×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

SURABAYA (bagian.2)

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive

SURABAYA (bagian.2)

Sebutan Kota Besar Surabaya (1950) berubah menjadi Kotapraja Surabaya. Dengan Undang-undang No. 18 tahun 1965 wilayah Kotapraja Surabaya mendapat tambahan pemekaran 5 Kecamatan baru dari semula wilayah Kabupaten Surabaya, yaitu: Tandes, Sukolilo, Rungkut, Wonocolo, Karangpilang. Sedang nama Kabupaten Surabaya yang sudah kehilangan 5 kecamatannya diubah menjadi Kabupaten Gresik, dan pusat pemerintahannya (kantornya, bupatinya) juga pindah ke Gresik.

Luas daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Kotapraja Surabaya pada waktu itu adalah seluas lebih kurang ada 103 km2, sedang sebagai Kepala Daerah Kotapraja bertindak seorang Asisten Residen yang merangkap memangku jabatan pula sebagai Asisten Residen dari Kabupaten (afdeling) Surabaya. Ia pun sekaligus bertindak sebagai ketua Dewan Kotapraja (gemeenteraad), atau kalau zaman sekarang dapat kiranya kita persamakan dengan DPRD. Jadi pada saat diresmikannya Surabaya menjadi Kotapraja itu, belum ada jabatan Walikota (Burgermeester). Jabatan ini baru kemudian diadakan, ialah mulai tanggal 21 Agustus 1916. Jadi baru kira-kira 9 tahun kemudian.

Dewan Kotapraja yang pertama-tama terbentuk pada tahun 1906 itu terdiri dari 23 orang anggota, yaitu 15 orang Eropa, 5 orang Indonesia dan 3 orang Timur asing (vreemde oosterlingen).

Gedung Kotapraja Surabaya yang pertama-tama merupakan gedung sewaan yang terletak di Jalan Gemblongan (di seberang gedung PLN). Gedung milik swasta itu tiap bulan disewa dengan harga F 400,-. Kemudian berhubung dengan adanya perluasan-perluasan, maka diperlukan gedung yang agak besar, dan disewalah pula sebuah gedung yang terletak di Jalan Kedungdoro (tahun 1970 ditempati oleh Jawatan Pekerjaan Umum Propinsi Jawa Timur).

Di samping itu masih dipergunakan pula sebidang tanah yang terletak di Semut, di mana dibangun beberapa gedung untuk keperluan gudang-gudang, sebagai tempat penyimpanan barang-barang bahan dari bagian Perusahaan Air. Adapun gedung Kotapraja yang sekarang berdiri memangku Taman Surya, baru diresmikan penggunaannya pada bulan Oktober 1923.

Seperti yang diceritakan oleh N.Van Meeteran Brouwer dalam Tjiptoatmodjo (1983: 244), yang mengunjungi Kota Surabaya pada Tahun 1825 membuat catatan sebagai berikut:
“Pada tanggal 21 Juni 1825 saya tiba di Kota Surabaya yang terletak di tepi sungai yang bagus. Kota ini terbuka dari berbagai arah. Jalan-jalan pada umumnya lebar, rata dan berpagar. Rumah-rumah kebanyakan dibuat dari bambu, yang ditutup dengan atap atau ilalang. Di sepanjang jalan terdapat pohon-pohon bambu, pisang, kelapa, pinang dan lainnya”.

Selanjutnya, mulailah dilakukan pembangunan tembok sebelah utara yang terjadi pada tahun 1782. Namun akibat dari adanya pembangunan tembok baru itu mengakibatkan penduduk pribumi yang bertempat tinggal di sekeliling perkampungan orang Eropa, Cina dan Melayu menjadi tersisih ke luar. Hal ini berarti, bahwa perkampungan pribumi tergeser ke luar dari tembok kota.

Menurut J. Hageman dalam Tjiptoatmodjo (1983:244), Kota Surabaya waktu itu dibagi menjadi tiga bagian, yaitu perkampungan Eropa, Cina dan Melayu, sedangkan perkampungan pribumi letaknya terpencar di sekitar perkampungan-perkampungan itu. Perkampungan Eropa dikelilingi dinding tembok tipis yang di beberapa tempat, tingginya hanya lima sampai enam kaki, terletak memanjang di tepi Kali Mas dari selatan ke utara, di bagian barat berbatasan dengan kampung-kampung Jawa di antaranya, yaitu Kampung Pekalongan, Gatotan, Krembangan, Karamat Ujung, Pesapen, Kalisasak, Dapuan, Tambak Gringsing, Kebalen dan Petukangan. Perkampungan Cina, Melayu dan Madura terletak di sepanjang sisi timur Kali Mas. Kampung Melayu terletak di sebelah utara Kampung Cina. Kedua perkampungan ini di sebelah timur berbatasan dengan perkampungan orang Jawa. Di dekat Kampung Melayu terdapat pasar besar yang cukup luas dengan bangunan beratap dan tiangnya terbuat dari batu bata. Perkampungan Jawa terbagi menjadi dua bagian oleh aliran Kali Pegirian yang merupakan cabang delta dari Kali Mas. Kampung-kampung yang berada di sebelah Barat Kali Pegirian berturut-turut dari selatan ke utara adalah: Kampung Clompretan, Belakan Kidul, Wanakesuma, Belakan Lor, Pecantian, Gili (semuanya terletak di sebelah timur Kampung Cina), Pasar Paseban, Pesawanan, Baru, Ketapan, Ngampel, Kapuran, Pencarian, Nyamplungan dan Girian (semuanya terletak di sebelah timur Kampung Melayu).
Pada waktu itu, batas-batas Kota Surabaya ditetapkan dengan Keputusan Pemerintah (Gouvernement Besluit) tertanggal Oktober 1831 No. 17, yang kemudian diatur kembali dengan keputusan tertanggal 30 September 1835 No. 15, batas kota ditandai dengan dinding-dinding tembok dan berukuran kira-kira 1,9 x 1,3 x 1 km2 = 2,47 km2 (Tjiptoatmodjo, 1983: 246).

Pusat Kota Lama Surabaya

Pada awal abad ke-19, Kota Surabaya yang dahulu bernama Hujung Galuh, berpusat di sekitar muara Kali Mas, dengan pola perkembangan berbentuk pita, mengikuti daerah pinggiran Kali Mas dan Pegirian. Hal ini menunjukkan, bahwa sejak dulu masyarakat Kota Surabaya sangat tergantung dengan keberadaan sungai dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini diperkuat dengan bukti-bukti sejarah yang di antaranya menyebutkan (Handinoto,1996: 20):
“...Di bawah kekuasaan Trunojoyo inilah Surabaya yang sebelumnya di bawah kekuasaan Mataram dan kemudian dirusak oleh orang-orang Makasar, mulai bangkit. Surabaya menjadi suatu pelabuhan transit dan tempat penimbunan barang-barang dari daerah yang subur, yaitu Delta Brantas, salah satu bagian yang paling subur dan juga paling padat penduduknya di Pulau Jawa. Letak Surabaya yang strategis ini mengakibatkan bangsa-bangsa yang gemar berlayar dari timur ke barat bertemu. Kali Mas serta merta menjadi suatu “sungai emas” yang membawa barang-barang berharga dari pedalaman. Pelayaran dan perdagangan membuat Kota Surabaya menjadi besar...”.

Hal itu menjadikan Belanda ingin merebut daerah “emas” ini. Kota Surabaya yang akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1743 terus mengalami perkembangan. Pola pengembangan yang dilakukan pemerintah Kolonial Belanda sangat memperhatikan potensi yang sudah ada. Hal ini terlihat bagaimana bangunan-bangunan kuno yang sekarang ada tertata pada suatu orientasi ke muka Sungai Kali Mas. Sumber-sumber sejarah menunjukkan, bahwa pemekaran Kota Surabaya menjurus dari arah utara ke selatan. Bagian kota lama terletak di sebelah utara dan kota baru terletak di sebelah selatan. P. Bleeker dalam catatan perjalanannya juga menyebutkan bahwa kota lama terletak di sebelah utara kota baru. Di sebelah Utara kota lama antara tembok kota dan labuhan terdapat tanah-tanah rawa. Di tengah-tengah daerah berawa inilah mengalir Kali Mas ke arah utara menuju muaranya. Citadel (benteng) Prins Hendrik yang berbentuk segi empat terletak di ujung Utara kota lama di tepi timur Kali Mas. Citadel ini berada pada jarak kurang lebih 1 pal  (1 pal = 1.507m) dari laut. Tembok kota memanjang dari sisi-sisi Citadel mengelilingi kota lama dari arah yang berlawanan untuk kemudian bertemu lagi di bagian Selatan kota pada Kali Mas. Kota baru yang terletak di sebelah selatan kota lama, mempunyai batas kota mulai dari dekat alun-alun, kira-kira setengah pal sebelah selatan dari rumah residen Surabaya. Menurut P. Bleeker, batas kota baru lebih besar bila dibandingkan dengan kota lama dan memiliki banyak penduduk, namun perumahan mereka tidak berdesak-desakan seperti tempat tinggal penduduk yang ada di dalam tembok kota lama Surabaya (Tjiptoatmodjo,1983:246).

Kota Surabaya mengalami puncak perkembangannya sekitar tahun 1900-an. Kota Surabaya telah memiliki beberapa fasilitas kota yang baik, di antaranya theater, taman terbuka, kantor pemerintahan, pusat perdagangan, sarana dan prasarana transportasi dan sebagainya. Pusat kota lama Surabaya pada waktu itu terletak di sekitar Jembatan Merah, menurut Handinoto (1996: 53):
“...sejak jaman Daendels tahun 1811, pusat Surabaya terletak di depan Jembatan Merah, dimana terletak kantor residen serta kantor pemerintah yang lain, seperti Kantor Bea Cukai, Kantor Kepolisian dan lain-lain. Kantor-kantor ini terletak di dalam satu gedung. Di sekitar gedung itu terletak sebuah lapangan terbuka yang dinamakan Willemsplein (sekarang Taman Jayengrono). Sampai tahun 1905 pusat Kota Surabaya masih tetap berlokasi di sekitar Jembatan Merah. Kantor Residen berhadapan dengan Jembatan Merah. Jadi kalau kita berjalan dari arah Jalan Kembang Jepun (dulu namanya Handelstraat), bangunan Kantor Residen itu terlihat sebagai focal point. Di sekitar pusat pemerintahan itu kemudian muncul kegiatan perdagangan, terutama di daerah Jalan Rajawali (dulu namanya Heerenstraat). Setelah tahun 1900-an daerah perdagangan ini meluas ke Selatan dan Timur, sampai Jalan Kembang Jepun...”.(x)

Kamis, 20 November 2014

You have no rights to post comments