuk mendekatkan diri dengan lingkungan yang positif.  

 

Bisnisnya berjalan lancar selama empat tahun, hingga akhirnya harus dijual saat Michael berada di persimpangan untuk memilih kembali ke dunia properti. Dan tiga tahun kemudian, bertemulah Michael dengan seorang Iwan Sunoto.

Bosku Partner-ku

membuat Michael merasa menemukan kembali jalan pulang menuju impian terdalamnya; menjadi seorang pengembang. “Apapun yang saya kerjakan, pasti saya akan balik lagi ke properti. Karena suatu hari, saya ingin menjadi pengembang,” ungkapnya.
Lika-liku perjalanannya di dunia bisnis akhirnya mengantarkan Michael ke hadapan salah satu legenda hidup properti tanah air yang berjaya di negeri orang; Iwan Sunoto. Berawal dari niat untuk mewujudkan harapan sang Istri yang mencintai Negeri Kanguru, Michael memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan Iwan Sunoto.

 

“Karakter Pak Iwan itu sesuai dengan kriteria mentor saya, selain kehidupan profesionalnya yang sukses, kehidupan pribadinya juga sukses,” ungkap Michael.
Saat ini, Michael menjadi salah satu tangan kanan Iwan untuk mengelola Crown Group di Indonesia dan Singapura. “Tapi ini bukan akhir karir saya, saya akan berkembang,” tegasnya.

You have no rights to post comments