Tukang Susu dan Penjual Panci

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

TUKANG SUSU DAN PENJUAL PANCI

 

Andreas Nawawi
Managing Director PT Paramount Enterprise International

“Tukang susu tersebut kerjanya santai tapi memiliki motor dan juga rumah yang besar. Setelah ditelusuri ternyata tukang susu tersebut broker properti”.

Sang Ayah wafat saat Andreas berusia 14 tahun. Andreas muda terpaksa berbagi beban dengan sang Ibu untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Maklum, pemilik nama lengkap Budianto Andreas Nawawi terlahir sebagai anak sulung dari empat bersaudara. Dengan kata lain, dirinya bersedia melakukan apa pun untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga agar tak terpuruk.

Berbagai cara dilakukan, A to Z. Pada tingkat kejenuhan akan kegagalan beberapa usahanya, Andreas bersua dengan tukang susu langganannya yang tiap pagi mengantar susu dengan kuda besinya. Menurut Andreas, tukang susu tersebut kerjanya santai tapi memiliki motor dan juga rumah yang besar. Setelah ditelusuri, ternyata tukang susu tersebut broker properti, susu adalah pekerjaannya di pagi hari.

Dari sinilah Andreas mulai bersinggungan dengan dunia marketing. Akhirnya Andreas ikut dengan si tukang susu, berboncengan motor, berkeliling mencari unit rumah atau tanah yang akan dijual untuk dipasarkan. Dirinya pun membagi ilmu broker ini pada sang ibu dan kembali membangun jaringan dengan teman ayahnya. Setelah beberapa kali proses, akhirnya kerja keras Andreas bersama sang ibu berbuah hasil. Komisi yang didapatkan kemudian dibenamkan untuk membeli rumah mungil untuk investasi. Dan juga membeli sebuah radio tape yang sudah lama diimpikan Andreas dan adik-adiknya.

Pengalaman ini masih terekam dengan jelas saat pertanyaan pertama kami luncurkan, terkait dunia marketing. Dalam industri properti nama Andreas terbilang harum karena keandalannya dalam memasarkan produk properti. Dari sinilah Andreas mengaku guru pertamanya yang mengajarkan ilmu marketing adalah si tukang susu. Obrolan lain pun mengalir deras dari lelaki berbadan tinggi besar ini. Mulai dari perjalanan hidup, karir, dan sisi lain Andreas Nawawi yang saat ini merupakan Managing Director PT Paramount Enterprise International. Berikut petikan wawancara dengan Andreas di ruang kerjanya yang berada di kawasan Paramount Serpong, Banten.

Ada cerita lain terkait ilmu marketing yang diajarkan tukang susu ?

Sepeninggalan ayah mau tak mau saya harus bisa membantu keluarga. Berbagai cara kita lakukan bersama-sama, mulai dari membuat dan menjual kecap, tapi tidak laku. Kemudian, ibu saya yang orang Pekalongan membuat makanan khas daerahnya, berupa opor Pekalongan tapi hasil penjualannya juga tak maksimal. Lalu kita juga memanfaatkan sisa peninggalan ayah berupa angkot namun malah merugi. Akhirnya saya bertemu dengan tukang susu tersebut. Awalnya ibu tak mau, saya meyakinkan dengan berbagai cara agar ibu mau menjadi broker properti. Saya menjelaskan cara kerja dan prosesnya.
Ternyata semua melalui proses, hingga suatu saat kita kembali mendatangi calon pembeli yang urung membeli tanah karena orang tuanya tak setuju. Saya akhirnya kembali ke orang tersebut dan membawa makanan kesukaannya. Akhirnya orang tua calon pembeli tersebut kembali bertanya soal status tanah yang pernah kita tawarkan. Beberapa hari kemudian, saat akan berangkat sekolah, ibu memberikan informasi bahwa keputusan soal tanah akan dilakukan siang hari ini. Di sekolah saya gelisah, akhirnya jam 3 sore dapat kabar bahwa tanah jadi dibeli. Bersama ketiga adik, saya berlari dan menari-nari dan berputar di dalam rumah saking senangnya karena bisa membeli radio tape dari hasil komisi menjual tanah.

Dari sini Anda merasa akan berkarir di bidang marketing ?

Institut Teknologi Bandung dengan jurusan Teknik Mesin dan akhirnya bekerja menjadi kepala pabrik di sebuah perusahaan, lebih kurang 3 tahun. Posisi saat itu bisa dikatakan sudah lumayan, mobil sudah ada. Nah, suatu saat saya berkunjung ke rumah seorang teman yang berkarir di perusahaan elektronik dan merupakan marketing terbaik di perusahaannya. Saat bertemu istrinya saya menawarkan untuk membaca buku yang saya bawa dan akhirnya mau membacanya. Teman tersebut mengaku takjub dengan cara saya meyakinkan istrinya dan mengatakan saya berbakat di marketing.

Selanjutnya terjun di dunia marketing ?

Awalnya tak yakin, namun diberikan penawaran dengan gaji dan fasilitas yang sama. Akhirnya saya mengambil tawaran tersebut, dan melatih marketing untuk memasarkan produk panci kesehatan tanpa minyak. Ternyata jualan sukses, saya hanya melatih membentuk orang untuk memasarkan produk dan saya mulai menikmati dunia marketing.

Dan pada tahun 1992, saya bertemu dengan Bapak Eddy Sindoro (Chairman PT Paramount Enterprise International) dan memperkenalkan saya kepada Bapak Mochtar Riady (Founder Lippo Group). Beliau kaget setelah tahu saya bekerja di perusahaan panci dan sukses berjualan. Kemudian bertanya lagi bagaimana cara saya berjualan dan beliau kaget karena cara saya memasarkan panci tersebut dengan menggunakan 5 ribu orang ibu-ibu yang tersebar di berbagai wilayah.

Akhirnya bergabung dalam industri properti ?

Tidak juga, karena awal bergabung dengan Lippo Group saya masuk di bank milik mereka. Namun hanya 7 bulan karena saya ditantang untuk menangani proyek Lippo Cikarang. Pertama kali lihat proyek ini memang tak masuk akal, lokasinya jauh dari Jakarta. Bahkan sebagian orang mengatakan Cikarang tempat jin buang anak, saya diberi target sebulan menjual 300 unit rumah. Puji Tuhan saya dan tim mampu menjual 1.125 unit rumah.

Bagaimana caranya, saat itu Cikarang belum seperti sekarang loh ?

Tak mudah memasarkannya, apalagi di sana saat itu belum ada produknya, masih tanah kosong, sawah, ilalang, hutan saja. Konsep marketing panci saya gunakan kembali, dengan jumlah jaringan sebanyak 5 ribu orang tentunya sangat membantu dan memudahkan. Awalnya secara bertahap saya mengajak kolega dan kenalan untuk datang melihat ke lokasi. Sambil makan bersama saya menjelaskan, di sebelah sana perumahan, sebelah sini rumah sakit, sebelah sana area komersial. Hari selanjutnya yang datang semakin banyak, ada yang menggunakan bus. Kita pun kesulitan melayani calon konsumen yang datang. Akhirnya kita cari orang di sekitar Cikarang untuk membantu berbagai urusan kita, mulai dari kerjaan admin dan lainnya. Kekuatan kita adalah jaringan marketing yang pernah saya bentuk tersebut, marketing panci.

Artinya passion Anda memang di dunia marketing ?

Pada wawancara radio saya ditanya, pak Andreas passion-nya apa, sales ya ? Spontan saya menjawab, sales bukan passion saya. Tapi pertanyaan selanjutnya menanyakan bahwa beberapa perusahaan yang saya masuki sales-nya menjadi berhasil. Seketika itu juga saya menjawab, passion yang saya miliki adalah membangun manusia, membangun sumber daya.

Andreas mengaku guru marketing pertamanya adalah si tukang susu. Andreas pun mengaku murid pertamanya adalah sang Ibu. Mengumpulkan ribuan marketing untuk memasarkan sebuah produk bukanlah perkara mudah. Sukses dengan produk panci, Andreas pun sukses menjual unit rumah di Lippo Cikarang, hingga ribuan unit dalam waktu sebulan. Kekuatan seorang Andreas ada pada tim yang dibentuknya. Tak mudah membentuk sebuah tim, diperlukan coach yang handal. Tak heran Andreas pun banyak berlabuh di beberapa perusahaan properti papan atas dan mengatrol penjualannya.
Contohnya, seperti apa ?
Sukses seorang marketing adalah terkait penjualan, begitu pun dengan saya. Saya bersyukur memiliki tim yang andal dan mampu bekerja sama. Dari berbagai pengalaman ini membangun, melatih, mendidik manusia adalah passion saya. Bekerja keras, kerja cerdas dengan ikhlas dan bersinergi merupakan anugerah Tuhan. Puji Tuhan, saya menikmati segala proses dan menikmati ombak yang kencang dengan berselancar di atasnya.
Paramount berhasil diangkat penjualannya, bagaimana caranya ?
Semua ini berawal dengan pertemuan kembali dengan Bapak Eddy Sindoro dan akhirnya saya bekerja kembali, padahal saat itu saya sudah berpikir untuk pensiun. Keberhasilan ini karena komitmen bersama dan keinginan untuk menjadi lebih besar. Semoga Paramount menjadi pelabuhan terakhir. Saat bergabung di 2013 aturan LTV (Loan to Value) diterapkan Bank Indonesia. Saat itu beberapa produk siap jual namun tak direspon, kita berpikir ada yang salah. Saya sepakat sebenarnya uang orang Indonesia itu banyak dan besar, tapi takut untuk mengeluarkannya. Saat itu kita sepakat, produk harus mengikuti kemauan pasar dan meninggalkan produk yang biasa kita keluarkan. Nah, kalau sudah berjalan ini akan memudahkan menjual produk lanjutannya. Jangan menggurui pasar, akan menguras energi.
Ada hal lain yang dilakukan, terkait internal ?
Kita harus sepakat dulu, yang dirubah adalah manusianya bukan masalah reward atau gajinya. Karena materi hanya kesenangan sesaat, yang bisa merubah manusia adalah nilai. Karena dalam nilai ada kejujuran, tanggung jawab, dan juga adanya respek. Untuk itu dalam menjual produk kita jangan bohong, konstruksi jangan dikurangi karena kita harus bertanggung jawab, mensyukuri karunia Tuhan dan respek. Karena kalau produk bagus namun marketing-nya sering bohong maka suatu saat akan jatuh. Untuk itu keduanya harus bagus, produk dan SDM. Akhirnya setelah pelan-pelan kita poles dan benahi, semua berubah. Karena nilai yang akan mengubah dan menghadirkan kultur kerja yang baik. Kalau sudah seperti ini apa pun bisa dilakukan, karena senjata hebat ditembakkan oleh penembak yang hebat.
Apa yang ingin dilakukan lagi ?
Saya akan terus membaktikan kemampuan, ilmu yang saya punya. Melalui sekolah yang saya kembangkan, Nurkhasanah Foundation yang fokus pada pengembangan young entrepreneur. Ini sebagai wadah menciptakan anak-anak muda untuk menjadi entrepreneur. Jumlahnya terus berkembang dan sudah banyak yang menjadi pebisnis.
Ada kutipan atau kalimat mantra yang selalu menjadi penyemangat, pengingat dalam kehidupan ?
Ada, pertama pesan Bapak Mochtar Riady saat bekerja di bank. “Hal yang harus dijaga dalam bisnis perbankan adalah kepercayaan, ini harus dijaga,” katanya. Dari sini saya simpulkan apa pun yang kita lakukan, kepercayaan adalah segalanya. Kedua, kutipan dari John Maxwell, “Kepemimpinan dimulai dengan hati, bukan hanya dengan kepala.” Seseorang yang berada di tingkat ini akan memimpin dengan saling berhubungan antara atasan dan bawahan. Selanjutnya, dari mantan bos saya sebelum saya bekerja di bidang properti. Saat itu saya berhasil membuat seseorang yang cacat menjadi berprestasi. Lalu beliau menyimpulkan apa yang saya lakukan dengan mengatakan “Bagian belakang pisau jika diasah akan tajam, karena setiap manusia mempunyai nilai.”
Andreas menyimpulkan dalam kehidupan kita harus mempunyai nilai dan tujuan hidup yang luhur. Untuk itu dirinya membuat Pancasila Nawawi : respek pada Tuhan, respek pada keluarga, respek pada sesama, respek pada tubuh dan bijaksana menggunakan uang.

 

Senin, 22 Desember 2014

Dan pada tahun 1992, saya bertemu dengan Bapak Eddy Sindoro (Chairman PT Paramount Enterprise International) dan memperkenalkan saya kepada Bapak Mochtar Riady (Founder Lippo Group). Beliau kaget setelah tahu saya bekerja di perusahaan panci dan sukses berjualan. Kemudian bertanya lagi bagaimana cara saya berjualan dan beliau kaget karena cara saya memasarkan panci tersebut dengan menggunakan 5 ribu orang ibu-ibu yang tersebar di berbagai wilayah.

Akhirnya bergabung dalam industri properti ?

Tidak juga, karena awal bergabung dengan Lippo Group saya masuk di bank milik mereka. Namun hanya 7 bulan karena saya ditantang untuk menangani proyek Lippo Cikarang. Pertama kali lihat proyek ini memang tak masuk akal, lokasinya jauh dari Jakarta. Bahkan sebagian orang mengatakan Cikarang tempat jin buang anak, saya diberi target sebulan menjual 300 unit rumah. Puji Tuhan saya dan tim mampu menjual 1.125 unit rumah.

Bagaimana caranya, saat itu Cikarang belum seperti sekarang loh ?

Tak mudah memasarkannya, apalagi di sana saat itu belum ada produknya, masih tanah kosong, sawah, ilalang, hutan saja. Konsep marketing panci saya gunakan kembali, dengan jumlah jaringan sebanyak 5 ribu orang tentunya sangat membantu dan memudahkan. Awalnya secara bertahap saya mengajak kolega dan kenalan untuk datang melihat ke lokasi. Sambil makan bersama saya menjelaskan, di sebelah sana perumahan, sebelah sini rumah sakit, sebelah sana area komersial. Hari selanjutnya yang datang semakin banyak, ada yang menggunakan bus. Kita pun kesulitan melayani calon konsumen yang datang. Akhirnya kita cari orang di sekitar Cikarang untuk membantu berbagai urusan kita, mulai dari kerjaan admin dan lainnya. Kekuatan kita adalah jaringan marketing yang pernah saya bentuk tersebut, marketing panci.

Artinya passion Anda memang di dunia marketing ?

Pada wawancara radio saya ditanya, pak Andreas passion-nya apa, sales ya ? Spontan saya menjawab, sales bukan passion saya. Tapi pertanyaan selanjutnya menanyakan bahwa beberapa perusahaan yang saya masuki sales-nya menjadi berhasil. Seketika itu juga saya menjawab, passion yang saya miliki adalah membangun manusia, membangun sumber daya.

You have no rights to post comments