×

Notice

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Pemimpin Harus Berani Jadi Pelayan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

AMRAN NUKMAN, Direktur PT Metropolitan Manajemen (Metland Group)
Ketua DPD Realestat Indonesia DKI Jakarta 2014-2017

 

“Pemimpin adalah seorang yang berani membuka ‘bajunya’ untuk dapat memerhatikan orang lain, termasuk kepentingannya. Pemimpin dimaknai Amran Nukman, sebagai seorang pelayan yang mampu melayani banyak orang. Pemimpin juga harus bisa bermanfaat bagi banyak orang.”

“Kita bisa mengawali di sebuah kolam kecil tapi cepat menjadi ikan besar, atau di kolam besar tetapi tetap jadi ikan kecil terus.”

 

Wajah ceriah penuh senyum pria berkacamata itu terpancar lembut menyambut Tim Majalah Property and The City di VIP Lounge, Metsky, Horison Hotel, Bekasi, Senin (25/1/2016). Beberapa pertanyaan yang diajukan pun disambut senyum sumringah sembari mengisahkan perjalanan hidupnya hingga meraih tampuk kepemimpinan di PT Metropolitan Manajemen.

Kesuksesannya kini, diceritakan Amran sebagai sebuah proses perjalanan hidup yang tak pernah disesalinya. Amran dihadapkan pada dua pilihan, antara Fakultas Hukum di Universitas Indonesia atau Teknik Sipil di Universitas Trisakti. “Pada dasarnya saya senang ilmu hitung-hitung,” kisah Amran sembari melanjutkan, “Tahun 1983 saya lulus Sipenmaru (seleksi penerimaan mahasiswa baru) Fakultas Hukum UI dan juga diterima di Teknik Sipil Trisakti. Karena saya lebih suka hitung-hitungan, maka saya memilih Teknik Sipil.”

Hitung-hitungan analisis mengenai struktur, rekayasa bangunan hingga konstruksi dia pelajari. Meski demikian, targetnya saat itu bukanlah menjadi kontraktor, konsultan, atau developer seperti kebanyakan lulusan Teknik Sipil lainnya. Amran justru lebih ‘melirik’ perusahaan perbankan atau asuransi yang kala itu belum banyak orang terjun ke sana. “Kalau asuransi kan menjamin properti, sementara perbankan membiayai properti,” jelasnya.

Akhirnya Amran pun benar-benar terjun ke perbankan, selepas menyelesaikan studinya pada 1989. Di Bank Duta, saat itu, Amran bekerja sebagai analis kredit. Namun lagi, belum sebulan bekerja, Amran dihadapkan pada pilihan antara Bank Duta atau menerima tawaran bekerja pada sebuah perusahaan developer, meski perusahaan tersebut masih sangat kecil.

“Kita bisa mengawali di sebuah kolam kecil tapi cepat menjadi ikan besar, atau di kolam besar tetapi tetap jadi ikan kecil terus. Apakah saya tetap stay di Bank Duta yang karyawannya mencapai 2.000 orang di seluruh Indonesia atau di PT Syailendera (Inti Fauzi Group) yang tidak sampai 20 orang. Saya masih fresh graduate sehingga saya pilih mau jadi besar,” ungkap Amran.

“Tidak ada properti yang sama. Bahkan di satu komplek. satu tipe yang dibangun oleh satu developer pun, pasti tidak sama. Selalu ada yang berbeda. Dan masih banyak hal yang membuat properti ini menjadi sangat unik dan menarik. Jadi ini pastinya menantang,”

Sejak saat itu Amran pun menggeluti bidang properti dan mulai terlibat membangun beberapa perumahan, ruko, hingga gedung perkantoran. Salah satunya yang cukup menjadi kebanggaan Amran adalah berdirinya gedung Graha Inti Fauzi di Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan. Amran terlibat sejak awal pembangunan gedung 15 lantai di atas lahan 7.000 meter persegi tersebut.

“Setelah melakukan survei dan analisa pasar, kami berkesimpulan bahwa gedung yang akan dibangun ini harus menjadi office yang disewakan. Jadilah gedung itu sampai sekarang masih disewakan dan penuh terus. Menjadi favorit di wilayah itu,” cerita Amran.

Berbagai pengalaman di perusahan kecil ini justru menjadi pengalaman berharga yang mendewasakan, terutama dalam hal berhitung, dan berbisnis. Di grup usaha ini pula, bersama pemiliknya, Fauzi Achmad, mereka mendirikan PT Inti Fauzi Corpora pada tahun 1995. Amran pun didaulat sebagai Direktur Operasional hingga 2009.

Karir kepemimpinannya di dunia properti tak berhenti di situ. Sekira 3,5 tahun Amran bergabung ke Jones Lang LaSalle – Procon. Pada Juli 2012, ia pun mulai mengawali kiprahnya di salah satu grup properti besar di Indonesia, yakni Metropolitan Land (Metland). Amran ditunjuk menangani Metland Menteng sebagai Senior General Manager hingga penghujung 2012. Selanjutnya, ia kembali dipercaya mengelola Mal Metropolitan Bekasi dan Grand Metropolitan Bekasi. Atas kesuksesannya itu, ayah dari Anisa Nadira Amran dan Muhammad Farhan Amran ini dipercaya sebagai Direktur di PT Metropolitan Manajemen.

Menjadi Pemimpin

Amran lahir di sebuah kota kecil di Sumatera Selatan, tepatnya di Prabumuli, 3 Mei 1964. Pekerjaan ayahnya mengharuskan keluarga Amran berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya, seperti ke Balikpapan, Aceh, dan Medan. “Saya TK di Prabumuli, SD di Balipapan, SMP di Aceh Timur, dan SMA di Jakarta. Saat SMA saya merantau, sementara orang tua saya di Medan. Saat kuliah baru orang tua saya pindah ke Jakarta,” kenang Amran.   

Pengalaman hidup yang selalu berpindah ini nampaknya juga membentuk sikap Amran menjadi lebih berani, pandai bergaul, dan bersosialisasi. Maka tak heran, sejak kelas 1 SD ia sudah dipilih sebagai ketua kelas. Bahkan di SMA Negeri 11 / 70 Bulungan, Jakarta, pun Amran masih dipercaya memimpin kelasnya, juga beberapa organisasi di sekolah.

Tak disadari, jiwa kepemimpinanya itu sudah tumbuh sejak kecil hingga spontan Amran kecil selalu menjawab “menjadi pemimpin” ketika ditanya mengenai cita-citanya, saat itu. “Dalam benak saya saat itu, menjadi pemimpin pastinya selalu diistimewakan. Bahkan dulu saat masih aktif di Pramuka, saya selalu ingin supaya di seragam Pramuka saya ada atribut bergaris tiga atau sebagai Pemimpin Regu Utama (Pratama). Dan saya mendapatkan itu,” kenang anak pertama dari lima bersaudara ini sambil tersenyum.

Pengalaman berorganisasi sejak kecil itulah yang telah membentuk karakter Amran menjadi seorang pemimpin yang berwibawa serta bertanggung jawab. Bahkan tidak hanya di perusahaan properti, tapi juga di organisasi Realestat Indonesia (REI), khususnya di wilayah DKI Jakarta. Amran juga dikenal sebagai orang yang pandai bergaul dan bersosialisasi dengan masyarakat di lingkunganya. Bahkan tidak mengherankan jika dia pun dipercaya memimpin warganya di Bintaro sebagai ketua RT dan RW selama 15 tahun.

Lantas apa sesungguhnya makna seorang pemimpin bagi Amran? Bagi Amran, seorang pemimpin adalah pelayan yang harus berani dan bisa melepaskan ‘bajunya’ sendiri untuk kemudian memerhatikan orang lain, termasuk kepentingan mereka. “Orang yang terbaik diantara seluruh manusia itu adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Ini adalah falsafah hidup yang selalu saya pegang,” kata Amran.

Pensiun di Properti

Kini, 27 tahun sudah Amran berkiprah di ranah bisnis properti. Seiring waktu, kecintaannya terhadap properti pun terus tumbuh, bahkan dipastikan Amran akan pensiun di bidang ini. “Pastinya saya akan pensiun di bidang ini, karena itu bagian dasar kebutuhan manusia,” tegasnya. Mengurusi properti adalah kebutuhan dasar manusia, yang bagi Amran sangat dinamis dan menantang. “Tidak ada properti yang sama. Bahkan di satu komplek. Satu tipe yang dibangun oleh satu developer pun, pasti tidak sama. Selalu ada yang berbeda. Dan masih banyak hal yang membuat properti ini menjadi sangat unik dan menarik. Jadi ini pastinya menantang,” terang Amran.

Lebih jauh, mengutip ucapan Maestro Properti Indonesia, Ir. Ciputra, “Bisnis Properti Itu Seperti Lari Cross Country Marathon” dimana properti menurut Amran tak ada habisnya. Meski melewati berbagai aral dan tantangan yang kadang tidak menentu, namun semua itu harus bisa dihadapi dan diselesaikan dengan tuntas. “Sama ketika saya di REI atau di Metland ini, banyak tantangan yang kami hadapi tetapi kami bisa lewati itu semua, meskipun tidak semua berjalan mulus,” katanya.

Persoalan properti bahkan sejak berdirinya REI 44 tahun lalu masih dihadapkan pada problem klasik soal urusan tanah, perizinan, listrik, dan pembiayaan. Hal yang sama juga dialami REI DKI Jakarta terutama terkait dengan beberapa program mandek hingga bertahun-tahun. Amran mencontohkan proyek pembangunan rumah susun (rusun) di Pulogebang, Jakarta Timur yang baru selesai diserahterimakan pada akhir Desember 2015 lalu.  
“Jadi REI DKI mengorganisir sebanyak 18 pengembang untuk membangun rumah susun di Pulogebang sebanyak 360 unit. Ini pembahasannya sudah kita mulai sejak sembilan tahun yang lalu. Problemnya banyak sekali, padahal kalau lancar saja, 1,5 tahun juga sudah bisa selesai,” kata Amran.

“Tapi Alhamdulillah,” sambung Amran, kelanjutan pembangunan rusun tersebut dapat terlaksana disaat kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. “Dan 23 Desember 2015 lalu, kami bisa tuntaskan dan serahkan dua blok sisanya. Saya serahkan ke Kepala Dinas Perumahan dan Pak Ahok menyaksikan langsung. Yang melegakan, bukan soal menyerahkannya, tapi ini pekerjaan sembilan tahun yang akhirnya bisa terlaksana dan sukses.”

Bicara soal obsesi yang belum tercapai, Amran tegas mengatakan bahwa dia ingin mencapai jenjang tertinggi dalam karirnya. Ini terus dia lakukan dengan berbagai terobosan dan hal-hal positif baru melalui pekerjaan dan tanggung jawab yang kini diembannya. “Kalau bisa, baik dalam komunitas maupun pekerjaan, terus berjenjang naik, karena ini natural. Saya berharap, suatu saat saya bisa masuk ke dalam jajaran pimpinan di perusahaan induk,” harap Amran.(jkt,1/3/2016)

You have no rights to post comments