Dari Fitness ke Properti

0
178

IBAH DJAUHARI,

General Manager KSO PERUM PERUMNAS-PT. BAKRIE PANGRIPTA LOKA

Properti selalu penuh kisah, termasuk kisah orang-orang yang ingin meraih sukses sebagai sales di properti. Ibah Djauhari punya kisah kesuksesannya sebagai sales di properti.

Cerita tentang orang-orang yang dari membaca buku mendapatkan motivasi dan inspirasi selalu menjadi cerita klasik dari mereka yang sukses dalam karir dan pekerjaanya. Gadget tetap tidak bisa menyingkirkan buku buat orang-orang yang selalu menyempatkan diri membaca buku di tengah kesibukannya bekerja. Kisah seperti ini juga muncul dari seorang Ibah jauhari, General Manager KSO Perum Perumnas-PT. Bakrie Pangripta Loka.

Ibah Djauhari, bukanlah orang yang mengenal bisnis properti usai menyelesaikan pendidikannya di Amerika Serikat. Sebelum meggeluti dunia properti, ia berada di lingkungan bisnis fitness. Bisnis yang dekat dengan olah tubuh yang dibentuk. Rentang tujuh tahun di bisnis fitness menurutnya sudah cukup enak baik dari segi penghasilan maupun posisi. Ia sudah menduduki jabatan club manager di sebuah fitness club. Tetapi di fitness club bukanlah dunia marketing yang dipegang tetapi di operasional, yang menurutnya tidak memberi tantangan dari segi penghasilan. “Tidak ada komisi kalau di operasional, beda kalau di sales,” ujar jebolan Colorado University, Denver Colorado, bidang komunikasi.

Pria yang menyelesaikan sekolah menegah atas di Rengeview High School, Aurora Colorado, rupanya gemar membaca buku terutama buku-buku yang memberi motivasi. Dari buku-buku yang dibaca itu, Ibah mendapat inspirasi kalau ingin mendapatkan sesuatu yang berbeda harus melakukan suatu cara yang juga berbeda. Apa yang berbeda yaitu dari segi penghasilan. Inilah yang mendorong dirinya berpikir untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat dirinya berubah. Dunia fitness menurutnya tidak memberi tantangan dari segi penghasilan, sementara kalau dunia sales penghasilan dari komisi tidak ada batasnya.

“Properti Adalah Kebutuhan Setiap Orang Tetapi Tidak Semua Orang Mengerti Properti Apa Yang Harus Dibeli. Akan Ada Rasa Kepuasaan Apabila Dalam Menjual Properti Sekaligus Membantu Orang Yang Semula Tidak Tahu Properti, Menjadi Tahu Dan Tertarik Membeli Properti.”

“Kalau ingin kaya mendadak, pilihannya jadi lawyer. Tetapi jadi lawyer tidak bisa. Sepertinya saya harus masuk ke dunia sales. Ini yang membuat saya tertarik masuk ke dunia sales. Apalagi waktu di club fitness saya tidak pernah berada di dunia marketing ,” ujar ayah satu anak ini.

Dunia marketing sudah dalam bayangan, lalu apa yang dipasarkan yang penghasilannya bisa menjanjikan. Ternyata bisnis properti yang muncul di benak pria yang meraih The Best Sales SentraTimur Residence sebanyak empat kali. Dunia properti tidak muncul begitu saja di benak Ibah. Kali ini inspirasi datang teman-temannya. Cerita-cerita dari temannya yang sudah menggeluti bisnis properti rupanya menantang Ibah untuk mencoba masuk. “Awalnya dengar-dengar dari teman. Ada teman yang di gym sudah masuk duluan ke properti. Dari sini saya tertarik masuk ke properti,” ujar Ibah.

Apalagi dari segi penghasilan menjadi sales di properti sangat menjanjikan dan betul-betul tidak terbatas. Ia mengambil contoh kalau memasarkan ruko yang satu ruko bila terjual komisinya bisa mencapai Rp100 juta. Kalau mampu menjual 10 unit ruko, bisa dihitung berapa komisi yang diterimanya. Jauh lebih besar ketimbang ketika di club fitness di bagian operasional yang penghasilannya tetap setiap bulan. “Saya deal ruko dua lantai komisinya bisa sampai Rp200 juta. Ini sekali deal. Bayangkan kalau beberapa kali. Ini yang membuat ketertarikan saya di properti,” ujar Ibah.

Jadilah pada tahun 2011, Ibah bergabung ke Sentra Timur Residence. Di dunia properti Ibah mengaku berangkat dari bawah di mulai sebagai sales. Tangan dingin Ibah dibuktikan di apartemen Sentra Timur Residence yang pernah menjual 21 unit apartemen (personal) hanya dalam waktu dua hari. Padahal, seperti diakui Ibah dirinya masih buta soal sales ketika masuk ke Sentra Timur Residence. Karirnya cukup melesat sebagai sales di Sentra Timur Residence. Dalam waktu dua tahun dipercaya menjadi manager of sales atau superviser. Tahun 2014 kemudian dipercaya menjadi asisten sales head. Tahun 2016 dipercaya memegang keseluruhan menjadi GM Sales untuk seluruh proyek Perumnas, seperti perumahan di Bogor, Cimanggis, dan Jakarta Timur.

Di luar penghasilan yang menjanjikan dan target pribadi, ada sisi menarik yang muncul dari Ibah yang membuatnya terjun ke properti. Menurutnya, properti adalah kebutuhan setiap orang tetapi tidak semua orang mengerti properti apa yang harus dibeli. Akan ada rasa kepuasaan apabila dalam menjual properti sekaligus membantu orang yang semula tidak tahu properti, menjadi tahu dan tertarik membeli properti. Ia bisa memberi pandangan dan nasehat kepada calon konsumen properti apa yang sebaiknya dibeli, terlepas kalau kemudian konsumen tersebut membeli proyek yang lain.

Ia memberi contoh ketika memasarkan Sentra Timur Residence, sebagai hunian di tengah kota dengan berbagai fasilitas moda transportasi lengkap, nyaman untuk ditinggali. Ia berhasil meyakinkan konsumen sehingga tertarik membeli apartemen atau landed house di Sentra Timur Residence. Ketika konsumen puas dan senang setelah mengambil properti yang dipasarkan, ternyata memberi efek lanjutan di proyek-proyek berikutnya yang dipasarkan.

Terbukti kemanapun ia pergi memasarkan proyek lainnya, konsumen yang sebelumnya sudah membeli apartemen di Sentra Timur Residence, kemudian tertarik dan percaya dengan proyek lainnya yang ditawarkan Ibah. “Jadi bukan hanya saya saja yang untung tetapi konsumen juga mendapat kepuasan dari proyek-proyek yang saya tawarkan,” ujar Ibah.

Properti adalah bisnis yang punya resiko tinggi. Tidak selamanya berjalan mulus-mulus saja penjualan properti. Ada gangguan ekonomi atau hajatan nasional yang menyita perhatian rakyat banyak, bisa jadi akan memengaruhi pasar properti. Inilah yang disebut tantangan dalam bisnis properti, dan ini juga dirasakan oleh Ibah. Menurutnya, ada beberapa moment yang sebagian orang menganggap bukan moment yang terbaik untuk menjual properti. Momen seperti pilpres, liburan, masa puasa, tahun ajaran baru dianggap sebagai moment yang sulit untuk menjual properti. Kondisi seperti ini bisa membuat pengembang angin-anginan menjual produknya.

Padahal, di sinilah dituntut para sales untuk kreatif menghadapi moment tersebut untuk menangkap konsumen. Seperti menyiapkan gimmick-gimmick yang menarik, tetap membuka pameran-pameran yang kreatif yang bisa menarik konsumen. Inilah peluang bagi para sales untuk tetap konsisten berjualan di moment yang sulit, dan ini dibuktikan oleh Ibah ketika pilpres di 2014 tetap bisa jualan waktu itu. Termasuk di moment pilpres 2019 ini tetap bisa berjualan. “Kita tetap grab konsumen agar tetap bisa jualan,” ujar Ibah yang lahir di Jakarta dan menghabiskan pendidikannya di Amerika Serikat.

Tantangan lain adalah ketika seorang sales dituntut untuk menjual suatu proyek sesuai target dan cepat laku. Padahal proyek tersebut bukan favoritnya. Sudah tidak berminat pada proyek tersebut tetapi justru dituntut untuk menjualnya. Apa bukan tantangan ini. “Artinya, jangan enak menjual yang mudah-mudah saja. Ini juga tantangan yang dihadapi,” ujar pria yang punya motivasi menjadi pengusaha dan sales yang sukses.

Semangat dan tekad yang luar biasa selalu ditanamkan oleh Ibah kepada para team sales marketing. Menurut pria yang punya motto, “Semangat Luar Biasa Bisa Mengalahkan Segalanya”, kita bisa mengalahkan apa saja walaupun berangkat dari pengalaman nol. Ini yang dirasakan oleh Ibah ketika masuk ke Sentra Timur Residence belum pernah punya pengalaman apapun di dunia sales..

“Punya semangat luar biasa bisa mengalahkan segalanya karena yang tidak bisa pasti mau belajar, karena susah harus belajar, karena jauh harus dikejar, karena tidak bisa harus bisa. Dengan tahu sales, akhirnya tahu tentang legal karena harus belajar legal. Tahu sales akhirnya harus belajar hitung-hitungan,” ujar Ibah, yang punya motivasi sukses di keluarga akan sukses di luar menjadi sales.

Ibah yang mengaku punya darah lengkap karena ibu berdarah Ambon-Solo dan Ayah berdarah Chinnese- Bandung, ketika ditanya apakah kelak akan menjadi pengembang, mengaku sangat terpikir menjadi pengembang setelah sukses sebagai sales. “Ada kepikiran (menjadi pengembang-red), tetapi karena kesibukan bekerja belum terpikirkan,” ujarnya.

Apalagi teman-temannya yang sudah tidak punya kesibukan dan punya modal mulai masuk ke bisnis properti. Mereka kemudian membeli tanah, bangun sendiri dan menjual sendiri. Setelah sekian tahun di bisnis properti di dunia marketing dan diberi tanggung jawab menjual, jadi tahu lahan sekian, luas bangunan sekian, berapa harga yang bisa dijual.

“Rasanya kita jadi punya insting untuk punya usaha sendiri. Jadinya, learning by doing karena bukan cuma bagaimana memikirkan jualan, tetapi tahu soal lahan yang bagus dan tidak. Mungkin nanti kalau sudah stabil, hahaha ….,” ujarnya. (Hendaru, Pius Klobor) ●

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here