Elang Gumilang

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

ELANG GUMILANG (CEO Elang Group)

 

Meskipun telah menjadi pengusaha muda yang sukses di bidang perumahan, sosok bersahaja masih melekat pada dirinya. Pesatnya pertumbuhan usaha Elang, tidak membuatnya terlena dan lupa diri.

Mulai dari menjual donat, sepatu, sampai minyak goreng keliling telah dilakoninya. Putra dari H. Enceh dan Hj. Priani memulai bisnis perumahan dengan bermodal Rp. 300 juta, kini mempunyai kapitalisasi tidak kurang dari Rp. 17 miliar dan terus berkembang.

Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang membuat Anda tertarik terjun ke bisnis perumahan ?

Inspirasi tentu datang dari Tuhan YME. Melalui jalan mimpi, saya melihat diri sendiri menjadi seorang yang berhasil membangun sebuah gedung megah di Manhattan.

Keinginan saya untuk menjadi pebisnis agar dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Bisnis perumahan merupakan salah satu bidang bisnis yang berhubungan dengan kebutuhan primer manusia (sandang, pangan, papan - red). Tentu demand-nya akan selalu ada dan besar karena kebutuhan. Di sinilah letak seni berbisnis properti khususnya perumahan. Bisnis ini merupakan bisnis yang strategis, harus menyatukan banyak hal, bukan hanya materi akan tetapi bagaimana sosial politik masyarakat pun berpengaruh, serta bisa membuka lapangan kerja. Di samping itu menjalankan bisnis ini juga merupakan sebuah bentuk ibadah karena bisa membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan primernya.

Siapa saja yang dirasakan tidak terlalu mendukung masuk ke bisnis perumahan ?

Hmm… saya tidak tahu, karena bagi saya itu bukan hal penting apakah orang mau suka atau tidak dengan pilihan bisnis ini. Yang terpenting adalah saya bisa fokus dan ada banyak cita-cita yang hendak saya wujudkan melalui bisnis ini dan tentunya ingin sekali bermanfaat untuk banyak orang.

Bagaimana tanggapan/dukungan keluarga sebelum dan sesudah masuk bisnis perumahan ?

Bagi keluarga, khususnya orang tua saya, yang terpenting setiap bisnis apapun yang saya geluti harus dapat menjaga norma dan tata nilai. Misalkan saja sebagai seorang muslim, bagaimana saya selalu dipesankan agar sesibuk apapun, saat tiba waktu shalat, saya harus menghentikan aktivitas saya untuk melaksanakan shalat terlebih dahulu. Hal yang paling dikhawatirkan dari profesi seorang pebisnis adalah lupa waktu.

Sejak kapan memulasi bisnis perumahan ?  Dan apa proyek perumahan yang pertama kali dikembangkan ?

Sejak tahun 2007, menjelang tingkat akhir kuliah, pertama kali mengembangkan perumahan Griya Salak Endah di wilayah Ciampea Kabupaten Bogor.

Adakah barang/kendaraan/properti/perhiasan yang pertama kali dibeli ketika Anda mulai merasakan kesuksesan Anda ?

Hehehehe… apa ya... Saya membeli sesuatu yang memang mendukung kebutuhan saya beraktifitas. Misalkan mobil, banyak yang menyarankan saya mengapa saya tidak membeli mobil merek A dengan harga di atas Rp. 800 juta dengan alasan untuk meningkatkan bargaining position. Entah kenapa saya enggan untuk membelinya. Karena bagi saya yang penting adalah fungsinya. Ya.. saya membeli mobil yang banyak dipakai masyarakat lah, hehehehe… Soal kenyamanan, kan kita sendiri yang mempersepsikan hal itu bukan? Justru orang akan menghargai kita lebih karena karakter yang kita miliki bukan apa yang kita kenakan.

Selain itu saya membeli sebidang lahan - semacam peternakan- untuk kedua orang tua saya sebagai rasa syukur kepada orang tua saya.

Dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, apakah ada
hambatan ?

Hambatan ada, jelas, terutama dari pemahaman konstruksi. Tapi saya yakin setiap manusia diberi kelebihan untuk mau belajar. Jadi kita bisa mengejar ketertinggalan itu. Hal-hal lain yang tidak saya kuasai sepenuhnya saya delegasikan ke tim di perusahaan, namun kontrol sepenuhnya saya lakukan hingga ke hal yang paling detil.

Apakah ada perjalanan hidup Anda yang berkesan ?

Dari seluruh rangkaian perjalanan hidup dan suka duka yang saya alami, yang paling berkesan adalah ketika hasil yang saya peroleh kemudian bisa dikontribusikan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kami di perusahaan memiliki sebuah kebiasaan membagi-bagikan makanan untuk para fakir miskin dan tuna wisma di malam hari setiap bulannya. Mungkin banyak orang yang menyangka hal yang paling menyenangkan dalam hidup saya adalah ketika saya mampu mencapai kesuksesan di usia muda, dikenal banyak orang, kemudian bisa bertemu dengan para petinggi di negara ini. Jujur, saya senang, tapi saya lebih bahagia ketika hasil yang saya peroleh ini dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Artinya keberadaan saya mendatangkan kebaikan.

Apakah ada perjalanan hidup Anda yang paling berat ? Bagaimana Anda bisa bangkit ?

Masa terberat yang pernah saya alami adalah ketika harus berpacu dengan waktu untuk melunasi cicilan KTA  (Kredit Tanda Agunan - red) di masa masih duduk di bangku kuliah. Padahal keputusan untuk mengambil KTA bukanlah murni keputusan saya sendiri. Tapi, pada akhirnya saya harus menanggungnya seorang diri. Apa boleh buat, kalau tidak dilunasi nama baik saya bisa hancur, bahkan saya juga bisa diperkarakan secara hukum. Pertolongan Tuhan lah yang menyebabkan saya bisa kuat menghadapinya. Dan itu sangat terasa ketika kita memiliki sebuah visi yang besar. Saya harus kuat, tidak boleh menyerah. Itulah yang saya pegang hingga kini apalagi saat mengalami permasalahan yang pelik.

Apakah perbedaan yang sangat dirasakan sebelum dan sesudah Anda memasuki bisnis perumahan ?

Perbedaannya adalah saya sekarang menjadi semakin takut. Takut terlena dengan pencapaian yang ada. Saya sadar bahwa selama ini, hasil yang saya peroleh ada campur tangan Tuhan di situ. Itu sebabnya saya tidak boleh membuat Tuhan murka, yang kemudian akan menjauh dari saya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kehidupan para pengusaha itu glamor, hedonis. Sebenarnya ini juga menjadi pekerjaan rumah saya selaku bagian dari komunitas pengusaha itu sendiri, bahwa pengusaha itu tidak mesti identik dengan hedonism. Pengusaha pun bisa hidup sederhana, dan bagusnya, banyak teman-teman dan juga tim di perusahaan yang senantiasa mengingatkan saya untuk selalu menjaga diri dan visi hidup.

Rabu, 5 Maret 2014

 

You have no rights to post comments