Cat Bukan Sekadar Melapisi, Tapi Harus Menyatu

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Diskusi KEIM di Jakarta Design Centre (JDC), Jl Jend. Gatot Soebroto, Petamburan, Jakarta, Selasa (7/11/2017) / foto: KEIM.

Cat KEIM punya beberapa keunggulan dari kandungannya yang membuat dinding dapat ‘bernapas’ sehingga dinding tidak lembab.

Sebagus dan semahal apapun jenis cat, jika aplikasinya tidak benar, maka hasilnya pun tidak akan sempurna. Sebagai contoh cat tembok atau dinding yang menjadi salah satu material paling penting, selain dari sisi keindahan, tapi akan memberi kenyamanan dan mendukung kerja orang yang berada di sekitarnya.

Dalam hal ini tentunya cat yang baik dan ramah lingkungan adalah yang tidak terkelupas dan menggelembung setelah diaplikasikan dalam waktu yang lama. Juga tidak membuat dinding lembab dan kotor akibat terinfeksi jamur, garam, dan lumut.

“Perlu diingat juga bahwa dinding dengan lapisan cat yang menyebar sempurna, rata, dan tahan lama bukan melulu terkait produk yang berkualitas tinggi, tetapi cara aplikasi mengecat yang benar juga menentukan daya tahan sebuah cat,” ujar Direktur Marketing PT Romulo Nusantara Perkasa, Dicky Ferdian kepada wartawan usai diskusi di Jakarta Design Centre (JDC), Jl Jend. Gatot Soebroto, Petamburan, Jakarta, Selasa (7/11/2017).

Menurut Dicky, tidak semua orang paham dan mengetahui bagaimana mengaplikasikan cat dengan baik dan benar. Hal ini juga menjadi alasan, PT Romulo Nusantara Perkasa, distributor sekaligus pemegang tunggal cat merek KEIM di Indonesia menggelar diskusi bertajuk “KEIM Technical Workshop” kepada kontraktor, desainer, tukang, hingga pemilik rumah.

Baca Juga: KEIM, Cat Asal Jerman yang 'Berani' Tembus Lapis Dinding

KEIM sebagai produsen cat berbahan mineral/alami, bukan sintetis/akrilik/plastik, merasa wajib memberikan edukasi keseluruh masyarakat Indonesia mengenai langkah-langkah aplikasi cat yang benar itu seperti apa. “Begitu juga memilih cat yang berkualitas tinggi supaya tahan lama sehingga dapat menekan biaya perbaikan dinding,” papar Dicky.

Di pasar Indonesia, KEIM asal Jerman ini memang belum setenar produsen cat lainnya. Harga cat KEIM pun terpaut lebih mahal dari cat pada umumnya, namun Dicky optimis melihat pasar cat di Indonesia yang masih terbuka, terutama untuk produk yang berkualitas tinggi dan dengan material bahan baku yang sangat berbeda dengan produk cat lainnya.

“Customer juga semakin selektif terhadap produk yang berkualitas, tahan lama dan sehat, maka diharapkan pasar cat KEIM dapat makin berkembang dimasa yang akan datang. Jangan lupa juga cat KEIM sudah ada sejak tahun 1878 dan merupakan pionir untuk produk cat berbahan dasar Mineral Silicate,” tegasnya.

Menyatu

Keunggulan cat KEIM memang sudah tidak diragukan lagi. Bahkan ada bangunan yang dilapisi cat KEIM sejak tahun 1891 atau sekitar abad 19 hingga saat ini tidak mengelupas dan pigmen warnanya masih bertahan. Beberapa gedung yang menjadi bukti, diantaranya bangunan dengan gaya Renaisans dari rumah Weisser Adler di Stein am Rhein dan Balai Kota di Schwyz, Swiss yang didekorasi pada tahun 1891; fasad di Oslo (1895) dan di Traunstein, Jerman (1891). Sementara di Indonesia, beberapa bangunan bersejarah juga telah menggunakan cat yang ditemukan oleh ilmuwan Adolf Wilhelm Keim pada tahun 1878 tersebut. Diantaranya, Museum Bank Indonesia, Jakarta Kota; Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Jakarta Kota; Gereja Immanuel, Jakarta; dan beberapa lainnya.

Keunggulan cat KEIM ini diantaranya kandungan VOC atau senyawa karbon berbahaya sangat rendah, karena KEIM dibuat dari bahan baku mineral (inorganik). Bahan mineral tersebut juga membuat dinding dapat ‘bernapas’ sehingga dinding tidak lembab.

“Jadi bahan mineral ini membuat dinding yang sudah diaplikasikan KEIM memiliki pori-pori sehingga uap air yang terdapat pada dinding lembab bisa bebas menguap, sehingga tidak lembab,” terang Dicky.

Lebih jauh Dicky menjelaskan, cat KEIM juga bekerja menyatu (bonding) dengan dinding, bukan melapisi dinding karena material KEIM meresap ke pori-pori dinding dan membentuk ikatan dengan dinding. Berkat penggunaan pigmen inorganik, warna yang dihasilkan juga lebih natural dan tahan sinar UV

“Material mineral juga membuat cat tidak bisa terbakar, beda dengan cat acrylic atau sintetis lainnya yang merupakan produk turunan dari material organik,” tegasnya.

Di Indonesia, KEIM memasarkan tiga produk andalan, yaitu KEIM Royalan (eksterior), Biosil (interior), dan Concretal Lasur (beton). Dengan kandungan yang ada, bahkan daya tahan cat dinding ini di atas rata-rata cat merek lainnya.

“Contoh ada customer yang biasanya mengecat ulang bangunannya setiap 8 bulan sekali karena berlokasi di daerah yang sangat lembab dan setelah menggunakan KEIM Royalan selama 32 bulan, sampai saat ini belum ada kerusakan pada catnya,” papar Dicky.

Tahapan Aplikasi

Mengaplikasikan cat pada dinding rumah atau sebuah gedung memang mudah, bahkan pemilik rumah pun bisa melakukannya sendiri. Namun baiknya harus diperhatikan beberapa tahapan berikut, agar hasil kerja Anda tak sia-sia dan bertahan lebih lama;

  1. Cek terlebih dahulu kadar kelembaban dinding yang akan diaplikasi. Termasuk kadar infeksi garam khusus untuk bangunan tua atau historic. Bersihkan dinding dari kotoran seperti debu yang menempel.
  2. Apabila ada cat lama/existing dan cat tersebut berbahan acrylic/sintetis/organik maka dilakukan pembersihan atau dikupas dahulu sampai ketemu lapisan dinding berbahan mineral (acian, plaster, bata, beton, dan lainnya).
  3. Apabila ada bagian dinding yang rusak karena lembab atau infeksi garam (acian lepas, plaster/bata rapuh, dan lainnya) maka sebaiknya dilakukan perbaikan pada bagian yang rusak tersebut.
  4. Setelan dinding kering dan bersih bebas dari lembab atau infeksi garam atau kotoran maka dinding sudah siap untuk di cat.
  5. Disarankan pada saat melakukan pengecatan, jangan pada bagian yang terkena matahari langsung. [Pius Klobor]