HO CHI MINH CITY DENYUT NADI EKONOMINYA VIETNAM

0
545

 

Bangkit setelah terpuruk dari perang Vietnam, Kota Ho Chi Minh kini menjadi motor ekonomi Vietnam. Investasi properti di Vietnam terpusat di Kota Ho Chi Minh.

Kota ini terkenal dengan nama Saigon ketika Prancis menduduki kota tersebut di tahun 1955 sampai dengan tahun 1957. Pada saat itu, Prancis menjadikannya ibu kota jajahan Vietnam Selatan, sebelum berganti nama menjadi Kota Ho Chi Minh. Sampai saat ini sebutan Saigon masih dipakai oleh penduduk Vietnam, nama-nama perusahaan, dan di literasi berbagai buku.  Nama Saigon juga diabadikan menjadi nama sungai yang berada di Kota Ho Chi Minh, yaitu Sungai Saigon yang menjadi sungai terpanjang di Vietnam.
Nama Kota Ho Chi Minh sendiri mulai digunakan pada tahun 1958 yang diambil dari nama Presiden pertama Vietnam setelah lepas dari jajahan Prancis, yaitu Ho Chi Minh. Sampai sekarang kota tersebut terkenal dengan nama Ho Chi Minh City atau dalam bahasa Prancis Ho Chi Minh Ville yang keduanya berati Kota Ho Chi Minh. Kota Ho Chi Minh memiliki luas wilayah 2.094 kilometer persegi dengan pembagian 19 wilayah di lingkar dalam Kota Ho Chi Minh, dengan sebutan distrik 1 sampai distrik 12, untuk distrik 13 sampai 19 memiliki sebutan wilayah sendiri. Jumlah penduduk yang bermukim di Kota Ho Chi Minh sebanyak 6,8 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 3.247 per kilometer persegi, yang menjadikannya sebagai kota terpadat di Vietnam.
Ekonomi
Vietnam pernah mengalami keterpurukan sebagai negara termiskin di dunia akibat perang saudara antara Vietnam Utara yang didukung Uni Soviet dan Vietnam Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat. Setelah perang usai dengan hengkanya Amerika pada tahun 1975, Vietnam bersatu dan berusaha bangkit dengan meluncurkan kebijakan yang disebut Doi Moi. Kebijakan Doi Moi yang dikenal sebagai reformasi Doi Moi berisi tentang “ekonomi pasar yang berorientasi sosial”, yaitu negara memiliki peran penting dalam mengatur perekonomian negara. Sedangkan perusahaan swasta dan koperasi berperan penting dalam produksi komoditas. Masyarakat berperan aktif dalam memajukan ekonomi dengan menghasilkan produk-produk lokal. Pemerintah juga membuka peluang besar untuk investor asing masuk ke Vietnam.
Dampak dari kebijakan Doi Moi kini dirasakan di seluruh Vietnam. Salah satunya Kota Ho Chi Minh yang sekarang terkenal sebagai kota bisnis utama di Vietnam. Sekitar 300.000 sektor usaha nasional maupun internasional tercatat berada di Kota Ho Chi Minh. Kota ini menyumbang pendapatan nasional dari Produk Domestik Bruto (PDB) sebanyak 28 persen per tahun. Produk yang dihasilkan Kota Ho Chi Minh meliputi produk pertanian, pertambangan, pengelolahan makanan laut, konstruksi, perbankan, perdagangan dan pariwisata. Bursa saham pertama di Vietnam dibuka di Ho Chi Minh pada tahun 2001.
Tahun 2017 pertumbuhan bursa efek Kota Ho Chi Minh meningkat, yaitu skala modal naik dari  36 persen menjadi 50 sampai 60 persen. Seperti dikutip dari laman vovworld.vn/id, Wakil Direktur Utama Bursa Efek  Ho Chi Minh, Le Hai Tra mengatakan, bursa efek Vietnam dan Kota Ho Chi Minh memiliki potensi untuk berkembang secara baik, dari sini ekonomi negara dapat menyerap sumber-sumber investasi besar dari luar negeri.
Negara Vietnam sendiri memiliki beberapa produk komuditi ekspor yang laris di negara-negara asia. Komoditi ekspornya mencapai ke negara China, Jepang, Taiwan, Thailand, dan Korea Selatan. Produk-produk yang menjadi unggulan ekprotir meliputi, telepon genggam dan suku cadangnya, tekstil dan garmen, komputer, peralatan listrik dan komponennya, fesyen sepatu dan sandal,  mesin dan peralatan indusrti.
Pariwisata
Kota Ho Chi Minh juga memiliki keunggulan, yaitu pada sektor pariwisata. Kota ini banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Seperti dilangsir dari laman vneconomictimes.com tercatat pada tahun 2015, sekitar 57 persen wisatawan asing berkunjung ke Kota Ho Chi Minh, dengan rincian 19,3 juta wisatawan domestik dan 4,6 juta wisatawan asing. Dari total turis yang berkunjung, Kota Ho Chi Minh menyumbang sekitar 4,16 Milyar  dollar AS pendapatan dari sektor pariwisata. Di kota ini terdapat ratusan hotel mewah dengan total 18.000 kamar termasuk 10 hotel bintang lima. Tempat hiburan tersebut dapat ditemukan berjajar dari distrik 1 sampai distrik 5 Kota Ho Chi Minh.Para wisatawan dimanjakan dengan berbagai macam tempat hiburan, kafe-kafe ternama dengan menu lokal dan internasional, bar, dan pusat perbelanjaan yang buka sepanjang malam.
Kota ini juga menyajikan hiburan yang mewah dan indah, salah satunya terdapat di Saigon Opera House yang terkenal dengan sebutan Municipal Theater, bangunan bergaya Eropa Klasik ini berdiri di tengah Kota Ho Chi Minh kawasan Ben Thanh. Saigon Opera House dulunya sebagai tempat para bangsawan Perancis berkumpul dan menyaksikan Opera Prancis. Namun, sekarang tempat tersebut menjadi tempat pertunjukan seni modern dan pameran kebudayaan nasional dan internasional. Di kota ini juga terdapat berbagai museum bersejarah, antara lain Museum Revolusi, Museum Perempuan Selatan, Museum Angkatan Bersenjata, museum seni, dan ada juga galeri yang khusus memamerkan barang-barang sisa perang Vietnam.
Transportasi
Transportasi umum di Kota Ho Chi Minh tersedia bis dalam kota yang beroperasi tiap saat dan menghubungkan wilayah-wilayah di Kota Hochi Minh. Ada juga jalur kereta ekspres yang menghubungkan Kota Ho Chi Minh dengan provinsi di sekitarnya, seperti Trung Luong Ekspers yang menghubungkan Kota Ho Chi Minh menuju Provinsi Tien Giang dan Delta Mekong dan Long Thanh-Dau Giay Ekspres yang menghubungkan Kota Ho Chi Minh dengan Provinsi Thong Nhat dan Dong Nai. Transportasi yang populer di Kota Ho Chi Minh adalah ojek yang terkenal dengan sebutan Xe Om, yang artinya berpelukan di kendaraan. Karena tarifnya yang murah, hanya perlu mengeluarkan sekitar 4.000 rupiah untuk berpindah wilayah satu ke wilayah di sekitar Kota Ho Chi Minh. Selain itu, ojek juga mudah ditemui di tiap persimpangan jalan besar yang ada di Kota Ho Chi Minh. Kota Ho Chi Minh pun sampai mendapat julukan sebagai “Kota Sepeda Motor” karena pertumbuhan sepeda motor dan ojek di kota ini sangat cepat.
Sungai Saigon yang menjadi pelabuhan ramai untuk arus penumpang dan juga kargo. Sungai Saigon menghubungkan Kota Ho Chi Minh dengan provinsi Vietnam Selatan, Delta Mekong, dan Kamboja. Tercatar dalam setahun pelabuhan di Sungai Saigon dapat menerima 100.000 kapal penumpang dan 13 juta ton kargo yang dapat disalurkan.
Perpajakan
Perpajakan di Kota Ho Chi Minh sama penerapannya dengan pajak di seluruh negara Vietnam. Secara keseluruhan pajak di Negara Vietnam dibagi menjadi lima jenis pajak, yaitu pajak ekspor-impor, pajak penghasilan usaha, pajak pertambahan nilai, pajak penjualan khusus, dan pajak penghasilan pribadi. Untuk pajak ekspor dikenakan 0 persen hingga 45 persen tergantung dari jenis barang dan kuota barang yang diekspor. Sedangkan untuk pajak barang impor dibedakan menjadi dua, yaitu pajak normal untuk negara-negara di luar anggota ASEAN dan China.  Untuk negara anggota ASEAN dan China dikenakan Tarif Preferensial Efektif Bersama, yaitu untuk barang-barang  non-eksklusif tidak dikenakan cukai impor. Sedangkan untuk barang-barang eksklusif dikenakan 0-5 persen cukai impor.
Untuk pajak penambahan nilai atau PPN di setiap usaha dan barang konsumsi dikenakan pajak dari yang terendah 0 persen, 5 persen, dan 10 persen. Sedangkan untuk pajak penghasilan usaha atau PPH badan usaha dikenakan pajak sebesar 22 persen, turun dari sebelumnya 25 persen. Penurunan nilai PPH badan usaha bertujuan untuk lebih banyak menyedot investasi asing dan akan diturunkan kembali menjadi 20 persen nantinya.
Namun, untuk pengusaha migas dan tambang mineral manging-masing dikenakan PPH badan usaha sebesar 32 sampai 50 persen. Sedangkan untuk pajak penjualan khusus dikenakan pajak sekitar 10 persen sampai 75 persen. Pajak penjualan khusus dikenakan pada penjualan barang dan tempat hiburan tertentu seperti klub, panti pijat, tempat karaoke, kasino, dan usaha golf. Untuk jenis barang seperti, rokok, nimuman alkohol, otomotif, dan bahan bakar kendaraan.
Untuk pajak penghasilan pribadi (PPH orang pribadi) penduduk yang berpenghasilan dikenakan pajak sekitar 5 persen sampai 35 persen bagi penduduk Vietnam yang berada di Vietnam maupun yang berada di luar Vietnam. Sedangkan untuk bukan penduduk Vietnam yang bekerja di Vietnam dikenakan pajak sebesar 20 persen. Sistem pajak yang berlaku di Vietnam saat ini adalah Self-assessment yang artinya besaran pajak dan tanggal penyerahan pajak ditanggung sepenuhnya oleh wajib pajak sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku, petugas pajak hanya bertugas mengontrol pajak yang masuk.
Properti
Perkembangan di Kota Ho Chi Minh tidak hanya dirasakan pada sektor bisnis dan pariwisata saja. Sektor properti pun mengalami pertumbuhan yang signifikan.  Seperti dikatakan oleh konsultan investasi perumahan JLL (Jones Lang LaSalle) yang dikutip dari laman properti.kompas.com, Vietnam menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang memimpin dalam investasi properti yang  terpusat pada Kota Ho Chi Minh.
Investasi properti yang sedang gencar di Kota Ho Chi Minh meliputi gedung perkantoran, perumahan, dan pertokoan.  Kepemilikian gedung perkantoran menembus sampai angka 95 persen di tahun 2016. Sedangkan untuk pertokoan mencapai 92 persen dan untuk perumahan sebesar 46 persen. Nilai investasi yang masuk di tahun 2016 untuk sektor properti sebanyak 15,8 miliar dollar AS yaitu setara Rp210,5 triliun. Peran pemerintah sangat memengaruhi pertumbuhan investasi properti. Pada tahun 2013 pemerintah membuat kebijakan ekonomi dengan menggelontorkan dana stimulus untuk sektor properti sebesar 1,4 miliar dollar AS. perusahaan manajemen aset negara juga ikut andil dengan membeli aset properti yang gagal kredit atau non Property loan (NPL) senilai 8 miliar dollar AS.
Tahun 2015 pemerintah melonggarkan sistem investasi bagi perusahaan asing, pembeli asing, dan warga Vietnam di luar negeri. Tercatat setelah diluncurkannya kebijakan tersebut penjualan properti melonjak 174 persen lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Harga apartemen berkisar 1.900 dollar AS per meter persegi yang letaknya di pusat kota dan 1.600 dollar AS per meter persegi untuk di pinggir kota. (Harini Ratna)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here