Pengembangan Kawasan TOD, Harus Perhatikan Hal Ini

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Transit Oriented Development (TOD) menjadi salah satu bentuk perencanaan kota yang terintegrasi dengan memaksimalkan akses ke transportasi umum dengan memperhatikan jarak dan waktu tempuh yang nyaman bagi masyarakat untuk melakukan aktifitas kerja dan lainnya. Konsep TOD akan sangat berpengaruh dalam menurunkan kebutuhan untuk mengemudi dan konsumsi energi hingga 85%, dimana konsep ini sangat memerhatikan jaringan transportasi masal termasuk perencanaan untuk pejalan kaki atau sepeda. TOD dapat diterapkan tidak hanya untuk sebuah kota yang mempunyai kepadatan tinggi dengan aktifitas perdagangan dan bisnis yang tinggi juga.

[Baca: TOD Transit Oriented Development]

DKI Jakarta pun terus berbenah dan ditata menuju konsep TOD tersebut. Namun bagi Yoga Adiwinarto, Country Director The Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Jakarta masih mempunyai sejumlah kendala terhadap pengembangan TOD, antaralain hierarki jalan yang timpang, juga fasilitas pejalan kaki yang juga belum tersedia dengan baik.

“Contoh kecil saja adalah trotoar yang sangat tidak nyaman. Ukuranya kecil dan bahkan pejalan kaki di trotoar saja juga sering ditabrak kendaraan. Belum lagi soal jalur bagi para pesepeda. Ini yang mesti dibenahi terlebih dahulu,” ujar Yoga dalam bincang santai bertajuk, “Pengembangan Kawasan Berbasis TOD Menggerakan Perekonomian Jabodetabek” di Marketing Gallery Samara Suites, Jakarta, Kamis (6/4/2017).

Adapun beberapa hal yang musti diperhatikan dalam pengembangan TOD tersebut, khusus untuk area pejalan kaki, urai Yoga, antaralain adalah seluruh ruas jalan di dalam area TOD mendukung berjalan kaki, muka bangunan yang aktif dan permeable, terlindungi dari panas matahari dan hujan, serta pembukaan akses antargedung.

Selanjutnya untuk sepeda, antaralain jalur sepeda terproteksi dari kendaran bermotor, parkir sepeda di stasiun angkutan umum, juga adanya akses sepeda pada bangunan sekitar.

“Kawasan TOD harus berorientasi untuk pejalan kaki dan pengguna angkutan umum, bukan mobil. Dan stasiun angkutan umum massal pun harus dalam jangkauan berjalan kaki. Sehingga tidak perlu lagi bicara soal pelebaran atau penambahan jaringan jalan,” tegasnya.

[Baca: Bangun MRT, Ekonomi Fatmawati Turun 30 Persen]

Untuk ini, lanjut dia, arah pengembangan yang berorientasi pada angkutan umum TOD merupakan keharusan. “Hunian-hunian baru di tengah kota juga harus memiliki tata-guna lahan campuran (mixed-use), yang dapat digabungkan dengan pertokoan, kantor maupun pasar dan supermarket.”

Julius Warouw, Managing Director Synthesis Square menyambut baik adanya pengembangan TOD di Jakarta. Lokasi Samara Suites, apartemen yang mengusung konsep Business Apartment ini pun terbilang dekat dengan rencana pembangunan salah satu satasiun LRT yang melintas di Jalan Gatot Subroto. Dengan begitu, akan lebih mudah pula ketika mengaplikasikan sebagian konsep TOD sebagaimana yang direkomendasikan Yoga.

[Baca: Business Apartment Pertama Hadir di Indonesia, Harga Mulai Rp 1,1 Miliar]

“Jika bisa kami bangun, tentunya akan sagat membantu masyarakat sekitar dan juga penghuni di Samara Suites. Tetapi kami juga harus melihat bagaimana dengan rencana pemerintah yang membangun ini, sebab harus bersinergi,” kata Julius. [Pio]


"Kunjungi pameran properti online di www.propertipedia.asia"

You have no rights to post comments