FLORES “TERJERAT” INDAHNYA TENUN IKAT

0
41
Flores

Tenun ikat dalam masyarakat Flores menjadi bagian yang erat dalam putaran kehidupan mereka sehari-hari. Dari sejak dilahirkan hingga meninggalkan dunia fana, tidak lepas dari tenun ikat. Uniknya, setiap tenun ikat Flores mewakili keragaman tradisi dan budaya keseharian masyarakatnya masing-masing. Lihat saja motif dan teknik yang berbeda antara satu etnis dengan etnis yang lainnya. Bahkan, untuk satu etnis terdapat motif-motif khusus yang hanya dipakai oleh klan tertentu saja.

Tenun ikat juga menjadi simbol status, kekayaan, kekuasaan, dan martabat orang Flores. Motif dalam satu lembar tenun ikat tidak hanya unik juga sarat dengan lambang. Motif mempunyai makna dan fungsi yang sangat dalam dan menjadi bentuk pengejawantahan dari sebuah lambang etnis, fungsi religius, ritual adat, doa, hingga makna khusus lain yang dikaitkan dengan siklus kehidupan.

flores

Bahkan, terdapat beberapa motif yang proses pembuatan dan asalnya dianggap mempunyai kekuatan magis tertentu dan penggunaannya hanya boleh dalam ritual adat dan oleh pemangku adat.

Motif-motif tenun ikat pada akhirnya menjadi sebuah identitas kuat dari masyarakat masing-masing. Sekilas nampak sama tetapi bagi masyarakat Flores tidak sulit membedakan motif sarung tenun ikat dari Nagekeo dengan Ngada, tenun Lio dengan Sikka, tenun Sikka Tana Ai dari Palu’e dengan Tana Ai dari Waiblama.

FloresBoleh percaya atau tidak, ternyata seni tenun ikat dalam tradisi dan budaya keseharian masyarakat Flores tidak lepas dari perjalanan seni tenun ikat bangsa-bangsa asing seperti dari India. Dari beberapa literatur sejarah diketahui seni tenun ikat ternyata dikenal dan tersebar di berbagai masyarakat Asia hingga ke Amerika Tengah dan Selatan. Bahkan dalam kisah jalur perdagangan ”Jalan Sutera“ disebutkan tenun ikat menjadi salah satu mata dagang penting pada masa itu.

Dalam pengembaraan para pedagang Gujarat ke wilayah Nusantara tempo doeleo telah memberikan pengaruh yang kuat dalam tradisi dan pengembangan seni tenun ikat di Nusantara, termasuk Flores. Misalnya, tampak pada motif. Penggunaan motif “patola” ternyata juga dikenal dalam budaya India. Begitu juga saat bangsa-bangsa Eropa masuk ke bumi Nusantara, seperti bangsa Portugis dengan misionarisnya, ikut memperkaya motif seni tenun ikat Flores

Seni tenun ikat dari Suku Sikka terkenal mempunyai keragaman motif yang banyak mengadopsi dari kehadiran bangsa-bangsa dari luar Nusantara. Pengaruh dari suku lain di Nusantara juga dapat dilihat pada tenun ikat dari Manggarai, yang konon dipengaruhi oleh Suku Minangkabau,  dengan bukti ragam hias songket pada tenunnya.
Kalau Anda berlibur ke Flores, membawa tenun ikat sebagai kenang-kenangan tentu tidak boleh terlewatkan.

Ada banyak tempat bila ingin berburu tenun ikat di Flores. Selain di toko-toko cinderamata di hampir seluruh ibukota kabupaten, desa-desa wisata seperti di Kampung Bena, Wae Rebo, layak Anda datangi untuk berburu tenun ikat.

Berkut beberapa pasar yang perlu disinggahi untuk mencari tenun ikat, antara lain:

  1. Pasar Geliting, Kewapante, Kabupaten Sikka, setiap Jumat
  2. Pasar Alok, Maumere, Kabupaten Sikka, setiap Selasa
  3. Pasar Lekebai, Kabupaten Sikka, setiap Sabtu
  4. Pasar Desa Jopu, Kabupaten Ende, setiap Kamis
  5. Pasar Danga di Mbay, Kabupaten Nagekeo,  setiap Sabtu

Hanya saja beberapa pasar tradisional ini tidak buka setiap hari. Istilahnya hanya buka saat  “hari pasar”. Namun, koleksi tenun ikat yang dijual bisa sangat beragam. Malah bisa jadi langsung dijual oleh mama penenunnya, dan tentunya lebih asyik untuk tawar menawar. Bila Anda kebetulan saat berada di Flores bertepatan dengan hari pasar. Itulah saat yang tepat untuk berburu tenun ikat.

Anda juga bisa mengunjungi beberapa sanggar atau kelompok penenun yang biasanya mempunyai persediaan kain tenun untuk siap dijual. Nah, untuk yang satu ini, Anda perlu kontak sebelumnya dan ditemani pemandu lokal agar tidak kesasar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here