PASAR YANG MEMBATASI

0
248
rencana proyek properti

Kurang lebih di awal tahun 2005, seorang pengembang datang kepada saya untuk berdiskusi seputar rencana proyek properti dengan jenis pengembangan trade center. Maraknya pengembangan trade center saat itu membuatnya ikut tergerak untuk juga meraup berlian dari keberhasilan teman-temannya yang lebih dahulu masuk ke properti. Memang diakuinya bahwa ia belum ada pengalaman sama sekali di dunia bisnis properti. Namun untuk urusan modal jangan diragukan, karena ternyata ia seorang pengusaha yang sukses.

Tingginya keuntungan yang besar menjadi pertimbangan utama mengapa ia ingin masuk ke bisnis properti. “Bayangkan…“, katanya. “ Saya cuma modal untuk membeli tanah dan bangun kios seharga total lebih kurang Rp 5 juta per m2, tapi saya bisa jual paling tidak Rp 15 juta pe rm2 bahkan lebih“. Saya pun mengamininya.

Pengusaha tersebut merencanakan pembangunan kios sebanyak-banyaknya. Karena semakin banyak kios dibangun, maka akan lebih banyak lagi keuntungan yang diperoleh, katanya. Apakah ada yang salah dari pemikiran pengusaha tersebut? Secara prinsip, pengusaha tersebut tidak salah untuk berpikir return. “Ketika saya membangun 500 unit saya untung Rp 50 miliar. Kalau begitu saya akan bangun 1000 unit jadinya bisa untung Rp 100 miliar,” jelasnya.

Saya balik bertanya “Bapak pilih yang mana, membangun 500 unit terjual 500 unit, atau membangun 1.000 unit tapi terjual hanya 500 unit”.
Pemikiran seperti ini masih sering terjadi sampai saat ini, dimana para pengembang merasa dia yang dapat mengendalikan pasar. Kenyataannya pasarlah yang nantinya menentukan. Karena mau sebanyak apapun, sebagus apapun yang dikatakan pengembang, bila tidak sesuai dengan keinginan pasar, maka proyek tersebut akan gagal. Karenanya melihat seberapa dalam kapasitas pasar harus menjadi faktor utama. ● [AT]