PALEMBANG ADA MOMENTUM KEBANGKITAN PROPERTI

0
30

Efeknya tidak bisa langsung dirasakan, tetapi keberhasilan Asian Games akan memberi kepecayaan investor dan pelaku bisnis properti di Palembang.

Palembang boleh bangga karena bersama Jakarta menjadi tuan rumah ASIAN GAMES 2018 JAKARTA-PALEMBANG. Selama penyelenggaraan Asian Games ke-18 dari 18 Agustus hingga 2 September, nama Palembang, selain Jakarta, dipastikan muncul di media-media di negara Asia menyajikan berita para atletnya berlomba menggapai medali tertinggi. Nama Palembang pada akhirnya akan diingat hingga puluhan tahun ke depan sebagai satu dari dua kota di Indonesia yang pernah menjadi tuan rumah hajatan olah raga terbesar di benua Asia ini.
Tentu tidak sekadar diingat sebagai tuan Asian Games ke-18. Ada yang lebih diharapkan pasca Asian Games 2018 yaitu memberi efek ekonomi kepada Palembang dan ini sebetulnya yang diharapkan pelaku bisnis di Palembang. Di sektor pariwisata, misalnya, diharapkan Palembang menjadi magnet baru pariwisata di Indonesia, selain kota-kota Indonesia lainnya yang sudah mendunia. Ketika wisatawan berkunjung ke Pulau Sumatera, akan ingat nama Palembang sebagai kota penyelenggara event olah raga internasional.

Baca juga :

Apa kata pelaku industri pariwisata terkait event Asian Games
ini. Ada nada optimis kenaikan jumlah wisatawan asing setelah selesainya Asian Games 2018. “Tahun 2016 jumlah wisman
(wisatawan mancanegara-red) 8.000 orang, tahun lalu sudah 10.000. Kami yakin pasca Asian Games ini bisa 2-3 kali lipat,” ujar Isnaini Madani, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang kepada Property and The City yang menemuinya di Palembang.
Isnaini tidak lupa menyebut beberapa destinasi wisata di Palembang yang layak dikunjungi wisatawan. Ada Pulau Kemaro, Alqur’an Al-Akbar, Kampung Al-Munawar, wisata kuliner Lorong Basah, Plaza Benteng Kuto Besak (BKB), wisata belanja di Pasar 16 Ilir, dan tentu saja jembatan legendaris yang sudah menjadi icon Kota Palembang yaitu Jembatan Ampera..

Tingginya kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara ke Palembang, bisa dilihat dari penggunaan transportasi udara. Saat ini ada sebanyak 55 penerbangan per hari dari Palembang menuju ke berbagai destinasi di Indonesia. Ke Jakarta sendiri sebanyak 33 penerbangan per hari. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk punya 19 kali penerbangan per hari, dengan sembilan penerbangan di antaranya menuju ke Jakarta.

Garuda mengoperasikan jenis pesawat Boeing 737-800 dengan jumlah 162 seat. Jika rata-rata seat load factor (SLF) di atas 80 persen, maka sudah lebih dari 1.000 penumpang yang masuk
ke Palembang setiap harinya. Ini belum terhitung maskapai penerbangan lain yang rata-rata adalah low cost carrier (LCC).
“Garuda yang full service saja berani 19 flight, apalagi yang LCC. Saya berani bilang Palembang sudah layak sebagai kota MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition-red). Bukan hanya Bali atau Surabaya,” ujar Wahyudi Kresna, General Manager PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Palembang.
Tak salah kalau Palembang dijuluki sebagai Kota MICE. Pasalnya, saat ini sudah ada sekitar 11.000 kamar yang tersebar di berbagai hotel di Palembang dengan rata-rata okupansi 70 persen. Hotel bintang lima ada tujuh, yakni Novotel, Aryaduta, Excelton, Wyndham Opi, Aston, The Arista dan Santika Premiere.

Jangka Panjang di Properti

ektor lainnya yang diharapkan terkena imbas event Asian Games adalah properti dan infrastruktur. Beberapa kalangan menilai imbas ke sektor properti memang tidak bisa langsung dirasakan, ibarat makan sambal langsung terasa pedas di lidah. Tetapi dengan keberhasilan menjadi penyelenggara, akan direspon positif oleh investor properti maupun pengembang untuk masuk ke Palembang.
Anton Sitorus, Director, Head of Research and Consultancy
Savills, punya pendapat soal dampak Asian Games bagi kota penyelenggaranya. Menurutnya, ada dua jenis dampak yang terlihat dalam bidang real estat, yaitu dampak secara langsung dan singkat, serta dampak tidak langsung yang durasinya relatif lama dirasakan. Dampak secara langsung, misalnya, hunian hotel di Jakarta dan Palembang mengalami peningkatan mencapai 90 hingga 100 persen.
“Sementara dampak yang akan dirasakan ke depannya dalam hal office dan retail market dirasakan masih sedikit. Tetapi ini menjadi stimulus baik untuk membuka pintu bisnis luar negeri, seperti perusahaan retail asing yang akan masuk,” ujar Anton.
Dampak langsung lainnya yang dirasakan dalam hal infrastruktur adalah hadirnya LRT (Light Rail Transit). Orang Palembang boleh bangga karena LRT Palembang sepanjang 22,5 kilometer ini adalah yang pertama beroperasi di Indonesia. LRT ini memang disiapkan untuk mempermudah mobilitas atlet dan penonton Asian Games di Palembang.
Walaupun diakui Isnaini saat ini LRT lebih condong sebagai transportasi wisata, baik bagi warga Kota Palembang sendiri maupun Sumatera Selatan. Banyak yang datang ke Palembang hanya untuk coba LRT. “Fasilitas parkir belum memadai bahkan belum ada di setiap stasiun. Sehingga belum banyak yang gunakan LRT. Tetapi ke depannya, LRT ini akan menjadi moda transportasi utama dalam kota,” ujar Isnaini.

Di luar LRT, jalan tol juga menjadi pelengkap infrastruktur di Palembang yang nota bene akan berimbas pada properti. Salah satunya adalah tol yang menghubungkan Bakauheni hingga Palembang – Betung. Saat ini progres konstruksi jalan tol sepanjang 460 kilometer sudah lebih dari 75 persen. Kelak beroperasi di tahun 2019, dapat memangkas waktu yang signifikan dari sebelumnya 7-8 jam menjadi sekitar 5 jam.
Tidak hanya itu, bahkan Pemerintah Kota Palembang juga berencana akan membangun jalan tol yang menghubungkan beberapa kawasan industri sekitar. Salah satunya adalah Kawasan Industri Gandus yang akan terkoneksi dengan Jalan Tol Kayuagung – Palembang – Betung. Adapun Gandus merupakan kawasan industri seluas 300 hektar yang dalam perencanaan juga akan menjadi kota baru (newtown).
Terlepas baru saja menjadi salah satu kota penyelenggara event olah raga Asian Games 2018, potensi properti di Palembang sebetulnya sudah dirasakan oleh pelaku bisnis properti. Bahkan, sekian tahun sebelum event ini, gairah bisnis properti di Palembang sudah terpancar. Terbukti dari masuknya pengembang-pengembang nasional ke Palembang dengan proyek-proyeknya yang menambah kaya bangunan properti di Palembang.
Beberapa pengembang nasional yang sudah maupun yang akan menancapkan proyeknya ke Kota Pempek ini seperti Ciputra Group, Lippo Group, Dafam Land, Terrakon Property, Sinar Mas Land, Perum Perumnas, Springhill Group, dan pendatang baru berikutnya adalah Wika Realty. Sinar Mas Land dan Wika Realty mulai menggarap propertinya di Palembang pada tahun ini. Sinar Mas Land disebut memiliki lahan 200 hektar yang lokasinya menempel dengan dengan Citra Garden City di bawah bendera Ciputra Group.
Ciputra Group dengan dua proyeknya yang berkonsep kota mandiri boleh dibilang sebagai pengembang dengan proyek terbesar yang masuk ke Palembang. Ada dua proyek yang dibangun Ciputra Group yaitu CitraLand Palembang dengan luas lahan 230 hektar dan Citra Garden City Palembang dengan lahan yang dimiliki 250 hektar. Citra Garden City mulai dibangun tahun 2008 di kawasan Alang-Alang Lebar, Palembang. Proyek ini terdiri dari dua bagian, kawasan 160 hektar merupakan proyek joint operations dan 90 hektar adalah joint venture. Kawasan ini pun masih punya potensi untuk diperluas.
Rencananya Citra Garden City dikembangkan dalam tiga tahap tahap pertama telah mencapai sekitar 95 persen dan tahap dua sekitar 35 persen. Dalam kawasan ini sudah terbangun sebanyak 1.400 unit rumah dan sudah dihuni sekitar 70 persen. Beberapa fasilitas yang sudah dibangun, seperti Amanzi Waterpark, masjid raya, sekolah, club house dan lainnya. Citra Garden City menyasar pasar menengah ke atas dengan harga rumah berkisar mulai Rp400 jutaan hingga jelang Rp4 miliar.

“Kami tidak hanya membangun kota atau infrastruktur, tapi juga membangun kehidupan. Ini justru yang lebih penting. Dan dari sini, banyak orang luar akan tertarik dan masuk ambil unit di sini,” kata Gunadi.
Adapun Wika Realty mulai memasarkan produknya perumahan di atas lahan 30 hektar yang merupakan hasil pola kerja
sama operasi (KSO) dengan pemilik lahan. Lokasi proyek ini terbilang strategis karena berada di sekitar area outer ring road Palembang. “Proyek di Palembang hampir sama dengan landed di proyek kami yang lain. Rata-rata kami pasarkan di kisaran harga mulai Rp600 jutaan hingga Rp1 miliaran,” kata Kukuh Ariadi, Marketing Manager PT Wika Realty.
Lippo Group walaupun sudah masuk ke Palembang tetapi belum mengarah ke proyek residensial. Ada beberapa proyek yang telah dibangun Lippo Group di Palembang seperti
pusat perbelanjaan, hotel dan rumah sakit. Ada empat
mal yang dioperasikan oleh Lippo Group, yaitu Palembang Icon, Palembang Square, Palembang Square Extension, dan Lippo Plaza Jakabaring. “Kami belum ada rencana ke sana
(residensial-red). Bahkan kami akan memperluas Palembang Icon ini,” kata Co Ing, Mall Director Palembang Icon (Lippo Malls).
Walaupun properti real estate dan komersial terus tumbuh, kebutuhan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) ternyata masih dominan di Palembang. Menurut Endang W Wierono, Principal Keller Williams Palembang, transaksi properti di Palembang terus tumbuh, terutama komersial termasuk lahan untuk industri. Sementara untuk hunian terutama primer didominasi oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), utamanya rumah FLPP.

Bagus pun mengakui pasar FLPP di Palembang dan Sumsel mengalami lonjakan yang luar biasa. Realisasi KPR Sumsel tahun 2015 sebanyak 4.700 unit, tahun 2016 menjadi 8.000 unit. Kemudian yang paling signifikan pada tahun 2017 sebanyak 11.000 unit. Sementara di semester pertama 2018 sudah mencapai 5.300 unit. “Ini pun KPR-nya baru dilaksanakan mulai awal Maret. Sehingga kami optimis target 12.000 unit tahun ini bisa terealisasi,” kata Bagus.
Adapun tanah untuk rumah FLPP, lanjut Bagus, saat ini sudah berkisar di harga terendah Rp150.000 per meter persegi, naik dari Rp70.000 per meter persegi pada tahun 2013 lalu. Penelusuran Property and The City menemukan harga bervariasi, seperti di kawasan Seberang Ulu, Jakabaring yang berkisar Rp1,5 juta per meter persegi.
Kemudian di wilayah Tanjung Siapiapi sudah sekitar Rp1,5 juta per meter persegi. Tetapi masih ada yang di harga sekitar Rp40 ribuan per meter persegi hingga Rp125 ribu per meter persegi. Adapun tanah industri pergudangan daerah Kertapati Rp800 ribu per meter persegi. Ada juga yang Rp150 ribu per meter persegi. Di Ilir Timur dan Plaju harga di kisaran sekitar Rp125 ribu per meter persegi dan Rp1,7 juta per meter persegi.

Sedangkan di kawasan Alang Alang Lebar dimana terdapat beberapa kawasan perumahan besar. Seperti CitraGarden City Palembang, juga lahan milik Sinar Mas Land yang rencananya mulai dikembangkan tahun ini, dan beberapa pengembang lainnya. Lahan luar kawasan berkisar Rp130 ribu per meter persegi, hingga Rp5 juta per meter persegi. Sedangkan dalam kawasan CitraGarden City sudah berkisar Rp6 jutaan per meter persegi.
“Dalam Kota Palembang paling tinggi ada di wilayah Rajawali dan Sudirman. Harga tanah tertingginya di kisaran Rp23-25 juta per meter persegi,” tegas Endang.

Walaupun permintaan landed house terus meningkat, tidak demikian dengan apartemen. Kota Palembang sepertinya belum akrab dengan hunian jangkung seperti kota besar lainnya. Walaupun peluang itu tidak tertutup sama sekali. Kabarnya ada empat pengembang lokal yang membangun apartemen namun terhenti. Ada yang progress fisiknya sudah 15 persen hingga 50 persen kemudian tidak lanjut. Bahkan, ada pengembang yang telah mengembalikan uang penjualan kepada konsumen.
“Untuk proyek highrise biar bisa tumbuh sebenarnya lebih bagus yang bangun pengusaha berskala nasional. Bank pasti akan beri KPA apalagi pengusaha nasional. Pasar pasti ada, hanya trust masyarakat belum melihat ada yang benar-benar dibangun,” ujar Bagus.
Endang yang juga Ketua DPD AREBI Sumsel menyarankan sebaiknya apartemen yang dibangun bermain di low rise sekitar lima lantai dengan harga Rp200 juta ke bawah. Kalaupun ingin masuk ke apartemen eksklusif harganya di kisaran Rp15 juta sampai Rp20 jutaan per meter persegi. “Kita benar-benar berharap ada yang bisa bangun satu tower hunian di sini. Sebenarnya masyarakat urban di Palembang sudah ingin tinggal di apartemen,” harap Endang.

Sementara pasar sewa juga cukup menarik. Untuk produk komersial seperti gerai makanan atau minuman potensi sewanya sekitar Rp500-600 juta per tahun. Sedangkan untuk rumah Rp60 juta per tahun tergantung lokasi dan luasanya. Yang lebih menarik saat ini adalah bisnis sewa kos-kosan yang sangat menggiurkan. Harganya berkisar mulai Rp80-250 ribu per hari. Beberapa yang terkenal adalah D’Paragon dan City Kost yang okupansinya bahkan mencapai 120 persen.
Di mata Endang, Palembang ibarat “gadis cantik nan seksi”. Kota yang strategis karena ditopang infrastruktur dan transportasi memadai, serta menjadi destinasi wisata unggulan, bahkan dikenal hingga luar negeri. “Palembang itu seperti gadis cantik yang seksi yang sedang memikat banyak orang yang melihat. Banyak event internasional yang diselenggarakan di Palembang, termasuk olahraga berstandar internasional. Dan yang paling utama Palembang zero konflik,” ujar Endang. ● [Pius Klobor, Harini Ratna]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here