×

Warning

Failed deleting sourcerer_php_88bf67fe956530c205744867c14a9dff

×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Eddy Hussy

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

EDDY HUSSY

 

2eddyhussy60

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP)
Real Estat Indonesia (REI) periode 2013-2016

Hidup ini seperti air mengalir. Kita tak pernah tahu apa yang akan kita hadapi di depan. Demikian pula yang dirasakan oleh seorang Eddy Hussy

Terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI) periode 2013-2016, pria kelahiran Tanjung Pinang, 54 tahun yang lalu ini mengatakan dirinya tak pernah menyangka bisa berada di posisinya sekarang.

“Sebelumnya, saya juga tidak pernah mengharap menjadi Sekjen DPP REI, begitu pula jadi Ketua Umum DPP REI. Tetapi ketika ada teman yang mendukung, maka saya coba,” katanya kepada wartawan Property and The City dalam wawancara eksklusif di Kantor DPP REI di Simprug, Jakarta Selatan.

Eddy Hussy bisa dikatakan sebagai salah satu tokoh dibalik perkembangan organisasi pengembang properti di Batam. Pada periode 1999 – 2001—kendati saat itu dirinya belum lama berkiprah di bidang properti—Eddy telah dipercaya menjabat sebagai Ketua Real Estate Indonesia (REI) Korwil Batam. Bersama developer asal Batam lain,

Direktur Utama PT Ekadi Trisakti Mas ini memperjuangkan terbentuknya DPD REI Khusus Batam pada Munas REI 2002 di Jakarta, dan Eddy terpilih sebagai Ketua DPD REI Batam selama dua periode (2002 – 2008).

Eddy ditunjuk sebagai Wakil Ketua Umum DPP REI bidang Hubungan Luar Negeri (2007–2010) dan pada periode 2010 – 2013, didapuk sebagai Sekjen DPP REI. Pada Munas REI ke-14 yang dihelat akhir November lalu, Eddy terpilih menjadi Ketua Umum DPP REI periode 2013 – 2016, mengalahkan pesaing utamanya: Teguh Kinarto.

Rumah Murah Tak Harus Bersubsidi

Rumah murah juga menjadi prioritas REI. Eddy pun menampik anggapan sementara orang yang mengatakan bahwa REI tak lagi membangun rumah murah pasca kenaikan harga bahan bangunan yang disebabkan naiknya harga BBM dan TDL.

“Siapa bilang setelah harga properti naik, REI tak mau membangun rumah murah untuk rakyat? REI masih membangun rumah murah, tetapi harganya tidak sesuai dengan harga patokan dari Kemenpera,” tegas Eddy.

Eddy berharap, pemerintah responsif terhadap perubahan pasar, padahal pemerintah yang menciptakan kondisi pasar.

Sebagai contoh, naiknya harga BBM—yang merupakan kebijakan pemerintah—mendongkrak harga material rumah, tetapi sampai saat ini pemerintah belum memutuskan harga rumah naik.

“Jika harga rumah tidak disesuaikan, maka harga patokan di luar jangkauan pengembang. Jika mengikuti harga patokan pemerintah, maka pengembang akan rugi. Masak pengembang disuruh rugi?” papar Eddy.

Lebih lanjut Eddy mengatakan, rumah murah yang dijual REI masih cukup terjangkau. Harganya pun hanya lebih tinggi Rp 2 juta – Rp 10 juta per unit.
“Dengan kondisi seperti itu pun sebenarnya harga rumah yang kami jual sudah murah. Terbukti, rumah murah yang kami jual cepat sekali terserap pasar,”  imbuhnya.

Menyinggung Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Eddy menyatakan, program ini tidak menarik bagi masyarakat. “Program ini tidak diberi subsidi apa-apa, selain suku bunga KPR rendah dan tetap 7,25 persen selama masa cicilan.

Saat suku bunga KPR komersial hanya 9 persen, tak banyak bedanya; barulah setelah bunga KPR belasan persen seperti sekarang, subsidi bunga FLPP terasa,” jelasnya.
Bagi REI sendiri, katanya, program FLPP merupakan separuh kerja sosial dan bukan hal yang menarik.“Tetapi kami tidak mau meninggalkan itu, karena REI merasa bertanggung jawab terhadap perumahan rakyat,” tukas Eddy.

Menyongsong 2014, REI memiliki target membangun 120 ribu hingga 130 ribu rumah subsidi. Syaratnya, pemerintah harus membebaskan PPN dan PPh lagi para pengembang rumah subsidi.

Dari Kontraktor, Menggeluti Properti

Sejak usia 25 tahun, Eddy Hussy telah menggeluti dunia bisnis sebagai kontraktor alat-alat berat—dibantu saudara iparnya yang warga negara Singapura. Pria kelahiran 22 Juni 1959 ini mengaku, mengenal dunia properti saat menjadi subkontraktor perusahaan BUMN, bahkan sebagian sebagian hasil kerjanya dibarter dengan sebidang lahan. “Dari sanalah saya mulai belajar jadi developer,” akunya.

Memasuki 1995, Eddy masuk ke bisnis properti di Batam dengan membangun rumah sederhana (RSS) dengan harga jual Rp. 9 juta per unit. “Awalnya, saya membuat perumahan dengan skala sembilan hektar,” katanya.
Dia mengatakan, dirinya serius menggeluti bisnis properti, karena sektor ini cukup menjanjikan, meski keuntungannya tidak terlalu besar.“Asal kita (developer-red) bisa bertahan,” urai Eddy, “bisnis ini tak ada ruginya, karena harganya pasti naik, lantaran suplai terbatas, sementara kebutuhan makin banyak.”

Selain berkiprah di REI, Eddy Hussy juga menjadi Ketua Pembina Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) yang banyak melaksanakan kegiatan di bidang sosial. PSMTI memiliki sebuah rumah duka dan sekolah tinggi yakni, Universitas Internasional Batam (UIB). “UIB tergolong sekolah tinggi yang top di Sumatera, dan saat ini UIB memiliki sekitar lima ribu orang mahasiswa,” pungkas Eddy.

Bisnis properti nasional masih menyisakan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Peran REI sangat diharapkan sebagai salah satu penentu kebijakan properti nasional.

Senin, 03 Maret 2014

You have no rights to post comments