Novi Imelly

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

NOVI IMELLY Direktur PT. Ronov Indonesia

DOKTER SPESIALIS DAN ‘DOKTER’ PROPERTI

Wanita kelahiran tahun 1970 ini lahir dan besar di kota Medan, Sumatra Utara. Sang Ayah adalah seorang politisi dan sang Ibu adalah ibu rumah tangga. Novi Imelly yang terlahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara telah tertarik pada dunia properti sejak kecil. Saat bangku sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas, dirinya sering berlibur ke Jakarta bersama keluarga. Ada kesenangan yang selalu dinantikan Novi, di era tahun 80-an ruas Jalan Thamrin dan Sudirman adalah kawasan yang sedang berkembang dan mulai banyak gedung bertingkat. Dirinya mengaku senang mengamati bangunan vertikal dengan beragam bentuk tersebut. “Saya amati satu persatu gedung-gedung itu, bahkan terbersit untuk berkantor di salah satu gedung tersebut,” jelas Novi sambil tersenyum.

Maka saat ingin masuk bangku kuliah, Novi memilih jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun pilihan ini sempat mendapat penolakan dari keluarga besarnya yang kebanyakan berprofesi sebagai dokter. Namun sang ayah saat itu memuluskan niat Novi untuk menentukan pilihannya sendiri. Dan terbukti karirnya yang moncer di bidang properti membuat mata keluarganya terbuka. Apa pun pendidikan, profesi yang dijalani tentunya semua ingin bermuara pada kesuksesan, asalkan dikerjakan dengan hati dan kerja keras.

Setelah melanglang buana di beberapa perusahaan properti besar, kini Novi pulang ke ‘rumah’, kembali ke perusahaan yang didirikan bersama suaminya, Ronaldo Maukar pada 2007 silam, yaitu PT. Ronov Indonesia, yang tidak lain adalah singkatan dari nama mereka. PT. Ronov Indonesia yang dulu bergerak dalam urusan konsultan properti kini telah menjelma menjadi developer dengan proyek perdananya bernama Intermark Serpong, Banten bekerja sama dengan Grup Rakyat Merdeka dengan bendera PT. Merdeka Ronov Indonesia.

Berikut petikan obrolan dengan Novi Imelly yang diselingi dengan sesi pemotretan yang berlangsung hingga lebih dari 3 jam di kantor marketing gallery Apartemen Lexington Residence, Jl. Deplu Raya, Jakarta Selatan, pada tengah Desember tahun lalu.

Gedung dan bangku kuliah sepertinya menjadi cikal-bakal dalam memasuki dunia properti?

Mungkin bisa dikatakan begitu. Keduanya menjadi panggilan hati dalam meniti karir yang diikuti oleh keinginan mempelajari pendidikan terkait properti. Namun saat itu keluarga besar, mulai dari sepupu hingga ke cucu yang berjumlah lebih kurang 30 orang hanya 5 orang yang tak menjadi dokter selebihnya dokter. Bahkan kalau dilihat dari generasi di atasnya, jumlah keluarga yang menjadi dokter mencapai 70 orang. Komplit, mulai dari dokter kandungan, jantung, THT, dan lainnya ada di keluarga saya, bertebaran di Kota Medan. Jadi mindset keluarga sudah terbentuk harus menjadi dokter. Tapi saat itu saya tidak mau, ada pertentangan di hati. Bahkan ada yang mengatakan sambil bercanda, awas kalau susah tanggung sendiri ha..ha..ha.

Bagaimana cara membuktikan kepada mereka terkait pilihan pendidikan tersebut?

Ayah yang seorang politisi dengan ritme dinamisnya membuatnya memiliki sudut pandang berbeda dan mendukung keinginan saya untuk memilih jurusan yang dipilih asal dilakukan dengan serius dan sepenuh hati. Saya pun diterima di Institut Teknologi Bandung (ITB). Di bangku kuliah saya membuktikannya dengan beberapa prestasi, seperti menjadi peserta penataran P4 terbaik tingkat nasional. Kemudian Putri Kampus Nasional 1993 dan mahasiswa teladan ITB dan Nasional 1993.

Kapan pertama kali bekerja?

Kuliah selesai tahun 1994. Dan langsung bekerja di Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional). Namun passion saya sepertinya tidak di Bappenas, jadi hanya bertahan setahun, mungkin kalau saya teruskan bisa jadi pegawai negeri. Kemudian pindah di perusahaan konsultan properti namun hanya bertahan setahun juga. Saat itu saya berpikir untuk mencari kerja yang lebih menantang. Karena di konsultan hanya melakukan analisa dan riset saja tidak mengaplikasikan apa yang saya pelajari. Terpikir untuk bekerja di perusahaan developer dan bergabunglah di proyek BSD (Bumi Serpong Damai) yang dahulu merupakan proyek dari beberapa perusahaan properti.

Posisi pertama kali bekerja di kantor developer sebagai apa?

Di BSD, saya di tempatkan di biro direksi dan pengembangan usaha. Ini bagi saya menjadi edisi curi ilmu. Karena saat itu jumlah direksi yang lebih dari 5 orang berada dalam satu ruangan besar dan saya berada di dalamnya walau hanya staf biasa. Namun ini membuat ilmu dan pengetahun bertambah karena mereka sering diskusi bersama sambil makan dan lainnya. Sayang saat itu krismon (krisis moneter - red) terjadi tahun 1998, mereka seperti melupakan BSD untuk sesaat dan konsen dengan proyek masing-masing. Padahal saat itu sedang senang-senangnya bekerja dan sudah masuk tahun ke empat. Saya pun pindah ke Lippo Karawaci, Tangerang. Kepindahan ini saya rencanakan karena melihat kepandaian Lippo Group dalam mengembangkan proyek di Karawaci tersebut. Mereka membangun fasilitas dahulu, mulai dari sarana pendidikan, perkantoran hingga lifestyle dan baru perumahannya. Selama tiga tahun saya menjadi asisten Bapak James Riyadi dan setelah lima tahun bekerja saya harus keluar dari Lippo karena menikah dengan teman sekantor (tersenyum).

Ada pengalaman menarik di perusahaan besar?

Ya banyak tentunya... Saya juga sempat bekerja di Summarecon Serpong namun hanya sebentar dan kemudian berlanjut ke Modernland, di Cikokol Tangerang. Saat pindah ke Modernland tahun 2003 sebagai managing director, kondisi mereka saat itu sedang drop, sedang sulit berkembang. Dan banyak yang bertanya kenapa ke Modernland, saya hanya berargumen bahwa Modernland merupakan raksasa yang sedang tidur, lokasi mereka bagus dan juga memiliki produk yang juga bagus.

 

Pertama saya masuk pendapatan mereka hanya Rp 30 miliar per tahun dan setelah 5 tahun disana pendapatan pertahunnya sudah bisa mencapai Rp 500 miliar. Salah satu keberhasilan saat itu adalah mengembangkan aset apartemen yang terbengkalai karena krismon. Kalau diratakan maka akan mengeluarkan biaya miliaran juga, akhirnya kita sulap menjadi rusunami (rumah susun sederhana milik - red) yang saat itu merupakan program pemerintah. Dan ini menghasilkan revenue ratusan miliar bagi perusahaan.

Kenapa pindah ke Cowell?

Setelah lima tahun bekerja di Modernland dan seiring berubahnya waktu saya merasakan banyak berada di perusahaan besar. Dan sempat bertanya, apakah bisa bekerja di perusahaan yang belum terlalu dikenal. Makanya memilih Cowell Development dan banyak orang melihat perusahaan ini hanya Villa Melati Mas saja. Padahal proyek mereka ada Serpong Terrace yang juga berada di Serpong dan ini menjadi tantangan karena kebanyakan proyek di kawasan tersebut harganya saat itu rata-rata Rp 1 miliar ke atas. Bagaimana dengan masyarakat kelas menengah yang ingin memiliki rumah? Untuk itu saya merubah konsep, bangunan dan ukuran tanah diperkecil sehingga harga sesuai dengan kebutuhan kelas menengah, mulai dari Rp 300 jutaan/unit. Secara profit ini sama saja, malah dari kecepatan penjualan lebih cepat dan pasarnya gemuk.

Sepertinya banyak kiprahnya di Cowell?

Di 2009 Cowell Development memiliki lahan di Balikpapan, Kalimantan Timur. Lokasinya strategis, hanya 5 menit dari Bandara Internasional Sepinggan, Balikpapan. Saya melihat peluang. Di Balikpapan saat itu developer besar sudah banyak masuk dan menyasar kelas atas sedangkan kelas menengah bawah kebanyakan di pinggiran kota. Proyek yang bernama Borneo Paradiso tersebut harganya mulai dari Rp 100 jutaan dan mendapat respon positif masyarakat. Saat penjualan perdana dalam sehari terjual 101 unit dan rencananya proyek ini kita kembangkan selama 10 tahun namun dalam waktu 1,5 tahun kita berhasil memasarkan 6 cluster dan selesai dalam waktu 6 tahun lebih cepat 4 tahun. Ini bukti dari  kekuatan dan  kemampuan kita dalam melihat pasar.

 

Selanjutnya kita bangun Apartemen Westmark di Tomang, Jakarta Barat terdiri dari 600 unit eksklusif. Karena jumlahnya terbatas, memberikan kenyamanan bagi penghuni dan tidak crowded. Kemudian berlanjut ke proyek Oasis Cikarang dan Lexington Residence, keduanya juga menuai hasil positif dalam penjualannya. Paling fenomenal adalah Apartemen Antasari 45 yang kita pasarkan menjelang akhir tahun lalu. Proyek ini dalam sebulan jualannya mencapai 800 unit dan tower pertama yang berisi 900 unit sudah sold out, kita sudah mulai memasarkan tower selanjutnya.

Bagaimana Anda mengelola tim agar menjadi solid?

Saya selalu berpikir, do the best. Bertindak atau melakukan action lebih baik daripada tidak melakukan apa pun sama sekali, karena kita akan tahu kesalahannya, kemudian membangun team work, ini penting karena tanpa ini tak akan berhasil. Cara yang dilakukan adalah memposisikan diri menjadi teman atau pun ibu yang baik bagi tim dengan membuka ruang diskusi hingga curhat sambil makan, karaoke bersama hingga liburan bersama. Ini saya dapatkan ketika bekerja di BSD dan menjadikannya model  dalam membangun hubungan dengan bawahan.

 

Selain itu, yang namanya bisnis tak pernah tidur dan terus berkompetisi. Makanya selalu menggunakan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi). Amati yang dilakukan oleh orang lain dengan cara menganalisa, kemudian tiru segala kebaikannya dengan memodifikasi kekurangannya. Ini seperti bisnis intelijen, maka jangan heran kadang saya berada di proyek orang lain untuk melihat langsung. Tanpa merasakan dan melihat langsung dan hanya mendapatkan laporan saja sepertinya kurang maksimal.

Novi mengaku apa yang dilakukannya seperti cleaning service ketika memasuki sebuah perusahaan. Dirinya selalu berhasrat untuk membesarkannya dengan ditunjang oleh kemampuannya dalam menganalisa pasar. Dari sini dirinya membuka ruang forum group discussion (FGD) bersama anak buahnya. Hasil ini akan mampu mengidentifikasi produk sesuai lokasi dan pasar, tak bisa sesuai selera sendiri. Kemudian proses feasibility study pun dilakukan yang diikuti proses desain, kemudian strategi pemasaran yang dibarengi dengan promosi.

Sinergi ini merupakan kunci Novi dalam menuai sukses dan dirinya mengaku keberhasilan ini adalah kerja tim, bukan dirinya.

Kenapa keluar dari Cowell dan mendirikan perusahaan sendiri ?

Saya sudah di Cowell selama 7, sejak 2007. Saat itu suami saya mendirikan perusahaan sendiri, Ronov Indonesia di bidang konsultan properti dan property agent Ronov Realty. Dan pada 2007 itu juga saya ditarik ke Cowell dan saya menjelaskan pada manajemen bahwa saya juga punya perusahaan, namun mereka tetap meminta saya masuk Cowell. Cowell pun tumbuh hingga proyeknya sudah ada di beberapa kawasan dan dikenal sebagai developer high-rise building.

 

Saya sendiri sudah menargetkan bahwa tahun terakhir itu di 2014 dan baru Februari 2015 saya mulai fokus pada usaha sendiri. Hampir semua profesi dan jenjang karir sudah saya rasakan hingga terakhir di Cowell sebagai presiden direktur. Saya berpikir, sudah cukup karir sebagai profesional dan saatnya membesarkan usaha sendiri.

 

Ada juga perusahaan bidang konsultan property development dan marketing services, bernama BINaRE.  Saya juga merintis proyek rumah menengah bawah di Cisauk dan Medan di bawah bendera PT. Grha Kirana Development. Perusahaan ini merupakan bagian dari kepedulian untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memiliki rumah.

Bagaimana Anda menata keluarga ?

Hemmm… Saya memiliki 3 orang anak dan sejatinya seorang ibu jam 5 pagi saya sudah bangun untuk membuatkan sarapan mereka dengan dibantu asisten rumah tangga (ART). Sengaja tak menyerahkan semuanya pada ART dengan alasan sederhana, mereka anak saya dan ini sebagai bentuk cinta antara orang tua dan buah hatinya. Menurut saya, pagi adalah waktu terbaik untuk orang tua menumbuhkan nilai-nilai positif bagi anak-anak. Memberikan pelukan dan ciuman sebagai tanda kasih sayang. Untuk urusan antar sekolah saya bersama suami melakukan bersama-sama. Bagi kami ini adalah ritual yang penting. Selepas mengantar anak menuju rumah adalah ruang komunikasi dengan suami, berbagai macam obrolan kita bicarakan dari urusan keluarga hingga pekerjaan. Ini suasana yang tak bisa dibeli. Begitu pun saat weekend, sebisa mungkin juga jadi ajang untuk makan siang bersama walau tetap diselingi dengan kegiatan pekerjaan tapi tetap kita sempatkan. Dan khusus untuk sabtu atau pun minggu pagi adalah saatnya me time. Biasanya beredar di pasar modern BSD City, belanja berbagai keperluan dapur adalah sebuah kesenangan dan naluri saya sebagai seorang wanita.

Dan tiap sekali dalam sebulan, Novi dan keluarganya selalu melakukan perjalanan ke luar kota dengan mengendarai roda empat. Berganti kemudi dengan suami adalah kebiasaannya, kota yang dituju hingga ke Surabaya. Beragam kegiatan outdoor dilakukan, seperti berkemah dan lainnya. Kegiatan ini dilakukan mulai Sabtu malam dan pulang pada Minggu sore dengan menggunakan pesawat, sedangkan mobil dijemput oleh supir pribadinya. Sempitnya waktu di tengah kesibukannya ternyata mampu diatasi Novi untuk tetap berinteraksi maksimal dengan seluruh anggota keluarganya.

 

Kehidupannya yang jauh dari profesi dokter sebagaimana yang digeluti saudara-saudaranya ternyata telah membawanya ke pengalaman hidup yang juga bahagia. Tidak seperti dokter lainnya, Novi sekarang layaknya seperti ‘dokter’ properti.

Jakarta, 25/3/2015

 

You have no rights to post comments