Stres dan Sold Out

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Andy K. Natanael

Presiden Direktur PT. Mitra Sindo Sukses
Jakarta Garden City, Jakarta Timur

Terik mentari yang membakar, seakan sirna tatkala memasuki kawasan alam perumahan Jakarta Garden City (JGC). Angin sepoi dari balik rimbunnya pepohonan dalam kawasan perumahan seluas 370 hektar di bilangan Cakung, Jakarta Timur, seolah pertanda keramahan alam sisi Timur Jakarta menyambut setiap orang yang datang. Tim Property and The City yang menyambangi JGC berjulukan “Kota Mandiri” ini pun kian terkesima dengan tata kota yang mengedepankan alam sebagai paru-paru kehidupan bagi penghuninya.

Lengkaplah sudah ketika sosok ramah menghampiri tim yang telah menunggunya di salah satu sudut ruangan Clubhouse JGC. “Maaf sedikit lama menunggu. Ternyata tamu Amerika tadi cukup banyak bicaranya. Bahkan saya hampir tak berdaya menghentikan pembicaraannya,” demikian Andy K. Natanael - sosok sukses di balik Jakarta Garden City - membuka pembicaraan siang itu.

Namanya memang tak asing, apalagi di jagat properti nasional. Ia kerap menghiasi beberapa media nasional dengan sederet prestasi memukau. Bahkan, marketer sejati ini pun kian santer dengan julukan “Si Pemasar Properti Super Cepat”. Di sela kesibukannya sebagai Presiden Direktur PT. Mitra Sindo Sukses, pengembang dari JGC, Andy tak sungkan membagi kisah inspiratifnya dengan harapan semakin banyak orang mengikuti jejak sukses pria kelahiran Lampung, 1 Maret 1971 ini.

Seakan tak percaya, sukses yang kini ia raih bermula tak sengaja di tahun 1990. Ajakan dari teman seangkatan di semester 3 Fakultas Ekonomi, Universitas Tarumanagara, mulai ia tekuni, meski tak sepenuh hati. “Awalnya saya ingin ke arsitek. Tapi atas saran paman saya, akhirnya saya ke ekonomi. Saya rasa ini jalan Tuhan, akhirnya kembali juga ke properti kan,” katanya sumringah.

Meski coba-coba, Andy memilih untuk fokus pada pekerjaannya tersebut. Sebagian besar waktunya habis untuk menjual hunian di proyek town house di kawasan Cibubur. Dari situ, karirnya pun melejit dari sales promotion boy, sales executive, sales supervisor, sales manager, marketing manager, general manager, assistant director, director, hingga president director. Beberapa perusahaan properti terkemuka pernah ia sambangi. Antara lain, Summarecon Serpong, Paramount Land Serpong, juga pernah bergabung di grup Sinar Mas Land.

Fokus dan konsisten. Inilah yang menjadi salah satu kunci sukses putra pertama dari tiga bersaudara ini. Sejak awal, properti menjadi satu-satunya bidang usaha yang ia geluti, hingga pasang surut perkembangan properti pun fasih dimata bapak dua anak ini.

“Maju-mundur bisnis properti sudah saya lewati. Sampai krisis moneter dengan kondisi bunga mencapai 70 persen saat itu,” ceritanya.

Sejatinya Andy punya alasan kuat, properti menjadi satu-satunya bidang bisnis yang ia tekuni. Pasar properti yang tak pernah mati, ditambah untung menggiurkan dari bisnis ini. “Semua orang pasti butuh rumah. Bisnis ini tidak akan pernah mati, bahkan naik terus. Jadi sebetulnya paling gampang sekali kalau kita mau menjual rumah,” papar Andy.

Berani Tampil Beda

Kemajuan pesat di ranah bisnis properti telah dialaminya sejak tahun 1992. Hanya dalam waktu dua hari, Andy dan Panangian Simanungkalit - salah satu tokoh properti nasional - berhasil memasarkan 3,5 tower apartemen di Surabaya, Jawa Timur, melampaui target satu tower.

Ternyata ada rahasia dibalik itu. Andy bilang, dia berani tampil beda dalam ajang pameran tersebut. Meski di saat bersamaan dengan kompetitor lainnya, Andy melakukan terobosan dengan membuat show unit di ballroom.

Strategi inilah yang kemudian berhasil mendongkrak penjualannya dalam waktu singkat. Dan ini pula yang terus dia lakukan pada pameran-pameran properti lainnya. Maka tak heran, Andy mampu mendongkrak penjualan di hampir semua perusahaan yang pernah dia singgahi. Sebut saja di Paramount Serpong yang meningkat lebih dari Rp1 triliun dalam waktu satu tahun.

Meski demikian, bukan berarti tanpa aral dalam menggeluti pemasaran properti ini. Jatuh bangun di bisnis ini menjadi pengalaman berharga bagi pria pehobi golf ini, untuk kembali bangkit dan melangkah jauh.

“Saya pernah dibonsai dengan sebuah sistem yang benar-benar mengunci kreativitas saya. Saat itu saya down juga. Tapi akhirnya, saya keluar dari perusahaan tersebut dan mulai melangkah lagi,” jelasnya.

Usaha dan kerja kerasnya itu diyakini sebagai campur tangan Sang Pencipta. Karirnya kian menanjak diiringi penjualan yang kerap melampaui target. Bahkan setiap proyek yang ia tangani cepat berpindah ke tangan konsumen hanya dalam satu hari. Inilah yang kemudian membuat PT. Modernland Realty Tbk. meminangnya Agustus 2010 silam. Terbukti, sebanyak 119 rumah seharga Rp 300 juta hingga Rp 700 juta di Klaster Havana Perumahan Kota Modern, Tangerang, habis terjual dalam sehari. Adapun Modern Town Market yang 90% laku dalam sehari atau The Golf Residence dan Grand Golf yang terjual 80% dalam waktu sehari saja.

“Kalau saya membuat sebuah produk, kira-kira saya sendiri mau membelinya atau tidak. Jadi saya menempatkan diri saya sebagai konsumen. Setelah itu baru membuat konsepnya, harus yang unik, berbeda, dan punya nilai keuntungan bagi konsumen. Jadi sebetulnya yang paling penting adalah unique selling point (USP),” terangnya.

Inilah yang juga diterapkan saat menangani JGC, sejak awal 2014 lalu. Di sini, Andy mampu menjual 350 unit di Mississippi Residences hanya dalam waktu 4 jam. Dan lebih luar biasa lagi, ketika sebanyak 550 unit di Klaster Thames, dengan nilai hampir Rp1 triliun mampu dihabiskan hanya dalam tempo 10 jam.

“Buat apa beli apartemen kalau dengan harga yang sama masih bisa beli rumah. Ini yang menjadi tagline saya saat itu, makanya hanya 10 jam. Dan saya rasa, tahun 2014 untuk penjualan landed house angka itu terbesar,” bebernya.

Terakhir, Klaster La’Seine diluncurkan. Dengan tagline “Cerdas, Cermat, dan Cepat (3 C)” Andy mampu mengumpulkan Rp350 miliar hanya dalam waktu 3 jam saja. Maka tepatlah sudah sang marketer lihai ini dijuluki “Si Pemasar Properti Super Cepat”. Sejak Mei hingga Desember 2014 di JGC, penjualannya telah mencapai Rp1,8 triliun.

One day sold out. Tapi ini menjadi beban bagi saya. Jadi setiap mau launching, saya stres. Jangan sampai tidak sold out,” imbuhnya.

Meski sukses menjadi marketer sejati, satu yang belum tercapai dalam mimpinya. Kini, ia pun berniat menjadi pengembang. Beberapa lokasi di luar kota menjadi bidikannya.

Bandelnya Andy kecil saat sekolah terbayarkan dengan sukses yang menghampirinya. “Karena saya bukan anak orang kaya, maka saya akan bekerja keras dan kerja cerdas untuk menjadi kaya. Itu prinsip saya,” tutupnya.(Jakarta,11/6/2015)

You have no rights to post comments