Green Building Mahal, Tapi Lebih Untung

0
343

Direktur Sinar Mas Land, Ignesjz Kemalawarta (kedua dari kiri) dan Deputy for International Relation Green Building Council Indonesia, Prasetyoadi (ketiga dari kiri) berbincang di sela acara seminar yang mengsung tema green building di Hotel Pullman, Jakarta Barat, Selasa (18/7/2017). // Foto: Pius.

Di Jakarta baru ada 25 gedung yang mendapatkan sertifikat atas penerapan konsep hijau, kalah jauh dari Singapura, meski dikembangkan dalam kurun waktu yang hampir sama. Konsep ramah lingkungan ini memang harus diterapkan, mengingat semakin parahnya pemanasan global yang disertai perubahan iklim.

Membangun sebuah gedung dengan konsep ramah lingkungan atau green building memang membutuhkan biaya dan perhitungan sendiri. Sudah pasti akan lebih mahal, karena harus menggunakan beberapa material khusus pada bangunan tersebut. Seperti pada material kaca yang dapat mengurangi panas dalam ruangan tersebut, kemudian cat yang tidak beracun, AC, keran air, dan lampu yang lebih hemat.

 

Baca juga: Sinar Mas Land Kembali Raih Penghargaan Efisiensi Energi Nasional 2016

 

Direktur Sinar Mas Land Ignesjz Kemalawarta mengungkapkan, yang masih menjadi momok para building owners dalam menerapkan konsep ini adalah pada biaya yang lebih tinggi. Padahal, kata dia, biaya tinggi tersebut hanya pada investasi awal saja.

“Menurut perhitungan kami, memang biayanya lebih tinggi sekitar 4-5 persen untuk beberapa material dan peralatan tambahan, seperti kaca, lampu, atau keran air. Memang lebih tinggi tapi nggak begitu mahal,” ujar Ignesjz di sela seminar menyambut penyelenggaraan Build Eco Xpo (BEX) Asia di Singapura tahun ini, dengan tema, “Greening Indonesia’s buildings and industrial estates by 2020: The real cost and the way forward,” di Hotel Pullman, Central Park, Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Sinar Mas Land sendiri telah memiliki delapan gedung dengan konsep green building, termasuk dua gedung yang dikembangkan oleh mitranya. Menurut Ignesjz, perlu adanya pemberitahuan dan penyadaran kepada para owners akan hal tersebut.

“Memang ada kenaikan biaya. Kok mahal? Kita harus bedah dulu, mahalnya di mana. Padahal hanya sekian persen dan hanya untuk hal-hal itu saja. Tetapi, harus dilihat juga bagaimana dengan benefit setelah itu,” tegasnya.

 

Baca juga: Sinar Mas Land Tutup Atap “Green District” GOP 9 BSD

 

Adapun beberapa benefit dari penerapan konsep green building tersebut, lanjut Ignesjz, pertama, gedung tersebut pastinya akan menjadi sebuah gedung yang sehat. Ini lantaran gedung tersebut dilarang menggunakan material beracun dan juga ada sensor CO2.

“Sehingga CO2 yang dihirup orang itu tidak kebanyakan, jadi sensor tersebut yang akan mengaturnya. Dengan begitu, penghuni akan merasakan dampak gedung sehat tersebut,” jelasnya.

Kedua, saving energy. Pemilik gedung akan menikmati saving cost, karena gedung green building adalah gedung yang energinya diset paling rendah. Jadi akan terjadi saving energy dalam masa pengoperasian.

“Tetapi pada saat operasional, pengelola gedung itu akan menikmati yang namanya energi efisiensi. Penurunan biaya operasional pada gedung tersebut. Sekitar 7-8 tahun kemudian investasi awal tersebut akan kembali lagi,” terang Ignesjz.

 

Hemat 68 juta dollar AS

 

Sejak Peraturan Gubernur DKI Nomor 38 Tahun 2012 tentang Bangunan Gedung Hijau diterbitkan, hingga tahun 2016 lalu sudah 15 juta meter persegi luas areal gedung yang mendapatkan sertifikat sebagai sebagai green building.

Menurut Deputy for International Relation Green Building Council Indonesia, Prasetyoadi, areal seluas 15 juta meter persegi tersebut telah berkontribusi terhadap penghematan energi sebesar 853 megawatt per tahun.

“Sama juga dengan 605 ribu emisi O2 yang berkurang atau setara dengan 68 juta dollar AS penghematan per tahun. Itu hanya dari gedung baru, karena gedung baru hanya 5 persen dari seluruh bangunan di DKI Jakarta,” jelasnya.

Potensi saving masih besar. Lanjutnya, yang coba dibuktikan, bahwa bangunan yang telah disertifikasi atau yang telah diukur dan dihemat itu akan banyak dampak positifnya.

“Tidak hanya pada energi, belum lagi penghematan air sampai dengan 1 miliar liter per tahun. Itu sangat besar sekali jumlahnya dengan konsep ini,” kata Prasetyoadi.

Salah satu program dan target World Green Building Council (WGBC) di seluruh dunia adalah sedang mengarah ke Net Zero Energy Building (NZEB). Ini artinya, selain mengonsumsi, bangunan tersebut juga dapat menghasilkan energi, sekaligus juga menghemat.

“Jadi ada tiga hal yang coba dicapai,” tegas dia.

WGBC menargetkan pada tahun 2030 semua bangunan baru sudah net zero di seluruh dunia, sementara tahun 2050 untuk banguan existing atau yang sudah terbangun sampai sekarang.

“Dan satu lagi yang perlu diperhatikan adalah tidak hanya bicara soal bangunan, tapi yang paling penting adalah tentang manusianya yang tinggal dalam bangunan tersebut,” pungkasnya. [Pius Klobor]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here