×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

The Godfather dan Kebangkitan

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

THE GODFATHER DAN KEBANGKITAN

Panangian Simanungkalit

Tak mudah meyakinkan pengamat properti yang satu ini untuk dijadikan foto cover Majalah Property and The City edisi ke tujuh. Setelah beberapa kali berkomunikasi melalui telepon, akhirnya Panangian Simanungkalit luluh dan memberikan waktu untuk bersua di kantornya. Pagi sebelum berangkat bertemu beliau, kami pun sekali lagi berkomunikasi dengan lulusan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), untuk memastikan kesiapannya.

Berada di ketinggian lantai 6, tepatnya di kawasan bisnis Thamrin City, kami pun di terima Bang Ian, biasa kami menyapa dirinya. Kami pun memasuki ruang kerjanya yang berukuran lapang dengan dinding dibalut warna merah dan biru. Di belakang meja kerja berjejer buku-buku yang tersusun rapi. Kebanyakan buku terkait masalah ekonomi, properti, dan investasi.

Sementara sebuah TV LCD berukuran raksasa, menempel berhadapan langsung dengan meja kerja si pemilik ruangan. Seolah siap memanjakan pemiliknya, ruangan juga dilengkapi perangkat elektronik lainnya plus pengeras suara di kiri-kanannya. Sedetik kemudian si pemilik ruangan pun datang, senyum khasnya menyapa kami.

Lagi, dirinya kembali ragu untuk difoto dengan alasan tak biasa bergaya. Dengan pendekatan seorang teman, kami pun kembali meyakinkannya dengan cara memperkenalkan seluruh crew majalah, dari fotografer, fashion stylist hingga bagian make up. Kembali Panangian tersenyum, tampaknya kini senyum keyakinan memancar dari dirinya karena ternyata ia percaya kami memang serius dalam melakukan sebuah pemotretan dan bukan asal-asalan. Sesi pertama pun dimulai dengan sedikit melakukan polesan pada wajah dan merapikan bentuk rambut pengamat properti yang dikenal tajam dalam menganalisa masalah-masalah properti. Lelaki kelahiran Tarutung, Sumatera Utara tahun 1960 ini pun kembali menebar senyumnya selepas didandani oleh tim make up. Senyum tersebut seolah menandakan dirinya siap untuk difoto, dirinya pun berdiri sesuai dengan spot yang kami tunjukkan di ruang kerjanya. Pemotretan pun dimulai, ternyata mudah untuk mengarahkan ayah dari Ilona Veronica Carrisa dan Samuel Kevin ini untuk bergaya.

Disela-sela pemotretan ketika break berganti pakaian kami pun menyempatkan berbincang-bincang terkait perjalanan dirinya yang kini berkonsentrasi membesarkan Panangian School of Property. Sekolah khusus properti ini bagian dari reborn dirinya terkait kegagalannya beberapa waktu lalu. Menurutnya di era 2008 hingga 2010 adalah masa pembelajaran yang penting. Dengan sekuat tenaga dirinya pun fokus mengembangkan sekolah properti. “Intinya apa yang kita lakukan haruslah fokus, tingkatkan terus kapasitas sehingga kemampuan kita menerima rezeki dengan apa yang kita usahakan juga besar,” terang Panangian sambil tersenyum.

Dirinya bersyukur mampu bangkit dari kegagalan. Mengambil keputusan dengan melihat momentum untuk bangkit adalah caranya untuk tak mengulangi lagi kegagalan yang terjadi. Satu yang menjadi prinsipnya saat jatuh adalah tetap berkontribusi untuk orang-orang disekitarnya. Panangian mencontohkan trilogi film The Godfather yang memberikan pembelajaran, sosok pemimpin yang menjaga keluarga, anak buahnya dan orang-orang di sekitarnya. Walau pun di saat dirinya juga menderita. “Selain itu didikan kedua orang tua membuat saya terbiasa ditempa untuk selalu berbuat kebaikan dan bermanfaat untuk siapa pun,” katanya sambil menerawang seolah mengingat pesan kedua orang tuanya.

Berikut petikan wawancara dengan pengamat properti Panangian Simanungkalit di ruang kerjanya :

Kapan pertama kali dikenal sebagai pengamat properti oleh masyarakat ?

Di awal 1990-an saya banyak menulis, mengirim artikel ke media cetak, seperti Majalah Info Papan. Saat itu juga sebagai dosen di Universitas Tarumanagara, Jakarta Barat. Pada 1993 mendirikan kantor konsultan properti dan dari sinilah para pelaku industri properti mengenal saya, karena saat itu tak ada yang membuat kantor konsultan properti, terkait riset dan analisa pasar. Setelah banyak melakukan riset dan tulisan di media dan terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 saya pun banyak diminta komentarnya. Mereka menanyakan perkembangan industri properti. Saat itu banyak developer yang collapse. Kredit macet hingga proyek yang mangkrak pembangunannya. Dari krisis ekonomi inilah membawa saya masuk ke BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), tahun 2000 hingga 2004. Di sini saya banyak bertemu orang, mulai dari pengusaha kelas kakap hingga pengusaha kecil terkait masalah mereka di BPPN.

Anda juga membuat media khusus properti. Apa motivasinya ?

Membuat media, tentunya majalah segmen properti. Ini berjalan dengan sendirinya. Saya banyak mengenal wartawan dan mereka pun tertarik untuk bergabung bersama saya mengelola majalah. Wartawan ini pun banyak belajar soal industri properti. Dan terbukti banyak wartawan jebolan dari Panangian Media menjadi sukses dan membuat majalah sendiri.

Dirinya bersyukur tetap eksis menjadi pengamat properti dan juga memiliki sekolah properti. Ditanya kenapa memilih menjadi konsultan dan pengamat properti, Panangian mengaku ada sebuah kejadian yang membuatnya mengambil jalan profesi ini. Anak ke tujuh dari sembilan bersaudara ini mengaku keluarganya adalah keluarga dengan darah pegawai negeri sipil (PNS). Ibunya seorang guru dan ayah seorang tentara. Begitu pun dengan kakak-kakaknya, kebanyakan juga PNS.

Sekarang fokus di sekolah properti saja ?

Ya, fokus di sekolah saja dan bersyukur hingga kini terus membesar. Ini dibuktikan dari jumlah lulusan yang sudah ribuan dan kita terus ekspansi. Seperti yang kalian lihat saat ini ruangan kelas terus bertambah ukurannya, puji Tuhan. Selain itu saya sedang mempersiapkan perusahan developer dengan nama Panangian Land yang rencananya tahun depan akan mengembangkan apartemen kelas menengah di Solo, Jawa Tengah.
Kenapa akhirnya terjun menjadi developer ?

Ha..ha..ha….semua tak lepas dari jalan Tuhan, ilmu sudah ada dan ini bagian dari perjalanan sebagai seorang pengamat. Ingin menuntaskan apa yang saya ajarkan kepada murid-murid, ini akan lebih bagus buat diri saya karena juga mengaplikasikan ilmu yang saya ajarkan. Seperti ingin membuka tabir apa yang saya bicarakan kepada murid-murid. Rencananya apartemen tersebut harganya mulai Rp. 250 jutaan dengan jumlah unit mencapai 900. Selain itu saya juga akan melibatkan anak, setelah proses belajar, dirinya juga harus bisa memasuki sebuah bisnis. Bagaimana sebuah tanah kosong bertransformasi menjadi sebuah bangunan dan menjadi sebuah bisnis.

Kesibukan akan bertambah jika menjadi developer ?

Tidak juga, karena untuk sekolah saya sudah melakukan regenerasi ke bawahan untuk menjadi pengajar. Selain itu murid yang potensial seperti Elang Gumilang yang telah sukses sebagai developer juga kita beri ruang menjadi pengajar lepas. Jadi kita tak perlu bersaing dan takut kalau murid atau bawahan lebih pintar. Karena saya berpikir setiap orang ada jamannya dan setiap jaman ada orangnya.

Apa yang Anda jaga terkait pencapaian saat ini ?

Kembali lagi bersyukur dan seperti saya katakan tadi saya pernah terjatuh karena kesalahan. Makanya saya tak mau gagal lagi. Dari kejadian tersebut saya dapat pelajaran besarkan kemampuan dan kapasitas maka semua akan mengikuti yang kita jalankan termasuk rezeki.

Banyak pelajaran yang didapatkan saat perusahaan terjatuh?

Saya sadar kalau terlalu tinggi keinginan tapi tak disokong oleh kemampuan maka kemampuan akan jatuh. Untuk itu kemampuan harus diperbesar agar lebih besar keinginan dan kepercayaan orang lain. Semua karyawan saat itu banyak yang keluar, seperti konsultan, media, dan lainnya. Saat itu saya menjalankan kewajiban dan tak memberatkan mereka. Maka sekali lagi saya katakan kembali perkuat dan perbesar kapasitas maka penghasilan juga akan membesar. Seperti sekolah kita besarkan, kemudian ada perusahaan yang saya lepas dan ternyata tumbuh, jadi ada fokusnya masing-masing.

Apa moto atau prinsip hidup yang Anda pegang ?

Prinsip, lebih banyak memberi dan memiliki nilai tambah untuk orang di sekitar kita dan jangan menjadi beban.

Bagaimana Anda bisa mempunyai prinsip seperti itu ?

Semua ini karena pengaruh kedua orang tua. Ibu yang seorang guru selalu mengajarkan rasa empati. Sedangkan ayah yang tentara memberikan sentuhan patriotisme. Gabungan keduanya membuat saya selalu mengedepankan rasa empati, bertanggung jawab dan bekerja keras agar berguna untuk keluarga, dan orang disekitar kita.

Bagaimana dengan industri properti saat ini ?

Tak dipungkiri di 2014 ini memang industri properti agak lambat. Ini karena imbas situasi politik dan juga suku bunga yang tinggi. Tapi saya lihat akan menanjak kembali jelang awal tahun 2015 mendatang, apalagi proses demokrasi berjalan mulus. Properti kelas menengah akan bersinar karena di kelas tersebut segmennya memang besar. Tahun 2015 properti akan mulai reborn. Jika pertumbuhan ekonomi 7 persen maka properti berkembang.

Panangian adalah salah satu tokoh dalam perkembangan properti di tanah air. Komentarnya yang kadang pedas dalam urusan rumah bagi masyarakat kelas bawah kadang bikin kuping instansi terkait memerah. Maka tak heran dirinya pun pada era orde baru sempat mendapatkan ancaman terkait komentar-komentarnya yang pedas soal kredit macet.

Senin, 17 November 2014

You have no rights to post comments