ANAK BANDEL DAN DOA ROH JAHAT

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Ishak Chandra

Managing Director Corporate Strategy & Services Sinarmas Land

 

Suatu pagi di lobby hotel Le Grandeur, Mangga Dua, Jakarta, tampak begitu banyak tamu yang hilir mudik dengan berbagai macam aktifitas. Hotel yang dimiliki oleh Sinarmas Land itu memang sangat ramai oleh tamu. Tampak seorang pria, berpostur tinggi besar, mengenakan stelan kemeja putih dan celana hitam - tampilan yang sangat elegan - sedang asyik melihat ke layar gadget yang ada di tangannya. Pria yang menarik perhatian itu adalah Ishak Chandra, Managing Director Corporate Strategy & Services Sinarmas Land.

“Bagaimana tadi di perjalanan, macet pak?” tanya tim majalah Property and The City. Dengan senyum khas, Ishak membalas sapaan dari kami, “Biasalah Jakarta,” jawabnya dengan santai. Komunikasi di antara kami pun mengalir dengan sendirinya. Sambil mempersilahkan kami menikmati sarapan pagi bersama, Ishak pun mulai bertutur menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kami.

Tahun 1992 merupakan awal Ishak memulai karir di dunia properti sebagai Leasing Executive di Lippo Land Development. Ishak bergabung disana sampai pertengahan tahun 1995 dengan posisi terakhir sebagai Sales Manager & Assistant Leasing Manager. Setelah itu kemudian bertolak ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan S2-nya.

Sebelum berkecimpung di dunia properti, Ishak berkarir di PT. Astra International sebagai Management Trainee dan ditempatkan di Auto 2000.

“Waktu itu cukup berat untuk masuk sebagai Management Trainee di Astra,” kenangnya, “Dari dua ratus sampai tiga ratus orang yang apply, hanya satu sampai dua orang saja yang beruntung bisa diterima imbuhnya”. Diterima sebagai management trainee, Ishak mulai berkarir disana dengan memulai pekerjaan dari bawah sebagai sales executive di Auto 2000 yang menjual mobil merek Toyota.

“Tahun pertama bekerja disana, klien-klien saya yang beli mobil banyak dari bidang properti entah itu sales agent ataupun bekerja di property developer. Saya melihat kok keliatannya menarik dan asyik bekerja di industri properti, ilmu yang dipelajari lebih banyak & lebih gado-gado,” ungkapnya.

Dari Lippo Land saya melanjutkan S2 (MBA) di Amerika. “Saya ingat dua bulan sebelum saya lulus S2, saya di telepon oleh teman baik saya, karena mantan bos saya di Lippo yang telah bergabung di Grup Salim mengajak untuk bergabung dengannya karena sedang menggarap proyek baru. Saya bilang dua bulan lagi saya baru lulus, kalau bisa, saya akan bergabung.” Mereka sedang mencari posisi Marketing Manager untuk proyek baru di kawasan bandara Soekarno-Hatta, Soewarna Business Park. Dua bulan kemudian saya lulus dan kembali ke Indonesia. “Saya ingat banget waktu itu saya balik hari Rabu, Kamis saya interview, Jumat negosiasi gaji, Senin saya sudah mulai kerja, he..he..he...,” sambil tertawa kecil.

Ishak memang sangat piawai menganalisa keinginan pasar sehingga proyek-proyek yang ditanganinya berkembang pesat. Tidak heran setelah enam bulan menduduki posisi Marketing Manager di Soewarna ia pun dipercaya menjadi General Manager Marketing dan memegang dua proyek sekaligus.

Karir ishak terus menanjak di Soewarna Business Park. Ia lalu di angkat menjadi General Manager Operation and Development, lalu Senior GM Operation dan terakhir sebagai Senior General Manager (COO) yang bertanggung jawab atas seluruh divisi dan operasional perusahaan.

Strategi apa yang Bapak terapkan waktu itu untuk menjawab tantangan di proyek baru?

Saya selalu berprinsip customer itu nomer satu. Jadi kalau mau proyek kita sukses, coba mengerti kebutuhan mereka dan cari diferensiasi dari produk kita dibandingkan dengan produk competitor. Simple-nya taruh posisi kita sebagai customer dan coba jawab ‘Why they have to buy our product?

Waktu itu Soewarna Business Park hanya menyediakan gedung perkantoran dan pergudangan biasa, ukurannya besar-besar, target marketnya pun sangat ‘wide’ padahal kita berlokasi di airport yang secara lokasi sudah mempunyai keunikan sendiri. Tahun pertama di Soewarna, saya coba mendefinisikan kembali apakah proyek ini benar-benar sesuai dengan keinginan target market kita, keinginan pasar seperti apa, cocoknya buat apa dan untuk siapa, diferensiasi kita apa, positioning kita dimana sih ? Kenapa customer mau beli produk dan service kita… Bagaimana kita bisa create value buat customer ?  Itu kuncinya.... ‘Value creation process’ tidak hanya untuk customer tapi untuk semua stakeholder kita. Makanya tidak heran Soewarna akhirnya menjadi satu-satunya business park di Indonesia yang menyediakan ‘Integrated Custom and Duty Services’ dan juga fasilitas ‘Build to Suit’ pertama di Indonesia.

Bagaimana bergabung di Sinarmas Land?

Tahun 2010  saya ditawari kerja di Sinarmas Land. Terus terang waktu itu saya masih ragu untuk bergabung dengan grup ini. Ada beberapa alasan yang bikin saya ragu. Tapi pikiran saya berubah setelah beberapa kali bertemu dengan Bapak Muktar Widjaja dan juga anak-anaknya (Leah Widjaja dan Michael Widjaja) selaku shareholder. Mendengar visi mereka dan juga tanggung jawab yang diberikan sangat menarik buat saya. Singkat ceritanya akhirnya saya join di Sinarmas Land.

Bedanya di Soewarna saya meng-handle satu proyek dari A sampai Z, sementara posisi saya di Sinarmas Land di tingkat corporate yang bertanggung jawab atas beberapa divisi seperti Corporate Strategy, Business Development, Marketing Communication, Customer Service dan Special Project. Scope pekerjaan dan tanggung jawab di Sinarmas Land lebih besar dibanding di Soewarna…. Tapi dua-duanya menarik buat saya.

Sepertinya Bapak sangat menikmati pekerjaan Bapak?

It’s about Passion and Property is my Passion

Padahal background Bapak dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) kan ?

Nah itu dia, saya sebenarnya lebih suka berbagi cerita tentang proses hidup sampai seperti sekarang ini. Ceritanya panjang...

Saya berasal dari keluarga yang jauh dari mampu. Dulu kalau mau makan ayam di KFC aja, saya mesti nunggu ulang tahun atau naik kelas dulu, kalau mau makan bakmie ayam, saya mesti nabung dulu dua minggu, dan itu pun saya cuma bisa beli separuh porsi. Mama saya seorang single parent. Waktu saya berumur empat tahun papa saya bangkrut, mama harus bekerja.  

Saya di tarik pindah dari Surabaya ke Jakarta ikut mama yang bekerja sebagai penjaga kantin di Jakarta. Saking ingin penghasilan lebih besar, mama saya bahkan pernah mencoba jadi TKI. Di Jakarta saya tinggal di rumah kakak mama dan anaknya (sepupu -red) yang juga turut membantu membiayai keperluan hidup saya pada waktu itu. Saya bersyukur ada mereka, kalau tidak.. saya tidak tahu harus tinggal dimana dan bagaimana masa depan saya.

Dari SD sampai SMA kerjaan saya kebanyakan main musik dan band, olah raga tenis meja dan kutak katik komputer.  Saya agak malas kalau disuruh belajar, kerjaannya kebanyakan di ektrakurikuler aja. Kata keluarga saya “Kok IQ-nya Ishak sangat tinggi, tapi nilai raportnya kebanyakan merah, yang pasti biru cuma matematika aja,” hahaha....

Dari situ saya belajar orang pinter pun kalau gak ada usaha percuma. Lulus SMA, saya masih bimbang mau kuliah biayanya dari mana. Tapi saya coba juga apply ke beberapa universitas swasta seperti Trisakti, Tarumanagara, Atmajaya, dan terakhir mencoba keberuntungan di Universitas Indonesia (UI) melalui program UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya diterima semuanya dengan ranking 1 atau 2 di sana, dan ajaibnya saya juga diterima di UI.  mungkin saya jago kalau nebak-nebak jawaban yah…. hahahaha.

Saya memilih UI karena kuliah di UI jauh lebih murah dibandingkan kuliah di swasta, bisa dibilang seperti bea siswa, bahkan uang les saya lebih mahal dari uang kuliah saya. Waktu itu diterima di Fakultas Hukum. Namun di semester satu, mama saya meninggal. Saya down banget. Sejak itu saya bertekad saya harus jadi ‘seseorang’. Dua tahun kemudian papa meninggal. Sepeninggalan mama,  saya hanya diwariskan beberapa juta uang cash aja, itu juga sebagian merupakan pinjaman mama ke bos-nya untuk biaya sekolah saya, gak ada rumah, gak ada kendaraan, gak ada yang lainnya. Uang itu pun saya masukkan ke bank gelap (perusahaan simpan pinjam -red) dengan iming iming dapat bunga yang besar, agar bisa saya gunakan untuk biaya kuliah nantinya, tapi ternyata saya ditipu oleh perusahaan itu. Uang saya di bawa kabur. Alhasil saya gak punya apa-apa.

Supaya bisa tetap sekolah dan biaya sehari hari, saya dapat bantuan dari saudara dan sepupu saya tiap bulan ditambah saya suka kerja ngajar komputer sambil kuliah. Tahun ketiga di UI saya ngelamar di Astra International. Waktu itu skripsi, saya tinggal dan saya gak nyangka bisa diterima, karena untuk posisi Management Trainee di Astra harus yang sudah lulus. Tesnya pun susah sekali kalau gak salah sampai tujuh layer. Jadi benar-benar beruntung sekali saya bisa masuk di Astra. Setelah di Astra saya di tarik ke Lippo, selama di lippo pun karena keasyikan kerja sampai kuliah pun belum lulus.

Waktu bekerja di Lippo, saya sudah punya tabungan, punya duit lah.  Umur 24 sudah punya rumah, mobil bahkan sudah dikasih sopir sama Lippo. Life is so beautiful pada saat itu, gak inget untuk sekolah lagi pada saat itu. Namun suatu malam saya mimpi ketemu mama, dalam mimpi saya, mama saya bilang “Ishak... dulu kamu mau kuliah gak punya uang, sekarang kamu punya uang kamu gak mau kuliah, yang sekarang saja belum selesai”.

Akhirnya saya bangun dan saya nangis sejadi-jadinya. Pagi harinya saya langsung telepon teman baik saya dan bilang ayo kita selesaikan skripsi kita. Dalam kurun waktu tiga sampai empat bulan, skripsi saya selesai. Ujian skripsi lulus, saya langsung berangkat ke Amerika tanpa sempat ikut Graduation di UI, karena cepat-cepat mau lanjut sekolah lagi. Pada waktu itu saya hitung-hitung uang tabungan plus Rumah yang ada cukup untuk kuliah di Amerika. Waktu itu saya ke San Diego di California ambil persiapan pre MBA, yang ada uang saya habis, rumah saya belum kejual.

Akhirnya saya balik ke Jakarta, dan saya dapat pinjaman uang dari sepupu saya, setelah itu saya balik ke Amerika dan melanjukan MBA saya di Arkansas yang biaya hidup jauh lebih murah. Di Amerika saya juga kerja sebagai asisten dosen untuk nambah-nambah biaya sekolah dan hidup disana.

Tahun 1997 akhirnya saya balik ke Indonesia, tahun 1998 krisis ekonomi... rumah saya harganya tinggal separuh dan hutang Dollar saya ke sepupu membengkak jadi 6-7 kali lipat kalo dihitung Rupiah. Akhirnya gaji saat awal-awal kerja di Soewarna sebagian besar dipakai untuk nyicil hutang. That’s a blessing, saya masih bisa nyicil hutang saya sampai selesai.

Semua yang saya peroleh adalah berkat dari mama tercinta dan saya yakin bahwa ’my mom is source of my blessing’.

Yang saya sesali, belum berhasil menyenangkan my mom ketika dia masih ada. ‘Try to become a better person’ juga merupakan filosofi hidup saya.  Saya bukan anak yang jenius, saya bukan anak yang pintar di sekolah tapi saya berusaha menjadi orang yang lebih baik setiap hari.

Di Sinarmas Land saya tidak akan bisa perform kalau tidak ada Trust and Support. Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Muktar Widjaja dan anak-anaknya karena diberikan kepercayaan-kepercayaan yang membuat saya bisa belajar lebih banyak, sehingga saya bisa lebih berkembang. Bagaimanapun tanpa Kepercayaan dan Support, sebagai profesional tidak mungkin bisa maju, karena untuk level-level tertentu yang dibutuhkan adalah semua itu. Terus terang saya sangat kagum dengan Keluarga Widjaja sebagai bos saya, senior-senior rekan kerja dan juga semua anggota tim di Sinarmas Land. Adanya Sinarmas Land sampai saat ini adalah hasil kerja dari semuanya, sehingga Sinarmas Land bisa seperti ini.

Siapa yang paling berjasa dalam karir Bapak ?

Nomor satu yang pasti adalah atasan saya. Kalau di Soewarna ada Joachim Rohn & Pat Boot dan juga keluarga Henry Liem dan Hendra Liem yang memberikan saya kepercayaan dan support sehingga di Soewarna saya bisa menjalankan usaha seperti perusahaan saya sendiri dan saya berhasil menjaga kepercayaan itu. Di sana saya belajar properti logistik. Tiga belas tahun di operation benar-benar dari bawah sekali sampai naik ke atas.

Di Lippo saya juga banyak belajar khususnya dengan mantan bos saya Michael Farley. Kalau  di Sinar Mas pastinya bos saya keluarga Widjaja dan para senior-senior yang lain, karena saya termasuk ‘anak baru’ di Sinarmas Land. Tidak mungkin saya bisa seperti ini kalau tidak ada kepercayaan dan support dari mereka.

Pernah mengalami hambatatan-hambatan dalam berkarir ?

Tidak ada jalan yang selalu mulus, pasti ada hambatan… yang penting jangan mudah putus asa, dan jangan pernah berpikir ini sulit. Kalau kita berpikir ‘Bisa’ pasti kita jadi Bisa. Kalau di otak kita ‘Sulit’ yang ada pasti Sulit jadinya... Saya tipe orang yang sangat susah menerima kata-kata ‘wah ini sulit, ini imposible’. We have to try first, don’t say imposible before you try. Tapi kita tetap harus siap dengan worst case-nya dan bisa menghitung apakah risikonya kalau terjadi bisa kita manage atau tidak.

Apa pengalaman hidup terberat yang
Bapak alami ?

Setiap proses itu tidak ada yang berat, karena berat atau ringan itu dari diri kita sendiri. Kalau masalah ringan kita anggap berat ya... jadi berat, sebaliknya kalau masalah berat kita anggap ringan semua jadi ringan. Walaupun masa kecil saya bisa dibilang susah, tapi yang saya lakukan adalah saya jalani saja kehidupan setiap hari dengan senang. Ada masalah, saya selesaikan pelan-pelan. Yang penting adalah jangan berhenti atau menunda untuk menyelesaikannya. Kalau ada masalah kita hadapi...selesaikan.

Hal apa yang paling membahagiakan dalam hidup Bapak ?

Setiap hari adalah hari yang membahagiakan buat saya, saya menikmati hidup saya setiap hari, bahkan saat mendapat masalah pun saya sudah berpikir bahwa ini adalah suatu tanda bahwa besok saya akan mendapat keberuntungan. Dari kecil saya sudah berpikiran seperti itu karena hidup saya tidak mudah. Maka itu ada yang pernah tanya ke saya “kalau kamu punya kesempatan untuk bisa hidup kembali setelah meninggal kamu mau jadi apa ?“ Saya jawab “Saya mau menjadi diri saya lagi karena saya sangat menikmati hidup saya every moment in my life”.

Adakah target-target pribadi yang belum tercapai ?

Hidup manusia pasti ada suatu target-target tertentu, tapi menurut saya kalau kita sudah mencapai suatu target yang kita tuju, itu suatu awal proses untuk mencapai target yang berikutnya. ‘One Third scenario’ itu target fokus hidup saya.... 1/3 hidup saya fokus untuk belajar, 1/3 hidup saya fokus untuk bekerja dan 1/3 hidup saya fokus untuk menikmati hidup. Hidup kan harus balance yaa. Hehehe...

Adakah obsesi lain yang ingin di capai ?

Saya bukan orang ambisius, saya bukan tipe orang yang gila harta, gila posisi, yang saya cari adalah happiness. Jadi kalau orang tanya apa sih obsesi kamu? Saya jawab menjadi ‘happier person everyday’, karena kebahagiaan bukan karena posisi dan materi. Kebahagiaan itu dari diri kita sendiri. Saya bahagia karena saya diberi sifat yang selalu berpikir positif dan selalu bersyukur dengan apa yang saya punya.
Tokoh Favorit ?

Donald Trump. I really like him in what and how he is doing the business and his leadership style.

Makanan kesukaan ?

Semua yang berbau karbo... I’m a carb lover. Saya suka bakmi, roti dan nasi (nasi goreng, nasi soto, nasi campur, dll). Hobi saya makan, makanya dari badan kelihatan yah ha...ha... Tapi saya sadar saya harus hidup lebih sehat. I wanna start my golf again, eat less carb and more vegetables. Kalau gak nanti perut saya melebihi karir saya.

Hobby yang lain ?

I do like traveling. Makanya saya sangat mendambakan waktu liburan anak sekolah, liburan natal. Sambil traveling saya juga suka foto-foto karena saya juga hobi foto khususnya landscape and human interest photography.

Mobil kesayangan ?

Saya bukan pencinta mobil, saya lebih cinta investasi properti, kalau saya ada uang dikit, saya beli properti bukan beli mobil, karena saya berpikir, sampai kapan sih kita bisa produktif. Investasi lebih penting buat saya terutama buat masa depan keluarga.

Ada merek fashion tertentu ?

Gak ada favorit brand. Saya lebih suka brand-brand out fit yang bikin rilek, yang penting nyaman tapi business looks. Saya tidak cuek dengan penampilan, karena saya tahu dari dulu saya bergumul dengan corporate dealing.

Kenang-kenangan masa kecil yang tidak bisa
Bapak lupa ?

Saya ingatnya waktu kecil saya badung. Kalau tanya temen-temen kecil saya di SD mereka tahunya saya anak badung. Saya suka berantem, pecahin kaca, pecahin genteng, ribut di kelas, nangisin anak perempuan. Kalau dibawa kemana-mana Saya gak bisa diam. Saya seperti anak hiperaktif. Hampir setiap minggu mama saya selalu dipanggil ke sekolah karena kenakalan saya. Ketika di bangku SMA saya diangkat sebagai ketua kelas. Mungkin karena saya menonjol nakalnya makanya dikasih tanggung jawab ha..ha... Suatu hari suster sekolah bertanya di kelas, siapa yang jadi ketua kelas?
“Ishak suster,” Semuanya menjawab seragam.
“Gak ada alternatif lain ?“ tanya suster, “Gak ada suster,”
“Kalau begitu, mari kita berdoa untuk Ishak agar roh jahat yang ada di dalam diri Ishak bisa keluar.” Sejak itu doa itu terkenal sebagai doa roh jahat untuk Ishak...ha..ha..ha.

Waktu SMP & SMA, saking bandelnya, raport saya banyakan merahnya daripada birunya, yang bagus cuma matematika doang. Waktu mau naik kelas dua SMA, kita kan mesti milih jurusan. Saya gak diterima di A3 (sosial) karena nilai pelajaran sosial saya yang banyak hafalannya jelek semua.  Saya malah diminta masuk di A1 (Fisika) dan jaman itu kalau A1 anaknya pinter-pinter dan serius. Alhasil saya gak betah di A1 dan dengan susah payah minta pindah di A3 karena di A3 orangnya lebih asyik. Jadi saya sempat di A1 cuma seminggu... ha..ha..ha.

Kamis. 17 Juli 2014

Baca juga artikel berikut ini:

3 BUAH GRATIS 1

Virtual Office

Jakarta Grade A Office Market Trend

 

You have no rights to post comments