Milenial Terancam Jadi Gelandangan, Jika Tidak Segera…

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 
Hasil temuan beberapa lembaga menyebutkan bahwa sebagian besar generasi milenial terancam jadi gelandangan.

 

Kenaikan harga properti yang terlampau cepat akan semakin sulit dijangkau oleh sebagian besar kalangan milenial. Gaji para milenial yang lahir antara tahun 1980-1995, bahkan disebut hanya 5% persen yang sanggup beli rumah. Sementara kebanyakan dari generasi ini juga masih cenderung mementingkan gaya hidup dibandingkan kebutuhan masa depan mereka sendiri.

CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda mengungkapkan, saat ini rata-rata penghasilan kaum milenial tertinggal 10-15% setahun dibandingkan dengan kenaikan harga properti. Dengan demikian, sangat sulit bagi para milenial membeli rumah.

“Apalagi bagi mereka yang gaya hidupnya cenderung hedonis. Gaya hidup memang penting. Tapi masa depan lebih penting lagi. Menabung untuk membeli properti harus menjadi gaya hidup kaum milenia,” kata Ali beberapa waktu lalu.

Pendapat Ali juga tidak jauh berbeda dengan hasil survei portal Rumah123 yang dipublikasikan pada akhir tahun lalu. Diterangkan bahwa pada tahun 2020, hanya 5% kaum milenial (lahir 1982 – 1995) yang sanggup beli rumah. Sebaliknya, sebanyak 95% kaum milenial justru tidak memiliki rumah. Salah satu sebab utamanya adalah kenaikan harga hunian yang rata-rata per tahunnya mencapai 17%.

Baca Juga:

"Sementara UMR cuma sampai 10%. Hal ini juga hampir sama dengan wilayah lain di luar Jakarta, seperti Bodetabek," kata Ignatius Untung, Country General Manager Rumah123.

Untung mencontohkan harga rumah berukuran 70 m2 di Summarecon Bekasi yang sudah mencapai Rp1,2 miliar. Dengan ukuran yang sama, di Tambun, Bekasi juga sudah mencapai Rp600 jutaan. Sedangkan rumah seharga Rp300 jutaan semakin sulit ditemukan.

“Untuk rumah second saja rata-rata sudah lebih dari Rp1 miliar,” imbuhnya.

Berdasarkan house price to annual income ratio atau rasio harga rumah berbanding pendapatan pertahun, harga rumah yang sebaiknya dibeli maksimal 3 kali dari penghasilan tahunan (12 kali gaji, bonus dan THR).

Jika diambil contoh rumah seharga Rp600 juta, maka generasi milenial harus memiliki penghasilan per tahun Rp200 juta atau perbulannya Rp16 jutaan.

“Jadi hanya sekitar 5% kaum milenial yang punya penghasilan sebesar itu,” tegas Untung.

Untung mencontohkan, gaya hidup milenial yang lebih mementingkan kesenangan, seperti traveling atau smartphone. Padahal kenaikan harga gadget maupun tiket perjalanan tidak begitu signifikan.

“Jadi rumah harus diutamakan. Travelling bisa ditunda dan harga tiket naiknya enggak besar. Sementara rumah naiknya sangat besar, bahkan pernah sampai 100% dalam setahun. Jika tidak didahulukan tidak akan punya rumah," tegasnya.


##
Mulai saat ini, ubah mindsetmu, menabung harus menjadi gaya hidup kalian!
Ayo milenial kita harus punya rumah! Nantikan pameran properti online pertama di Indonesia untuk kalian semua #HunianZamanNow, pada tanggal 1 – 31 Mei 2018 di www.PropertyExpo.id. Bebas Macet, Bebas Parkir, Kapan Saja Dimana Saja!

You have no rights to post comments