Tiga Arsitek Indonesia Berjaya di LafargeHolcim Awards Asia Pasifik

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Para pemenang LafargeHolcim Awards 2017 - Asia Pasifik dari Indonesia (tengah), berfoto bersama dengan Prof. Gunawan Tjahjono, Guru Besar Arsitektur, Universitas Indonesia (kanan) dan Oepoyo Prakoso, Sustainable Development Manager Holcim Indonesia (kiri) / dok. Holcim Indonesia

 

Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann dari SHAU Architect, Bandung yang memenangi kategori utama, Silver Award dan selanjutnya akan berkompetisi di tingkat global.

Tiga arsitek asal Indonesia berhasil keluar sebagai pemenang dalam ajang LafargeHolcim Awards 2017 untuk Asia Pasifik. Tiga proyek dari Indonesia tersebut memenangi kategori yang berbeda, bahkan satu diantaranya berhasil memenangi kategori utama, yakni Silver Award.

Dalam sebuah acara pertemuan dengan para pemenag di Jakarta Design Center (JDC), Slipi, Jakarta, Jumat (8/12/2017) lalu, disebutkan bahwa konstruksi berkelanjutan di Asia Pasifik memiliki makna tersendiri bagi pembangunan untuk masyarakat.

Hal ini jelas terlihat dari berbagai proyek yang memenangkan hadiah di LafargeHolcim Awards untuk Asia Pasifik yang diserahkan di Kuala Lumpur, Malaysia pada 23 November 2017 lalu.

Adapun tiga kategori yang dimenangkan para arsitek asal Indonesia tersebut, yakni Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann dari SHAU Architect, Bandung yang memenangi Silver Award dalam kategori utama (Main Category).

BACA: Ary dan Harapannya pada Kompetisi Konstruksi LafargeHolcim Awards

Kolaborasi kedua arsitek ini menyita perhatian dewan juri melalui karya "perpusatakan mikro" sebuah pusat pembelajaran di Kota Bandung yang dibangun dengan konstruksi yang sederhana. Perpusatakan ini secara aktif mendorong minat baca masyarakat di Bandung, dan bisa diterapkan di daerah lainnya.

Pemenang Silver Award ini selanjutnya akan mengikuti kompetisi LafargeHolcim Awards 2017 di tingkat global.

Pemenang selanjutnya adalah Acknowledgement Award melalui proyek pusat pelatihan untuk pertanian organik yang berada di Parung, Jawa Barat. Proyek ini merupakan karya Kamil Muhammad dan Brahmastyo Puji, dari Pppooolll, Jakarta, Indonesia.

Kemudian kategori Next Generation Award dimenangkan arsitek muda Indonesia, yakni Andi Subagio dan tim dari SASO, Jakarta. Karya mereka adalah sebuah proyek fasilitas pelatihan keterampilan di Ruteng, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Bahan alami bambu yang banyak dijumpai di sekitar proyek menjadi bahan utama merampungkan fasilitas bagi anak-anak di Pulau Flores tersebut.


Desain Berkelanjutan

Pemenang Main Category, Silver Award LafargeHolcim Awards 2017 - Asia Pasifik, Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann, dari SHAU, Bandung. / dok, Holcim Indonesia

LafargeHolcim Awards mengapresiasi konstruksi lebih dari hanya sekadar bangunan yang indah. LafargeHolcim Awards merupakan kompetisi paling bergengsi di dunia untuk desain berkelanjutan.

Kriteria kompetisi berhadiah total USD 2 juta ini sama menantangnya dengan tujuan berkelanjutan itu sendiri. Kompetisi ini mencari proyek di tingkat desain lanjutan, bukan karya akhir.

BACA: Dibuka! Sayembara Bangun Kota dan Lingkungan Berhadiah $2 Juta

Kompetisi ini memberikan pengakuan terhadap desain yang melampaui standar saat ini, menonjolkan respons berkelanjutan atas berbagai isu teknologi, lingkungan, sosial ekonomi, dan budaya yang memengaruhi konstruksi kontemporer, dan menawarkan solusi visioner terhadap cara kita membangun.

Kompetisi LafargeHolcim Awards Asia pasifik merupakan tahap pertama yang diadakan di lima wilayah dunia yang berbeda. Selanjutnya para pemenang utama dari masing-masing wilayah tersebut akan maju ke tahap global.

Kompetisi di wilayah Asia Pasifik sendiri secara khusus mewakili beragam budaya, negara, dan iklim. Ini tercermin dari 1.100 lebih proyek yang ikut serta dalam kompetisi ini. [Pius Klobor]

You have no rights to post comments