Corona Hantam Properti Tanpa Stimulus

Sektor properti bisa kolaps. Pemerintah OJK dan bank harusnya sepakat untuk meringankan cicilan konsumen selama minimal 6 bulan ke depan.

0
159
pengembang properti perumahan menengah dan imb di tengah virus corona
Ilustrasi - (Foto: Pius Klobor)

Propertyandthecity.com, Jakarta – Wabah virus Corona (Covid-19) merebak cepat ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Dampaknya, ekonomi melemah, termasuk sektor properti juga terkena imbasnya. Bahkan bisnis properti diprediksi akan kolaps jika tidak segera diatasi.

Untuk itu, CEO Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda menyarankan agar pemerintah dan bank harus bersepakat untuk memberikan sejumlah stimulus baru guna meringankan beban konsumen juga pengembang.

Baca: Properti Diprediksi Tambah ‘Cuti’ Lagi

“Covid-19 ini mungkin baru akan berhenti paling cepat tiga bulan ke depan. Untuk itu, pemerintah harus memberikan kebijakan stimulus keringanan bagi pengembang dan konsumen. Jika tidak, bisnis properti akan kolaps,” ujar Ali Tranghanda di Jakarta, Kamis (26/3/2020).

Sebelumnya, dalam pernyataan video conference, Selasa (24/3/2020), Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pemerintah akan memberikan insentif subsidi selisih bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) kepada masyarakat berpenghasilan rendah selama 10 tahun.

“Jika bunga di atas 5 persen maka selisih besaran bunganya akan dibayar pemerintah,” kata Jokowi.

Ali mengapresiasi langkah pemerintah tersebut, namun menurut dia, waktunya kurang tepat disaat ekonomi melemah gegara Covid-19. Bahkan, kata dia, dengan kondisi saat ini, dampaknya juga tidak akan terasa.

Baca: Hotel Asia Tenggara Terdampak Corona, OYO Salurkan Dana Rp2,7 Miliar

“Waktunya gak tepat, karena yang sekarang dibutuhkan bukan untuk membeli rumah tapi bagaimana konsumen bisa lancar pembayaran yang sudah berjalan dan tidak macet sehingga tidak membuat NPL (non-performing loan) bank semakin tinggi,” terang Ali.

“Harusnya pemerintah OJK dan bank sepakat untuk meringankan cicilan konsumen selama minimal 6 bulan,” lanjutnya.

Demikian juga untuk pengembang. Menurut Ali, angsuran kredit konstruksi bagi pengembang juga harus diringankan karena akan berdampak pada turunnya omset penjualan.

“Bahkan pengembang juga bisa-bisa gak ada omset penjualan. Kalau bertambah lama akan banyak yang kolaps,” tegas Ali.

Ali menjelaskan, keringanan yang diberikan untuk para pengembang merupakan hal yang wajar. Sebab ditengah kondisi ini, para pelaku usaha properti tidak bisa jualan bisnisnya, sedangkan tagihan untuk membayar ke perbankan terus berlanjut.

Baca: Kuota FLPP Habis (Lagi), Anggaran Swadaya Terlalu Tinggi

“Ini kejadian luar biasa. Pemerintah harus turun tangan ‘memaksa’ perbankan,” pungkasnya.

Seperti yang telah diprediksi Indonesia Property Watch, pasar properti dikhawatirkan akan ‘cuti’ sampai semester pertama tahun ini.

Black Friday Promo Hosting Unlimited Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here