×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

ANGKOT DAN KEBAHAGIAAN

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

ANGKOT DAN KEBAHAGIAAN

Lilia S. Sukotjo Marketing Director PT. Alam Sutera Realty Tbk.

Menyusuri jalan dengan disambut pohon-pohon besar yang rimbun di kiri kanannya, tertata rapi, bersih, disertai udara yang sejuk dan sesekali terdengar kicauan burung, benar-benar sebuah boulevard  yang sangat jarang kita jumpai di kota metropolitan. Jalan yang mengantarkan tim Majalah Property and The City ke pintu gerbang sebuah cluster yang kelihatannya sangat dijaga keamanannya. Mobil kami pun berhenti. Pintu gerbang yang kokoh menjulang secara otomatis terbuka setelah mendapat izin masuk oleh petugas keamanan. Tanpa menunda, kami menembus gerbang dan kembali menyusuri areal cluster.

 

Tidak berapa lama kami pun berhenti di depan sebuah rumah yang megah, luas, namun tetap terlihat asri tanpa pagar. Dalam hati bertanya seperti apa gerangan model dan isi rumah ini. Beberapa saat kemudian pintu utama terbuka. Seorang wanita dengan rambut pendek yang  sangat elegan mengenakan stelan batik, keluar dengan senyum menawan sambil mempersilahkan kami masuk. Sosok wanita yang sangat saya kagumi dan saya yakin setiap orang yang pernah berinteraksi dengan beliau akan memiliki kekaguman yang sama, dia adalah Lilia S. Sukotjo, Direktur Marketing PT. Alam Sutera Realty Tbk. perumahan Alam Sutera.

 

Dengan ramah dan hangat, Lilia mempersilahkan kami mengitari rumahnya yang sangat berkesan etnik modern ditata dengan sentuhan seni yang tinggi. Berbagai pernak-pernik dan hiasan dinding dari berbagai negara menghiasi beberapa sudut rumah, termasuk beberapa lukisan lelang hasil buruannya. Setiap sudut rumah didesain dengan sangat cermat. Rumah dua lantai dengan luas 1.000 meter persegi ini semakin indah dengan adanya kolam renang yang dapat terlihat dari berbagai sudut ruang, tak ketinggalan pula sebuah grand piano ikut menghuni ruang keluarga.

 

Terkadang memang Lilia bermain piano sekedar melepas penat dengan jadwal keseharian yang super padat. Kami pun penasaran ingin tahu lebih banyak tentang karir dan pengalaman hidup dari seorang Lilia S. Sukotjo.

Di balik sosok keras yang terpancar dari dirinya, Lilia ternyata menyimpan sebuah kepribadian yang menarik. Istri dari Handi Selo Hartanto (Direktur PT. Pralon) dan ibu dari empat anak, yaitu : Prana, Naomi, Masha, dan Dru ini telah membuktikan bahwa bekerja dengan sepenuh hati dan hidup dengan penuh cinta telah memberikan kebahagian dalam hidup yang selalu disyukurinya.


Berikut petikan wawancara eksklusif tim Majalah Property and The City dengan Lilia S. Sukotjo :

Bagaimana Ibu mendeskripsikan diri sendiri?
I’m a happy person, saya melihat apa-apa itu secara optimis, tapi juga hati-hati dalam melihat ke depan. Untuk itu saya perlu banyak melakukan analisa, karenanya saya harus banyak baca, supaya ada back-up untuk semua yang saya perlukan. Intinya inovatif, happy, dan rajin.

Sejak kapan terjun di dunia properti?
April 1993, persis pada saat saya masuk di Grup Alam Sutera. Ini yang benar-benar properti karena bekerja di
sebuah perusahaan developer.

Sebelum di bidang properti?
Sebelumnya, saya bekerja sebagai konsultan landscape dan arsitektur, saya juga mengajar di Universitas Trisakti Fakultas Arsitektur Landscape dan Teknik Lingkungan, tahun 1989-1993. Kampusnya waktu itu di Rawasari.

Karir di Alam Sutera berawal darimana?
Waktu itu Alam Sutera belum seperti sekarang, belum ada apa-apa. Jadi kita masih melihat-lihat, merencanakan, dan membuat strategic plan. Saya sebagai Planning Manager.

Bagaimana lingkungan kerja disana?
Saya belum pernah kerja di developer yang lain, tapi disini (Alam Sutera - red) sense of belonging-nya besar sekali dari anggota tim, serasa setiap orang yang bekerja di dalam tim merasakan bahwa Alam Sutera itu adalah their own baby, jadi selalu akan memegangnya dengan segala daya upaya, hati-hati betul. Yang paling penting, proyeknya disayang banget sama kita semua. (tersenyum)

Selama 21 tahun di Alam Sutera, pengalaman apa yang terberat?
Saat kondisi ekonomi makro yang memburuk tahun 1998, jadi baru bisa bergerak lagi tahun 2001. Dengan segala upaya, pelan-pelan naik sampai di akhir tahun 2007, baru kemudian go public, dan waktu itu dapat suntikan dana dari pemegang saham baru. Dari situ baru bisa bergerak lagi. Sampai tahun 2009, impian yang kita percaya bahwa key success factor dari Alam Sutera yaitu direct acces toll, ternyata terealisasi. Karena sebagus apapun konsep dan lokasinya tapi jika aksesnya susah maka demand-nya akan turun. Meskipun lokasi jauh tapi aksesnya bagus pasti akan lebih menarik.

Yang jelas dimana saja kita bekerja pasti ada up and down, tapi bagaimanapun itu, kapal yang sudah kita bangun jangan sampai tenggelam.
Strategi yang kita pakai waktu itu adalah melihat benar-benar potensi dari lahan kita apa. Kita juga definisikan apa saja permasalahan yang ada satu persatu, dengan juga melihat potensinya, bagaimana kita bisa selesaikan sehingga keluar dari masalah. Dan harus jujur ke diri sendiri, kalau ada masalah jangan ditutup-tutupi. Dana juga sulit waktu itu, jadi bagaimana caranya untuk mendapatkan dana dan harus bertanggung jawab dalam penggunaannya.

Ada pengalaman paling pahit dalam hidup?
Tahun 1992 waktu itu saya harus memulai dari nol... mulai dari bawah lagi. Situasi keuangan sangat sulit, tabungan supermini, kemana-mana naik angkot, saya sedih sekali. Tapi Tuhan beri saya good clue.

Waktu itu saya ke kantor naik angkot, dan saya melihat sesama orang yang naik angkot sambil mengantarkan anak-anaknya ke sekolah kok senang-senang aja, tidak sedih. Saya mulai berpikir ternyata di sekeliling saya dimana saya anggap orang-orang tidak punya uang itu tidak bahagia, ternyata salah.

Jadi ukuran happiness itu sendiri-sendiri, orang yang tidak punya uang pun menurut saya ternyata mereka hidup bahagia, so... kenapa kita tidak. Mereka semua happy. Kita masih diberi kesempatan oleh yang Di Atas untuk melihat sendiri ke depan bahwa kita masih normal, masih bernafas, masih punya kesehatan, dan masih punya otak, dan yang paling penting kita lihat kesempatan. Apa yang bisa kita lakukan dan kita harus jujur sama diri sendiri. Dan yang kita tidak tahu, jangan sok tahu he..he... Saya pikir, selama kita melakukan itu dengan hati terbuka dan tahu potensi diri kita, maka kita dapat mengejar kesempatan yang ada, kita lihat peluangnya.

Dan satu hal yang perlu kita ingat kalau kita ada problem, kita harus berterimakasih kepada Tuhan, harus bilang Alhamdullilah, karena masih diberi problem. Karena setelah itu kita pasti jadi orang yang lebih baik karena problem itu yang bikin kita kuat. Yang penting waktu diberi problem jangan nangis gak jelas juntrungannya. Pasti setelah itu akan jauh lebih baik.

Waktu itu bagaimana keadaan ekonomi Ibu?
Waktu itu seakan semuanya hilang apalagi dulu kan saya boleh dibilang hidup enak karena orang tua saya bisa menyekolahkan saya ke sekolah yang sangat bagus dan yang pasti biayanya tidak murah.

Pernah saya diberi tahu teman saya, dia bilang coba bikin satu garis timeline di dalam hidup, yang terus kita ingat. Buat periode misalkan umur 5 tahun sampai 12 tahun, 12 tahun dan seterusnya. Di dalamnya buat garis normal yang bisa jadi batasan kondisi hidup saat normal. Dan ketika kondisi paling susah, buat garis dibawah garis normal dengan skala tertentu, kalo happy di atas garis itu.

Sampai sekarang masih buat, dan ternyata saya baru lihat bahwa setiap kali kita dalam kondisi sangat susah, pasti nanti kembalinya lebih baik dari sebelumnya.Makanya menurut saya ketika kita susah jangan sampai jatuh sekali, maksudnya saat susah it’s ok, tapi perbandingan dengan siapa? belum tentu orang lain melihat kita susah, yang penting kita punya mental bagus, tidak bohongin orang. Love your life. Yang Di Atas tuh suka kasih good clue...

Kapan saat yang paling bahagia?
Dalam kehamilan anak-anak saya, selalu bukan hamil yang gampang... , tapi begitu selesai wow...the best thing in my life. Dan rasanya luar biasa.... I love my baby.

Pencapaian apa yang telah dicapai saat ini?
Saya kaget waktu menyadari bahwa ternyata untuk mencapai target perusahaan saya didukung penuh oleh atasan saya maupun anak buah saya sepenuh hati.

Tanpa mereka saya bukan apa-apa. Padahal coba tanya mereka... (sambil melirik ke staf disampingnya) ketika mulai tegang harus kejar target pasti semuanya kena imbasnya dan saya tidak senang dengan kata ‘tidak’ atau ‘tidak bisa’. Tapi ketika target tercapai kita semua bersorak sorai luar biasa. Dan ternyata saya lihat tim saya telah kerja keras sampai jungkir balik, stres, ha..ha..ha... Dan menurut saya, pencapaian seperti ini lebih di atas nilai pencapaian itu sendiri.


Memang kadang-kadang ada juga orang yang tidak bisa mengeluarkan bakatnya ketika saya memberi pekerjaan dengan jiwa otoriter. Tapi bagaimana cara pendekatannya saja. Namun sejauh ini, tim di Alam Sutera sangat mendukung saya sepenuh hati.

Apa obsesi yang masih ingin dicapai?
Di umur saya sekarang ? hmmmm..... (terdiam sejenak).
Sebenarnya saya ingin sekali menciptakan karya seni untuk saya sendiri. Dari dulu ingin sekali melukis sampai tuntas. Saya selalu gak punya waktu... kadang gambar gak selesai, ganti lagi. Karena waktu melukis mesti fokus.

Ada tokoh favorit?
Saya sangat menyegani papa saya Mayjen (Purn) Sukotjo Tjokroatmojo sebagai sosok yang tegas dan menjadi inspirasi saya.

Hmmm..... Sebetulnya saya punya satu orang lagi. Beliau mantan Direktur Utama Alam Sutera, Bapak Tri Ramadi umurnya jauh di bawah saya, asalnya bukan dari orang properti namun dia peka terhadap kehidupan. Saking pekanya sehingga dia bisa melihat celah-celah mana yang bisa dimanfaatkan.

Latar belakangnya dari finance, sebenarnya dia lebih strategic, saya yang malahan lebih detil. Namun tidak tahu bagaimana caranya, ketika bisa menjelaskan sesuatu kepada saya, sedemikian rupa sehingga yang saya lihat adalah sebuah kesempatan. Hebat yah... (tersenyum)

Hobi Ibu?
Hobi saya olah raga, musik, baca....tapi jangan ketawa yah (sambil tersipu)... hmmmm.... kalau saya baca text book itu karena kewajiban saya, tidak mau ketinggalan, tapi sebetulnya saya suka baca novel ha..ha..ha... Khususnya karya Robert Ludlum, All The Bourne series seperti The Bourne Ultimatum, The Bourne Supremacy, The Bourne Sanction. Saya suka cerita-cerita yang misteri, CIA-CIA gitu juga senang banget.

Kalo makanan, apa makanan favorit Ibu?
Saya seneng sekali roti, cuma harus dikurangi...aduh gawat deh ha..ha.. (sambil tertawa lepas) dan ice cream (sedikit berbisik) Haagen-Dazs .... sampai sekarang.

Ada pilihan fashion tertentu?
Kalau sepatu saya paling senang Tod’s, karena cukup nyaman. Ada juga Dior. Baju juga suka karya Biyan.

Bisa ceritakan masa kecil Ibu?
Wahhhh.... So happy... Saya lahir di Bandung, tapi menghabiskan waktu di Magelang untuk sekolah disana, karena papa waktu itu Danmentar, Komandan Resimen Taruma. Terus papa pindah ke Bangkok jadi atase pertahanan jadi saya ikut juga, 3,5 tahun disana.Kemudian pulang ke Jakarta sebelum kemudian kuliah Arsitektur di ITS Surabaya dan kemudian S2 Landscape and Regional Planning di Pennsylvania.

Saya ada asma berat, sama papa saya diharuskan olah raga, berenang juga. Setiap minggu - saya ingat banget - bolak balik ke Pantai Pattaya - Bang Saen (Pantai di Thailand -red) berjalan-jalan di pasir untuk terapi asma. Kalo berenang pun olympic size bolak balik 1 kilometer. Lari juga..., kemudian ikut Merpati putih. Aneh gak sih ha..ha...

Bagaimana membagi waktu dengan keluarga?
Agak kacau sih... tapi saya selalu bilang pada anak-anak saya, you are still my priority in life. Terus terang agak susah, tapi kalau anak saya membutuhkan, saya harus ada disana, pekerjaan dikorbankan. Walaupun begitu saya dapat membagi pekerjaan saya. Owner Alam Sutera sangat mengerti akan hal itu. Mereka mempercayai saya dan saya sangat percaya mereka.

Saya baru pindah rumah ke Alam Sutera, kurang lebih 3 bulan. Tiap pagi saya bangun jam 4.30 pagi dan jam 5.50 saya masih bisa lari 5 kilometer, terus masih harus urus anak-anak ke sekolah dan kemudian ke kantor hanya 7 menit. Mereka (anak-anak -red) senang saya kerja dan ada kebanggan tersendiri.

Bayangkan betapa sulitnya seorang suami punya istri kerja ha..ha.., tapi kalau sempat, dia malah ikut urus anak. Saya mencintai keluarga saya, anak-anak saya dan suami saya yang bisa menerima apa adanya. (ron)

Senin,13 Oktober 2014

You have no rights to post comments