CO-LIVING SPACE Bukan Ngekos Anak Milenial

0
205
Bukan Ngekos Anak Milenial

Ada Co-workingSpace dan FintechSpace buat para anak milenial bekerja. Untuk tempat tinggal bukan apartemen pilihannya tetapi Coliving Space yang kini sedang ngetren di anak milenial.

Baca juga :

Munculnya generasi milenial seperti “mengobrak-abrik” dunia properti dalam dua tahun belakangan ini. Kehadiran gen milenial mengirim pesan out of box ke pasar properti yang selama ini dominan dengan ragam properti seperti ruko, landed house, apartemen, office building. Gen melenial yang identik dengan para startup yang notabene baru memulai sebuah usaha tidak lagi menyasar office building atau perkantoran yang terkesan mapan. Tempat usaha yang mereka butuhkan lebih dinamis dan mendukung mobilitas kerja mereka, dan tentu saja dengan harga terjangkau kantong gen milenial.

Makin besarnya gen milenial tentu dibaca para pengambang. Sempat muncul konsep SOHO (small office home office), sebuah konsep hunian yang dilengkapi fasilitas kerja atau kantor. Mereka yang punya keahlian bisa bekerja dari rumah tanpa harus ke kantor atau punya kantor. SOHO tidak mengalami era yang panjang yang ditandai dengan lahirnya Co-workingSpace yang mengusung konsep open space atau transparansi. Co-workingSpace menghadirkan ruang kerja yang semakin mendukung semangat dan produktifitas kerja para startup.

Tidak cukup Co-workingSpace, kemudian muncul ruang perkantoran buat gen milenial yang disebut FintechSpace. Fintech adalah hasil gabungan antara bisnis jasa keuangan dengan teknologi, yang mengubah model bisnis dari konvensional menjadi modern. FintechSpace menyediakan ruang buat para startup khususnya yang berkecimpung di bisnis keuangan. Bisnis keuangan yang semula harus face to face kini dapat dilakukan dengan transaksi jarak jauh dalam hitungan detik. Itu semua dilakukan di FintechSpace.

Co-working Space dan FintechSpace dianggap mampu mengkomodir kebutuhan tempat kerja atau aktivitas para gen milenial. Tetapi bicara tempat tinggal gen milenial mungkin bukan saatnya bicara tinggal di apartemen. Gen milienial yang rata-rata baru bekerja 2-3 tahun atau baru memulai bisnis sebagai startup butuh tempat tinggal yang bukan lagi eranya kos-kosan. Muncullah konsep Co-livingSpace yang disebut-sebut sebagai revolusi hunian yang menyasar gen milenia.

Dikutip dari RumahHokie.com disebutkan Co-livingSpace merupakan konsep tempat tinggal seperti apartemen atau kamar kos pada umumnya yang ditujukan untuk para pengusaha dan startup. Co-livingSpace menyediakan ruang kerja bersama yang bisa digunakan para penghuninya untuk bekerja. itu sebabnya, Co-livingSpace menyasar para milenial yang punya pekerjaan sama sehingga lebih mudah untuk tinggal di hunian berkonsep Co-livingSPace.

Tentu Co-livingSpace tidak bisa disamakan dengan kos-kosan karena ColivingSpace harus lebih lengkap dengan berbagai fasilitas yang dibutuhkan gen milenial, tetapi dengan harga yang terjangkau mereka. Kebutuhan ColivingSpace buat para startup yang terbilang belum mapan juga diperkuat oleh pernyataan Denis Ma, Head of Research, JLL Hong Kong. Menurutnya, buat para startup yang belum mampu membeli rumah sendiri, kehadiran Co-livingSpace bisa menjadi solusi yang terjangkau bagi mereka. ColivingSpace bisa menjadi alternatif buat mereka yang masih tinggal di rumah orang tua, sewa bersama atau rumah susun, kos-kosan.

“Selain itu, komunitas masyarakat juga tertarik dengan skema ColivingSpace yang berpotensi untuk memperbaiki kesejahteraan penghuni secara keseluruhan,” ujar Denis Ma, seperti dikutip dari laman Marketing.co.id.

Masih menurut Ma, banyak rumah Co-livingSpace baru yang menyediakan desain interior yang modern. tampilan inilah yang membuat para penghuni tertarik. Pertanyaannya, apakah ruang bersama co-living ini dapat mempertahakan daya tarik mereka setelah beberapa tahun berjalan. Hal ini akan tergantung pada seberapa banyak pengelola berinvestasi dalam perawatan rumah Co-livingSpace.

Di luar negeri, terutama di negara-negara yang para startup sedang tumbuh, tinggal di hunian Co-livingSpace sudah menjadi hal yang biasa. Apalagi harga properti di negara-negara maju sudah terbilang tinggi dan sulit terjangkau oleh gen milenial yang baru berbisnis. Mereka bisa berbagi tempat tinggal dan ruang kerja bersama. Para startup bisa berkumpul di satu rumah Co-livingSpace untuk beraktivitas dan tinggal.

Kalau terkait dengan ruang kerja bersama seperti Co-workingSpace atau FintechSpace mungkin tidak terlalu soal bagi masyarakat Indonesia. Tetapi tinggal bersama dalam Co-livingSpace mungkin belum begitu familiar di masyarakat Indonesia. Tetapi tuntutan tempat tinggal untuk para startup pada akhirnya akan membuat Co-livingSpace bisa menjadi pilihan tempat tinggal dan bekerja. ● (Hendaru)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here