Johanes Mardjuki President Director PT. Summarecon Agung Tbk

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

JOHANES MARDJUKI

President Director PT. Summarecon Agung Tbk

Disiplin dan pantang menyerah yang diperolehnya dari olahraga bulutangkis semasa kecil, mengantarkan karirnya ke pucuk manajemen salah satu perusahaan properti terbesar di tanah air.

Bagaimana Anda memulai karir di properti ?

Saya mulai bergabung ke Summarecon sekitar 20 tahun yang lalu atau tepatnya 1 juli 1993. Mula-mula di posisi Internal Audit Manager. Tiga tahun di posisi itu, saya diangkat menjadi Personal Asisstant President Director. Kebetulan Direktur Utama waktu itu founder kami Bapak Sucipto Nagaria. Saya belajar banyak selama menjadi Personal Assistant, karena setiap kali beliau rapat saya ikut, beliau negosiasi saya juga ikut. Saya belajar bagaimana bernegosiasi, bagaimana berunding dengan klien.

Dua tahun kemudian, saya diangkat menjadi Corporate Secretary. Kalau di perusahaan Tbk. (go public - red), tugas posisi ini untuk melayani investor dan mengatur pertemuan. Di bawah saya ada divisi media relation dan public relation, sehingga saya terbiasa berhubungan dengan media. Pada tahun 2003, perusahaan mempercayakan jabatan Direktur Keuangan kepada saya. Baru kemudian pada tahun 2006 menjadi Direktur Utama. Kalau dihitung sampai sekarang sudah delapan tahun saya jadi Direktur Utama.

Sebelum bergabung di Summarecon, apakah pernah bekerja di perusahaan lain ?

Summarecon adalah awal saya berkecimpung di dunia properti. Sebelumnya saya bekerja selama 14 tahun di Grup Garuda Mas, sebuah perusahaan manufacturing di bidang plywood. Waktu itu saya kuliah sambil kerja. Posisi terakhir saya sebagai Direktur Keuangan.

Bagaimana Anda bisa bergabung dengan Summarecon?

Kebetulan waktu itu divisi internal audit baru saja dibentuk di Summarecon. Sepupu saya yang kebetulan sudah bekerja di Summarecon memberitahu lowongan tersebut. Saya dipanggil dan di-interview pertama kali langsung oleh Direktur Utama Bapak Sucipto, kemudian baru oleh Board of Director. Saya mengikuti proses penerimaan karyawan sebagaimana mestinya.

Apa yang membuat Anda yakin dan tertarik dengan Summarecon ?

Saya kebetulan tinggalnya di Kelapa Gading. Saya melihat Kelapa Gading suatu daerah yang dulu biasa-biasa saja tapi setelah sekian tahun berubah jadi suatu daerah yg luar biasa. Saya pikir pasti ada suatu yang luar biasa yang membuat Kelapa Gading seperti itu.  Makanya waktu ditawarkan bergabung di Summarecon (Pengembang Kelapa Gading - red) saya langsung tertarik. Terbukti memang...cepatnya pertumbuhan di Kelapa Gading.

Dulu di Kelapa Gading baru ada pasar, tahun 2000 mall sudah dibangun, lalu ada sport club sehingga orang-orang betah seolah-olah ada second home, belum lagi jalannya besar dibandingkan perumahan-perumahan lain waktu itu.

Saat ini apa yang menjadi konsentrasi Summarecon? Jenis pengembangan apa yang menarik ?

Summarecon itu pengembang township jadi kami membuat satu kota yang lengkap fasilitasnya dalam suatu kawasan. Ada perumahan, ada komersial, pusat perbelanjaan, pusat olahraga, sarana pendidikan.

Sampai sekarang sudah ada tiga kawasan proyek besar. Pertama ada Kelapa Gading yang mulai dikembangkan tahun 1976, kedua di Summarecon Serpong di Serpong tahun 1993. Dulu namanya Gading Serpong, kami join dengan grup besar lainnya. Tapi tahun 2004 kami sepakat untuk membagi wilayah dan memakai nama Summarecon Serpong untuk kawasan kami. Dan satu lagi di Bekasi.

Apa yang paling berat dalam perjalanan di bisnis properti selama ini ?

Ketika krisis moneter tahun 1998, yang namanya properti menjadi kebutuhan yang kesekian. Karena waktu itu orang sibuk beli Dollar, sibuk taruh deposito, rakyat kecil sibuk cari sembako. Jadi waktu itu hampir tidak jualan sama sekali. Waktu itu kami semua berpikir kami harus sama-sama satu perahu. Bersama-sama, mulai dari owner, kita semua bersatu dan seminim mungkin PHK karyawan. Kalau tidak perlu ya gak usah. Kalau sudah usia pensiun baru kami pensiunkan, kalau belum ya.. tidak. Kami minta mereka tetap stay.

Gaji dipotong dari level atas sampai bawah termasuk gaji saya juga. Kerja jadi 4 hari saja (seminggu -red) dan itu berlangsung hampir dua tahun. Kami semua bertahan hidup, ikat pinggang, efesiensi dimana-mana sampai foto copy saja kami pakai bolak-balik ha..ha..ha... Jualan rumah paling satu-dua yang laku. Kebersamaan kami jadi kuat karena sama-sama dalam kondisi yang sama. Itu semua bentuk loyalitas...

Dan yang penting kewajiban kami dengan bank tetap jalan. Kami gak pernah nunggak. Banyak orang yang menertawai kami waktu itu, mereka bilang “ngapain lunasin cepat-cepat ?“. Sementara yang lain makin lama mengulur waktu, makin besar discount yang mereka dapatkan karena kebijakan hair-cut utang waktu itu. Kami bilang gak apa-apa, karena jaminan bisa cepat kami pegang kembali.

Ketika krisis lewat, kami yang paling siap di banding pengembang yang lain, karena SDM kami yang paling siap, barang juga ready. Alhasil penjualan waktu itu sangat signifikan.

Dalam karir Anda, siapa yang paling berjasa?

Di keluarga, pendorongnya tentu istri saya. Dia penyemangat saya, tempat saya curhat kalau ada masalah. Kelima anak saya juga jadi penyemangat. Saya bekerja dan berkarir juga untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dan tentunya Bapak Sucipto Nagaria yang telah  memberi saya kesempatan untuk maju. Beliau betul-betul membimbing saya, dan saya belajar banyak dari beliau.

Apakah ada hambatan/halangan dalam perjalanan karir Anda ?

Hmmm... Tentulah namanya hambatan ada saja... Tapi bagi saya itu merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk membuktikan bahwa kita mampu melewatinya. Karena orang bilang ” Kapten yang hebat adalah Kapten yang sudah mengarungi lautan yang penuh badai, kalau masih di sungai saja berarti belum teruji ”.

Apa pengalaman atau tahap terberat yang pernah Anda alami secara pribadi ? Bagaimana Anda bisa bangkit ?

Tahun 1998, selain perusahaan saya mengalami masalah, perusahaan istri saya di bidang boneka home industry juga mengalami masalah, boleh dibilang bangkrutlah. Waktu itu utang lebih besar dari aset, supplier tidak bisa dibayar, gaji karyawan sekitar 120 orang juga tidak bisa dibayar, sampai akhirnya perusahaan itu tutup. Benar-benar berat waktu itu. Ya...kami semua harus percaya untuk bersama-sama melewati masa sulit tersebut.

Apa pengalaman yang paling menyenangkan atau yang membahagiakan selama ini ?

Saya senang kalau semua orang membeli rumah di Summarecon ha..ha..ha.

Saya senang pertama kali bisa beli rumah di Summarecon tahun 2003 dan sampai sekarang masih saya tempati dengan keluarga.

Adakah obsesi Anda yang masih ingin dicapai di perusahaan ?

Di setiap kota besar di Indonesia harus ada mixed use development atau kota terpadu. Campuran perumahan, pusat perbelanjaan, apartment, hotel, office. Sekarang ini baru ada tiga, yakni Summarecon Kelapa Gading, Summarecon Serpong, dan Summarecon Bekasi. Rencananya akhir tahun ini mulai launching di Bandung sekitar 200 hektar.

Adakah obsesi Anda yang masih ingin dicapai secara pribadi ?

Saya tidak muluk-muluk, saya mau hidup saya seimbang antara pekerjaan, keluarga, dan pelayanan (Gereja - red). Saya berharap bisa berbagi waktu dengan baik. Kalau lagi libur saya mewartakan firman ke daerah-daerah. Saya sangat mendambakan waktu-waktu seperti itu.

Bagamana tanggapan anda mengenai kepemilikan asing ?

Saya rasa sudah waktunya Indonesia mulai membuka (kepemilikan - red) untuk asing, karena menurut saya tidak ada ruginya. Propertinya tetap disitu kok tidak bisa dibawa lari kan... Dengan banyaknya orang asing yang tinggal dan beraktivitas disini, mereka bisa create ekonomi dan mendatangkan devisa. Tapi tetap diberi pembatasan, misalnya orang asing hanya bisa membeli apartemen di atas dua miliyar dengan pajak yang lebih tinggi, agar yang kecil bisa kebagian.

Negara-negara yang lebih kecil dari Indonesia seperti Vietnam dan Kamboja, sudah membuka untuk asing, begitu juga China padahal China negara Komunis. Kenapa Indonesia harus takut ? Sekarang ini sistem kepemilikan asing di Indonesia masih kurang menarik karena statusnya masih hak pakai dan dibatasi 30 tahun walaupun bisa di perpanjang. Sementara di negara lain seperti Singapura dan Malaysia bisa 99 tahun dan China 70 tahun.

Harapan Anda untuk properti tanah air ?

Kita harus tetap mengutamakan kualitas, karena bagaimanapun itu sangat penting, apalagi menjelang pasar bebas ASEAN 2015 dimana asing sudah tidak dibatasi lagi. Singapura dan Malaysia dalam hal kualitas mereka jauh lebih bagus dari kita. Kalau tidak mau ditinggalkan oleh pasar, kita harus benar-benar memperhatikan hal itu. Bukan hanya kualitas bangunannya tapi lingkungannya juga, infrastruktur yang pro-green, dan lain-lain.

Apakah hobi Anda ?

Dulu hobi saya bulutangkis dari kecil, sempat juara DKI double dan single. Waktu itu usia saya 12 tahun dan akhirnya berhenti setelah mulai sibuk kerja. Tapi saya masih suka nonton pertandingan sampai sekarang, apalagi Thomas Cup. Kemudian saya main Tennis dan sekarang olah raga saya Golf. Tapi dari bulutangkis saya belajar disiplin dan mental pantang menyerah. Dan itu terbawa sampai sekarang di pekerjaan.

Dengan kesibukan Anda, bagaimana anda membagi waktu dengan keluarga ?

Berusaha seimbang. Waktu kerja benar-benar kerja. Senin sampai Jumat saya gunakan untuk kerja. Sedikit waktu memang untuk di rumah, tapi saya maksimalkan waktu sedikit itu untuk istri dan anak-anak. Jadi saya gunakan waktu yang berkualitas. Sabtu dan Minggu saya gunakan untuk keluarga dan pelayanan.

Apakah ada keluarga Anda yang terobsesi dengan bidang properti juga dengan melihat kesuksesan yang telah dicapai ?

Sampai sekarang belum ada sih...Mereka masih sibuk sekolah dan belum tertarik di properti.

Hal-hal lain yang ingin di sampaikan ?

Properti itu bisnis kepercayaan, bisnis jangka panjang. Sangat penting untuk menjaga komitmen. Kita harus berusaha semaksimal mungkin men-deliver apa yang sudah kita janjikan. Kepercayaan sifatnya jangka panjang. Dari situ kita bisa dapat hasilnya. Seperti Summarecon orang sudah bisa lihat hasilnya. (Ron)

Senin, 21 April 2014

You have no rights to post comments