×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Bangun MRT, Ekonomi Fatmawati Turun 30 Persen

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Proyek MRT Utara-Selatan (Foto: Satuharapan.com)

Sejatinya pembangunan infrastruktur terkait moda transportasi massal akan berdampak besar pada industri properti, tapi tak semua merasakan hal itu. Simak proyek mass rapid transit (MRT) yang tengah dibangun membelah pusat Kota Jakarta menuju selatan, tepatnya di Lebak Bulus.

Beberapa pengembang, terutama di sekitar stasiun akhir MRT, seperti Lebak Bulus, Cinere, dan Ciputat bahkan mengalami lonjakan kenaikan hingga lebih dari 50 persen. Namun di sisi lain, ada ‘ancaman’ pula bagi beberapa produk properti, terutama di sepanjang Jalan Fatmawati hingga Blok M yang diprediksi bakal semakin ditinggalkan.

“Yang pasti wilayah terkena dampak negatif adalah Lebak Bulus, kalau antisipasi transportasi tidak dikembangkan,” ujar Pengamat Tata Kota, Nirwono Joga kepada Property and The City, di Jakarta, belum lama ini.

Antisipasi yang dimaksud Joga antaralain belum adanya kejelasan soal titik-titik halte atau stasius MRT dan antisipasi fasilitas dan sarana tambahan berupa tempat-tempat parkir di sekitar stasiun tersebut, terutama di Ciputat.

“Sekarang disaat MRT masih dalam proses saja, kemacetan lalulintas dari Pasar Jumat ke Ciputat sudah tidak tertolong. Bahkan pagi sampai malam macet terus. Nah, nanti kalau MRT sudah jadi, orang Ciputat, Bintaro, dan Cinere akan nyerbu ke Lebak Bulus. Apakah sudah diantisipasi mengenai arus lalulintasnya, kemudian area parkirnya,” terang Joga.

“Dan yang terkena adalah warga atau penghuni yang tinggal di daerah Lebak Bulus. Karena macetnya pasti akan sampai ke Cinere, Lebak Bulus. Jadi ini hal pertama yang harus diperhatikan,” sambung dia.

Selanjutnya, sebut Joga, daerah sepanjang Jalan Fatmawati juga akan terkena imbas negatif adanya MRT. “Mulai dari perempatan Fatmawati sampai ke Blok M. Nah, keretanya di atas, kalau gedung kiri-kanan tidak ikut menikmati kegunaan MRT, maka bisa dipastikan dia mati. Kecil kemungkinan orang berhenti di halte sepanjang Fatmawati untuk kerja di Fatmawati,” jelasnya.

Alasannya, kata Joga, jarak tempuh antara Lebak Bulus dan Fatmawati yang hanya sekitar 10-15 menit, sehingga lebih banyak orang akan menggunakan kendaraan sendiri menuju kantornya di Jalan Fatmawati.

“Kalau kita melewati sepanjang Jalan Fatmawati, bisa dikatakan daerahnya mati. Ekonomi di situ, bisa dibilang turun drastis lebih dari 30 persen, bahkan kalau tidak ada perbaikan sampai 2018, maka bisa saja sampai 50 persen. Ini akibat adanya pembangunan tersebut,” kata Joga.

Joga juga menyoroti persoalan terkait penempatan halte/stasiun MRT yang menurutnya hingga saat ini belum ada kejelasannya. “Di sepanjang Fatmawati nantinya ada berapa stasiun. Apakah ada 5 atau 10? Apakah ditentukan berdasarkan jarak, misalkan setiap 1,5 km atau ditentukan berdasarkan kebutuhan di lapangan?.”

Menurut Joga, titik pemberhentian tersebut juga harus dibicarakan dan disosialisasikan sedari awal sehingga pembangunan sekitar stasiun juga dilakukan agar supaya bisa terintegrasi dengan MRT tersebut.

“Jadi kalau berhenti di ITC Fatmawati, bisa nggak nanti kita kembangkan dari stasiun ada jembatan penyeberangan langsung ke ITC Fatmawati. Ini dimaksudkan supaya nantinya nilai properti juga bisa naik,” terang Joga. [pio]

You have no rights to post comments