DETAK WAKTU BERHENTI DI Wae Rebo

0
276
Text & Foto: Indri Juwono

Datanglah ke negeri rumah-rumah kerucut, dengan semerbak kopi, angin gunung, dan senyum lebar para warganya.
Matahari bersinar cerah ketika kami mulai berjalan kaki menyusuri jalan bebatuan yang baru dipadatkan di ujung Desa Denge. Angin semilir menemani pendakian pagi menuju Desa Adat Wae Rebo. Desa ini terletak sekitar 3 jam perjalanan dari Ruteng, ibukota Flores Barat. Bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Desa Adat Wae Rebo tak perlu khawatir soal penginapan karena ada homestay yang disediakan penduduk setempat.
Desa Wae Rebo bisa dicapai dengan berkendara dari Ende maupun Labuhan Bajo, sampai ke Desa Denge. Dari Ende biaya sewa mobil mencapai Rp 1,8 juta, sementara dari Labuhan Bajo Rp 1 juta, karena lebih dekat. Biaya homestay di  Desa Denge per orang Rp 175 ribu per malam, biaya guide Rp 150 ribu, plus Rp 50 ribu per rombongan untuk biaya masuk Desa Wae Rebo. Biaya tinggal di Wae Rebo per orang sekitar Rp 325 ribu per malam sudah termasuk makan.

Baca Juga:

Usai melewati jalan berbatu, kami menyeberangi sungai kecil dengan gemericik air yang segar. Jernihnya air sungai menggoda saya untuk meneguk menghilangkan rasa dahaga. Kami bertemu beberapa penduduk Wae Rebo yang sedang dalam perjalanan ke bawah. Sambil tersenyum dan bercakap-cakap, semuanya mengulurkan tangan dan menyebutkan namanya masing-masing. Ternyata mereka menuju Desa Kombo yang berlokasi di bawah Desa Denge untuk bertemu sanak keluarganya.
Setelah melewati sungai ada jalan setapak di dalam hutan yang cukup rimbun. Lebar jalan hanya satu setengah meter dinaungi pohon-pohon besar dan rambatan pakis. Sinar matahari tidak tembus sehingga kami bisa berjalan dengan nyaman. Jalurnya pun cukup landai, masih bisa berlari-lari santai. Di kanan kiri jalan terdapat patok-patok yang menunjukkan berapa lama lagi jarak menuju Desa Wae Rebo. Jalan menuju Wae Rebo bisa dibilang cukup nyaman.


Menurut penduduk setempat yang kami jumpai di jalan, jalur menuju Desa Wae Rebo memang diperpanjang agak memutar sehingga tidak terlalu curam. Tidak lupa mereka mengingatkan wisatawan yang berjalan menuju Desa Wae Rebo agar berhati-hati dengan tanaman beracun. “Di hutan ini banyak tanaman beracun karena itu turis harus dikawal supaya tidak tersesat dan tidak terkena tanaman. Seperti yang itu, bisa membuat tangan panas dan gatal-gatal,” ujar Wilibrodus, warga setempat sambil menunjuk rumpun tanaman.
Satu jam berjalan kaki sampailah kami di Pocoroko, yang biasa disebut Pos 2. Tampak pemandangan lembah-lembah yang indah dari tebing Pocoroko. Udara terasa sejuk. Beberapa kali kami bertemu rombongan yang melewati kami. Mereka para turis yang juga akan menuju atau dari Desa Wae Rebo. Tidak ada pemukiman lain di jalur perjalanan kami ini.
Jalanan mulai menurun hingga melintasi jembatan dan perkebunan kopi mulai bermunculan ada di samping kiri dan kanan kami. Sampailah kami di satu shelter beratap kerucut dan diminta menunggu. Aven yang menjadi pemandu kami kemudian memukul kentongan yang ada di sudut Shelter, yang menjadi penanda ada tamu yang datang. “Ini tanda bahwa ada tamu datang. Nanti mama-mama akan menyiapkan rumah dan makan untuk tamunya. Kita tunggu dulu di sini,” ujar Aven.

Ritual diadakan satu hari penuh tanpa jeda

Sampai di Desa Wae Rebo kami menemui sesepuh desa untuk meminta izin tinggal. Begitulah adat berlaku, “bumi dipijak langit dijunjung”. Setiap pengunjung yang datang harus melalui ritual yang dilakukan di Mbaru Gendang yang merupakan rumah terbesar untuk mengutarakan niat kedatangan tamu ke desa. Usai ritual kami beristirahat di Mbaru Niang yang paling depan yang khusus dibangun untuk tamu.
Saya dipersilakan memasuki Mbaru Niang untuk tamu yang merupakan bangunan terakhir yang dibangun di Wae Rebo. Bangunan ini dilengkapi dapur untuk para mama memasak dan juga kamar mandi di bagian belakang. “Setiap hari ada kelompok mama-mama yang bergantian mengurusi turis. Jadi dana yang dibayarkan sudah termasuk penginapan dan makan di sini,” kata Aven.
Rumah-rumah di Wae Rebo berbentuk kerucut dengan ujung yang menerus sampai ke bawah. Ketujuh rumah ini berdiri mengelilingi tanah lapang tempat mereka bersosialisasi dan beraktivitas di pagi dan sore hari. Usia Desa Wae Rebo sudah memasuki generasi ke-18. Sementara satu generasi saja mencapai usia 60 tahun. Di tengah-tengah kampung terdapat compang yaitu lingkaran berdinding batu dan ditumbuhi rumput setinggi kira-kira 80 cm. Compang menjadi tempat utama masyarakat Wae Rebo melakukan persembahan kepada Tuhan dan leluhur. Tujuh buah Mbaru Niang melingkari Compang di seputar pelataran rumput desa. Betapa kuatnya pola sirkular di pemukiman ini.
Tidak ada beranda di Mbaru Niang hanya bilik kecil yang berfungsi sebagai ruang antara sebelum memasuki area lutur yang merupakan area untuk menerima tamu dan bersosialisasi. Orientasi di dalam Mbaru Niang pun melingkar, sehingga nolang atau bilik-bilik di dalam yang dijadikan kamar menghadap pada satu arah yaitu tiang bernama bongkok yang menjadi titik pusat dari rumah berdenah lingkaran itu. Di badan bongkok ini terdapat takik-takik untuk naik ke lapis lantai yang lebih atas untuk menyimpan cadangan makanan.
Di tengah Mbaru Niang terdapat dapur yang merupakan sentra aktivitas seluruh anggota keluarga. Tungku segi empat yang berada di belakang tiang utama selalu ramai oleh mama-mama yang bergantian memasak atau menghangatkan badan. Di atasnya terdapat rak untuk meletakkan kayu bakar. Dengan pengasapan sambil memasak, kayu bakar yang diletakkan akan semakin cepat kering. Uniknya, rak yang digantung ke lapis kedua rumah ini memiliki detail ujung berbentuk bulat yang bermakna kepala bayi yang keluar dari perut ibunya. Ya, seperti kebanyakan makna rumah di daerah Flores, rumah di Wae Rebo ini pun adalah rumah kaum perempuan.
Mbaru Niang ditumpu tiang-tiang kayu yang ditanam di atas batu di dalam tanah yang menjadi pondasi bangunan ini. Tiang-tiang ini ditanam sedalam 1.5-2 m. Untuk menghindari kelapukan, bagian tiang yang tertanam dilapisi plastik dan diikat dengan ijuk. Penutup atapnya menggunakan ilalang yang didapat dari Pulau Mules yang berada di seberang Desa Dintor. Ilalang ini berlapis-lapis sehingga membentuk atap tebal yang tidak akan tertembus air ketika hujan. Seluruh proses pembangunan Mbaru Niang yang dikerjakan bergotong royong ini memakan waktu empat bulan, tiga bulan di antaranya adalah masa pengadaan material sampai di atas.
Saat-saat paling mengasyikkan di Wae Rebo adalah sore hari. Ketika matahari mulai surut ke arah barat, orang-orang pulang dari kebun dan anak-anak bermain di pelataran, saya duduk-duduk di depan Mbaru Niang sambil memandangi semua. Di sini, waktu seolah tidak penting diukur lewat sebuah jam. Udara pegunungan ditimpali oleh suara burung-burung. Angin yang bertiup semilir juga menggerakkan awan-awan yang seolah menari di langit. Anak-anak berlarian di tanah lapang.
Mohe Wae Rebo!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here