Tingkat Okupansi Perkantoran CBD Merosot 78%

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Tingkat Okupansi Perkantoran CBD Merosot 78%

Ilustrasi / dok. Colliers

Tingkat okupansi perkantoran di CBD diproyeksi terus melemah hingga 2018. Pasar perkantoran telah mengantisipasi pasokan baru dalam jumlah besar. Perlambatan pertumbuhan ekonomi bisa menjadi penyebab penurunan okupansi lebih dalam.

Hal itu ditegaskan Associate Director Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto dalam Jakarta Property Market Report di Jakarta, Rabu (6/4/2016). Dia mengatakan okupansi berpotensi anjlok seiring jumlah pasokan baru yang tidak seimbang dengan permintaan. Ferry menyebut, jumlah pasokan baru hingga 2018 tersebut lebih rendah 10% dari yang diumumkan pada akhir 2014. Beberapa proyek perkantoran yang semula ditargetkan rampung pada 2018, diperpanjang penyelesaiannya hingga 2019.

“Colliers memproyeksi hingga 2018 tambahan pasokan baru mencapai 540.000 m2 per tahun. Sedangkan permintaan hanya 280.000 m2 per tahun. Data Colliers menunjukkan, tingkat okupansi perkantoran di kawasan CBD pada kuartal III/2015 tercatat 92,7%, lebih rendah dibandingkan dengan posisi kuartal III 2014 sebesar 95,4%,” kata Ferry.

Ferry menambahkan, industri properti Tanah Air tak pernah bisa lepas dari kawasan ibukota Jakarta. Mengingat pasokan besar, tingkat hunian di CBD harus didrop pada akhir tahun yang kemungkinan besar akan memberikan tekanan ke bawah pada harga sewa.

Menurutnya, minat terhadap properti Indonesia masih cukup tinggi karena kondisi perlambatan ekonomi tidak saja terjadi di Indonesia, tetapi juga hampir seluruh dunia. Bila dibandingkan dengan negara lainnya, Indonesia masih lebih menarik.

“Karena kalau dibanding negara lain, harga properti kita masih lebih murah. Okupansi juga lebih bagus kalau dibandingkan negara Asean lainnya,” katanya,

Selain itu, program pembangunan infrastruktur yang masif dari pemerintah saat ini juga menjadi nilai lebih yang menarik minat investor asing. Pengembang dalam negeri pun cukup antusias terhadap keseriusan pemerintah, terutama visi pemerintah untuk mengarahkan pembangunan infrastruktur dan kawasan industri ke luar Jawa, menyasar wilayah pinggiran Indonesia.

Bagaimana dengan sektor hotel di Jakarta? Jakarta telah mengantisipasi kamar tambahan dari pengoperasian 39 hotel baru, dengan menyediakan 6.963 kamar selama 2015 – 2018. Sayangnya, kinerja hunian hotel di Jakarta setiap tahunnya turun dari 64,3% menjadi 53,7%. [wan]

You have no rights to post comments