DALAM BISNIS FEELING TERKADANG PENTING

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

LUKAS BUNTORO CEO, FOUNDER MGM GROUP JAKARTA

Lukas Buntoro mengaku banyak keputusan bisnisnya berdasarkan feeling. Ia tidak segan memberi share saham kepada karyawannya yang punya integritas dan loyalitas.

“Saat kelas 2 SMA saya berada di tikungan jalan, antara melepas sekolah atau melanjutkan karir sebagai atlet bulu tangkis. Saya ingin berhenti sekolah karena bulu tangkis butuh waktu banyak, tetapi orang tua tidak mengizinkan, dan mengatakan sekolah lebih penting. Koko (kakak laki-laki-red) juga mengatakan jangan sampai berhenti sekolah,” ujar Lukas Buntoro, yang pernah satu angkatan bersama atlet bulu tangkis Hariyanto Arbi, Hendrawan, Ardy B. Wiranata di klub bulu tangkis PB Djarum.  
Lukas, juara tunggal putra tahun 1985 di kejuaraan Taruna Putra dan menyabet beberapa gelar juara sebagai pemain tunggal dan ganda, akhirnya memilih melanjutkan sekolah. Sebuah keputusan berat, karena dirinya sudah berlatih di klub bulu tangkis sejak di bangku kelas 4 SD. Ia bercerita bagaimana beratnya berlatih. Pagi sebelum berangkat sekolah sudah berlatih. Sore sebelum latihan resmi, ia sudah lebih dulu latihan sendiri. “Di samping tempat tidur, saya selalu letakan sepatu olah raga. Begitu jam weker bunyi pagi hari, yang pertama saya lakukan adalah memakai sepatu olah raga dulu,” ujar Lukas, mengenang saat-saat berlatih di klub PB Djarum.
Walaupun berat meninggalkan bulu tangkis, CEO dan Founder MGM Group Jakarta ini, mengakui menjadi atlet rentan cedera. Begitu cedera berkepanjangan dan tidak bisa melanjutkan lagi sebagai pemain, selesai sudah karir seorang atlet. Sementara sekolah sudah putus. Ini juga menjadi pertimbangan ketika memutuskan untuk gantung raket lebih awal. Tetapi keputusan melanjutkan sekolah justru membuka jalan menyabet gelar sarjana teknik sipil yang kelak membawanya meraih mimpi yang sudah lama yaitu menjadi developer. “Saya suka dengan teknik sipil,” ujarnya.
Lukas kembali “bersitegang” dengan orang tuanya saat memilih tempat kuliah. Sang orang tua mengultimatum agar dirinya kuliah di Amerika Serikat bersama dua kakaknya yang sudah lebih dulu tinggal di negeri Paman Sam. Lukas bersedia dengan syarat tidak satu kota di Amerika bersama kedua kakaknya. Kalau satu kota, ia lebih memilih kuliah di Indonesia. Sementara orang tua khawatir bila Lukas tinggal di Amerika jauh dari kedua kakaknya. Akhirnya Lukas diizinkan ikut test di Univeritas Katolik Parahyangan Bandung. Dengan catatan, bila tidak diterima dirinya harus bersedia ke Amerika.
“Saya memang agak nakal, suka balap motor. Orang tua khawatir kalau di Amerika tidak satu kota dengan koko dan cici (kakak perempuan-red), tidak ada yang mengawasi. Beruntung saya diterima di Unpar, jadi tidak perlu kuliah ke Amerika. Saya pikir kuliah di Amerika atau di sini sama saja,” ujar pria berusia 45 tahun ini.
Naluri bisnis Lukas rupanya setajam pukulan smash ke bidang permainan lawan. Ketika masih duduk di semester delapan sudah mengerjakan proyek dari Pertamina. “Saya menyusun skripsi sambil mengerjakan proyek di Balongan,” ujarnya. Ia mengaku bukan mahasiswa cerdas, tapi memaksakan dirinya mengikuti mahasiswa cerdas yang lulus empat tahun dengan IPK tinggi. Ia rela tidak kongkow-kongkow di kampus bersama teman-temannya karena ingin cepat selesai kuliah.  “Mungkin yang lulus 4 tahun, saya yang paling bodoh,” ujar ayah dua anak ini.
Berangkat dari Kontraktor
Tonggak sejarah Lukas membangun bisnis dimulai tahun 1994 sebagai kontraktor dengan membangun rumah, ruko, rumah sakit. Tahun 1997 mulai dibentuk PT Maju Gemilang Mandiri (MGM) dengan bisnis utama sebagai kontraktor. Tangan dingin Lukas mampu membawa MGM melewati badai krisis tahun 1997. Bahkan,  melebarkan sayap membentuk berbagai unit usaha kontraktor menangani berbagai bidang pekerjaan. Mulai dari pemasangan granit, keramik, pemasangan kaca dan alumunium, menangani interior dan furniture, mekanikal dan elektrikal sampai wooden houses, gazebo dan divisi khusus untuk proyek rumah tinggal mewah.
Cukup menarik dengan strategi Lukas masuk ke berbagai bidang pekerjaan. Menurutnya, ia ingin semua bisa dikerjakan. Tidak hanya satu bidang pekerjaan kontraktor. “Filosofi kita adalah one stop shopping, karena biasanya kontraktor hanya mengerjakan satu bidang. Saya ingin semua bisa dilakukan,” ujarnya. Tidak heran dalam perkembangannya MGM Group memiliki delapan anak perusahaan dengan berbagai spesialisasi, termasuk developer.  
Tahun 2008, saat Indonesia mengalami krisis ekonomi, Lukas justru melakukan langkah berani dengan masuk sebagai pengembang dengan proyek pertamanya landed house. Menurutnya, dengan 14 tahun di bidang kontraktor, dirinya sudah tahu betul bagaimana membangun, mengerjakan, dan memasarkan properti.  “Ketika masuk ke developer, saya bersyukur karena memiliki latar belakang sebagai kontraktor yang cukup matang,” ujar Lukas, yang tetap mengikuti perkembangan bulu tangkis di tanah air.
Entah kebetulan atau tidak, langkah Lukas masuk ke bisnis  justru saat Indonesia sedang masuk ke pusaran krisis ekonomi. Tahun 1997 ketika mendirikan MGM, Indonesia sedang diterpa krisis finansial yang hebat. Hampir semua pengembang kolaps. Kalaupun ada yang bertahan ibarat diberi infus di tangan. Begitu juga ketika memulai sebagai pengembang tahun 2008, Indonesia memasuki krisis ekonomi walaupun tidak separah tahun 1997. “Saya melewati krisis ekonomi tahun 1997 dan 2008 dengan aman,” ujarnya.  
Menurut pria yang memiliki filosofi “There is nothing impossible” ini, perusahaannya lolos dari terpaan krisis ekonomi saat itu karena tidak memiliki pinjaman di bank. Ia berani mengerjakan  proyek tanpa pinjaman dari bank alias memakai dana sendiri. Tetapi justru ini menjadi kunci keberhasilannya melewati krisis. Faktor lain adalah kemampuannya membangun hubungan yang baik dengan semua pihak. Ketika dalam kondisi krisis ekonomi, dan perusahaan tetap berjalan, ini menumbuhkan kepercayaan yang makin besar terhadap proyeknya.
Itu sebabnya, ketika pengembang lain sedang mengalami kesulitan di tahun 2008, dirinya justru banyak melakukan pembelian tanah untuk landbank. Tahun 2008 landbank-nya tersebar di berbagai lokasi sampai ke Bali. Bahkan, sempat melakukan jual beli tanah. Adapun lahan yang bagus dipertahankan untuk dikembangkan di kemudian hari. Salah satunya apartemen B Residence di BSD City.

Feeling yang Kuat
Tidak banyak pengusaha yang mengaku kerap mengambil keputusan karena berdasarkan feeling yang muncul. Maklum, feeling lebih karena perasaan hati yang muncul ketika memikirkan sesuatu yang harus diputuskan. Tetapi Lukas tidak sungkan mengakui sejak berbisnis banyak mengandalkan feeling saat mengambil keputusan. Menurutnya, dalam bisnis terkadang faktor feeling begitu kuat dan kadang-kadang penting. Ia mengaku kalau feeling sudah kuat, tidak ragu untuk  melakukan sesuatu, termasuk ketika memutuskan membangun apartemen B Residence di BSD City.  
“Mungkin feeling saya bisa 90 persen, saya jarang melakukan fit and proper dan  due diligence. Saya sudah menjalankan bisnis sejak tahun 1994, selama itu feeling sudah banyak terjadi. Feeling itu kata hati. Artinya, kita tidak boleh melawan kata hati. Tapi memang ke depan harus dilengkapi dengan due diligence (saat mengambil keputusan-red),” ujarnya.
Pria yang punya motto hidup “Should be outstanding life” ini yakin semua orang punya feeling. Bisa karena faktor religius atau pengalaman hidup seseorang. Semuanya berkolaborasi. Itu sebabnya, Lukas  selalu terbuka terhadap usulan atau ide anak buahnya hanya berdasarkan feeling mereka. Walaupun tetap akan ditanya apa penjelasan atau argumentasi dari feeling yang muncul. “Kalau make sense dengan feeling saya, maka akan saya ikuti ide dari anak buah. Prinsip saya adalah nakhoda itu harus satu,” ujarnya.
Di usia yang relatif masih muda, 45 tahun, Lukas sudah melepas posisinya sebagai direktur utama di MGM Group, dan selajutnya duduk sebagai komisaris utama. Walaupun dirinya tetap memegang perusahaan, Lukas sudah mempercayakan mereka yang dulu menjadi anak buahnya untuk menjalankan beberapa bisnis MGM Group dan beberapa bisnis lainnya yang merupakan kerjasama usaha dengan pribadi. Mereka ini yang berdasarkan feeling merupakan orang-orang yang memiliki integritas, loyalitas untuk mendapatkan kesempatan memiliki saham perusahaan.
Di delapan perusahaan di MGM Group semua karyawannya sudah punya saham. “Loyalitas dan integritas sangat penting bukan sekadar pintar. Kalau pintar boleh urutan ketiga. Saya berharap jago kerja juga. Tapi di atas jago, tetap integritas dan loyalitas,” ujar Lukas.
Bahkan, di MGM Propertindo yang merupakan anak usaha dari MGM Group, yang saat ini dipegang sendiri oleh Lukas sebagai Direktur Utama, sudah disiapkan tim-tim inti yang nantinya menjadi pimpinan. Termasuk memiliki saham di MGM Propertindo. “Saya punya mimpi dari semua share saham saya di holding, siapapun yang berprestasi nanti akan masuk sebagai pemegang saham. Kita berikan sebagai reward. Saya senang memberikan saham kepada karyawan yang punya integritas, loyalitas dan jago (kerja-red),” ujar Lukas.  [Hendaru] .

You have no rights to post comments