Perkantoran di Jakarta Oversupply, Tingkat Hunian Turun

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Saat ini, kawasan perkantoran di Jakarta ada kecenderungan terjadinya oversupply sehingga occupancy diperkirakan akan terus turun hingga tahun 2018. Hal itu dikatakan Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (29/6/2016).

Konsultan properti Colliers International ini juga menyatakan karena kawasan perkantoran di wilayah DKI Jakarta mengalami kelebihan pasokan, maka para pemilik gedung sukar mencari penyewa baru.

“Kemampuan pasar untuk menyerap ruang kantor terbatas, terlebih mengingat pertumbuhan pasokan area perkantoran adalah sekitar 500-600 ribu meter persegi setiap tahun,” ujarnya.

Ferry menyebut, ruang perkantoran di daerah CBD sudah mengalami penurunan tingkat hunian yaitu pada akhir tahun 2015 sekitar 90 persen, tetapi saat ini 85 persen saja. [Baca: Tingkat Okupansi Perkantoran CBD Merosot 78%]

“Sekitar 30 gedung perkantoran di CBD sudah menurunkan harga sewa. Ada tiga gedung baru yang tingkat huniannya hanya sekitar 10-25 persen,” katanya.

Ferry juga mengemukakan, pengembang apartemen di kawasan Jabodetabek umumnya menunda pembangunan proyek baru karena mereka ingin menjual proyek yang sebelumnya.

"Saat ini merupakan masa sulit bagi pengembang apartemen untuk berjualan karena terkait dengan kondisi perekonomian. Pasokan pasar apartemen pada kuartal II tahun 2016 lebih dominan di kawasan daerah penyanggah DKI Jakarta, antara lain di Tangerang dan Bekasi yang menunjukkan hunian vertikal semakin diterima di kawasan Jabodetabek,” terangnya.

Menurut Ferry, pasokan apartemen yang terbangun berdasarkan wilayah di kawasan Jabodetabek pada kuartal II-2016 yang terbesar adalah di Tangerang sebanyak 27,4 persen, Bekasi 18,1 persen. Jakarta Barat (10,9 persen), Jakarta Selatan (9,6 persen), Jakarta Utara (9,2 persen), Bogor (9,2 persen), Depok (7,0 persen), Jakarta Pusat (5,6 persen), Jakarta Timur (3,0 persen).

“Dengan relaksasi LTV, trennya saat ini akan semakin banyak yang berminat kepada KPR (Kredit Pemilikan Rumah) atau KPA (Kredit Pemilikan Apartemen),” tutur Ferry.

Menurutnya, selama ini untuk pembelian kondominium atau apartemen, biasanya hanya 30 persen yang menggunakan KPA, sedangkan sekitar 20 persen membeli langsung secara tunai, dan 50 persen lainnya membeli secara mencicil kepada pengembang tanpa melalui mekanisme KPA dari perbankan. [wan]

You have no rights to post comments