Rocker Juga Developer

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

IKANG FAWZY ROCKER JUGA DEVELOPER

Rocker gaek ini tak seperti rocker lainnya. Ikang adalah salah satu seniman yang juga pandai berbisnis. Dirinya mengaku menngambil posisi seniman dan menjadi pengusaha atas saran sang Ayah.

 

Ahmad Zulfikar Fawzi atau lebih popular dengan nama Ikang Fawzi terlahir pada tahun 1959 dan banyak menghabiskan masa kecilnya di beberapa negara di dunia lantaran sang Ayah (Fawzi Abdulrani) adalah seorang diplomat karir. Dan dari beliaulah darah seni mengalir, ayahnya kerap menciptakan lagu dan bernyanyi, juga pandai bermusik.
Pada masanya, di era tahun 80-an, Ikang dikenal sebagai penyanyi beraliran rock. Beberapa album yang telah dikeluarkan antara lain, “Selamat Malam”, “Randy & Cindy”, “Preman”, “The Very Best of Ikang Fawzi” dan album “Dua Sisi”. Selain itu pada 1987 Ikang mendapat gelar The Best Rocker dan saat itu juga dikenal sebagai bintang film.

Menurutnya, peran sang Ayah sangat kuat, dirinya diarahkan untuk tidak menjadi karyawan. Sang Ayah tampaknya berkaca pada apa yang dilakoninya, banyak tantangan dan godaan sebagai seorang pegawai negeri. “Karena ayah melihat dari sisi waktu, saya mungkin tak bisa disiplin karena beliau melihatnya saya seorang seniman. Maka beliau menyarankan agar fokus dengan apa yang saya bisa, sesuai passion dan tentunya dengan sentuhan artpreneur agar bisa menopang kehidupan. Saat itu saya juga ingin jadi pengusaha, nah akhirnya pada awal 90-an berkolaborasi dengan kakak yang berprofesi sebagai arsitek, kami membuat usaha bersama,” terang Ikang.

 

 

Berawal menjadi kontraktor yang membangun dan merenovasi rumah, Ikang pun melangkah lebih maju ke depan, terjun menjadi developer. Proyek perdananya berada di kawasan Cileungsi, Bogor, Jawa barat dengan nama Cileungsi Elok melalui bendera PT Agal Cipta Laksana. Kemudian berlanjut Pelangi Bintaro seluas 2 hektar dan di perumahan inilah Ikang berdomisili bersama istrinya Marissa Haque dan kedua anaknya, Isabella Muliawati Fawzi dan Marsha Chikita Fawzi.

Selain itu beberapa proyek perumahan lainnya yang pernah dikerjakan oleh Ikang adalah Puri Marissa (Ciputat), Permata Kelabat (Manado), Griya Cendekia, Griya  Kencana Asri (Bogor), Griya Mekar Indah (Karawang), Griya Narama (Gunung Sindur). “Dan saat ini saya sedang konsen pada proyek de Green Square@Tambun melalui bendera PT Suryasakti Bumi Persada. Proyek seluas 12 hektar ini memliki kelebihan dalam fasilitas ruang komersial yang bisa menjadi destinasi baru di Tambun,” papar Ikang.

Ikang mengaku, melakoni hidup sebagai developer memerlukan energi khusus karena selalu bersentuhan dengan masyarakat secara langsung. Menurut Ikang, produk yang dikembangkan harus dapat memberikan manfaat bagi konsumen, tak hanya sesaat tapi jangka panjang karena rumah adalah benda investasi.

Seperti proyek yang sedang dikembangkannya di Tambun, dikemas untuk memberikan nilai lebih pada konsumen dengan memberikan fasilitas yang terbaik.

Dan bicara pengalaman sebagai developer, Ikang termasuk pengusaha properti yang sudah banyak makan asam garam lantaran pernah merasakan pasang surut dalam berbisnis pada masa krisis ekonomi 1997. Dirinya mengaku sempat limbung. Proyeknya sempat terbengkalai, karyawan hengkang dan kantornya yang tadi berada di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat hijrah ke pinggiran, Ciputat (Banten). Menurutnya tekanan tak hanya datang dari konsumen tapi juga dari perbankan terkait pinjaman yang tak bisa diselesaikan pada waktunya. Ikang mengaku, saat itu dirinya seperti berada dalam tekanan hebat sebagai seorang pebisnis.

“Cara paling mudah menyelesaikan masalah adalah dengan menghadapi, menyelesaikannya dan jangan lari. Saat itu beberapa proyek sedang jalan bersamaan, hantaman krismon 1997 memang dahsyat. Alhamdulillah, dengan niat ingin menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab saya, satu persatu permasalahan tersebut terselesaikan. Dengan kata lain saat itu saya sudah siap pasang badan ke pihak-pihak yang terkait dengan proyek,” jelas Ikang sambil tersenyum.

Pengalaman tersebut hingga kini masih diingatnya dengan jelas. Dan hal yang juga selalu diingatnya adalah didikan orang tua yang selalu mengajarkan bertanggung jawab dan menjadi orang yang jujur walau dalam kondisi sulit sekali pun. Maka dirinya saat itu mengambil keputusan untuk berhadapan langsung dengan konsumen yang mengeluh hingga marah-marah terkait proyek yang pembangunannya tersendat. “Bukan karena saya dikenal masyarakat sebagai penyanyi. Saya ingin mendengar langsung keluhan mereka, makian mereka langsung kepada saya. Ini membuat saya menjadi terpacu untuk menyelesaikan masalah tersebut, Alhamdulillah semua terselesaikan walau bertahap prosesnya,” pungkas Ikang.

Kini selain disibukan dengan proyeknya, Ikang juga saat ini aktif dalam organisasi Real Estat Indonesia (REI), sebagai salah satu BPOD (Badan Pertimbangan Organisasi Daerah) REI DKI Jakarta. Berperan memberikan masukan dan saran dalam organisasi yang membawahi developer yang beraktivitas di Jakarta dan sekitarnya. Sepertinya, jam terbang dan sentuhan seni yang ada dalam diri Ikang menjadi kekuatan tersendiri sehingga dipercaya dalam posisi tersebut. Tak hanya itu, dalam berbagai kegiatan organisasi, Ikang seperti menjadi bintang. Banyak anggota REI yang memintanya ber-selfie ria bahkan kadang didaulat untuk bernyanyi secara dadakan. Ternyata rocker juga bisa jadi developer . . .

Selasa, 23 Desember 2014

 

You have no rights to post comments