BANK BUMN (BELUM) HADIR UNTUK NEGERI : BUNGA KPR BELUM TURUN JUGA

0
295

BUMN Hadir Untuk Negeri ternyata masih sebatas slogan semata tanpa bukti nyata. Bank BUMN yang seharusnya dapat menjadi pelopor dalam penurunan suku bunga KPR ternyata masih belum terjadi. Seperti diketahui sampai saat ini Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI 7 Days Repo sebanyak 2 kali per 22 Agustus 2017 4,5 persen dan 22 September 2017 turun lagi 4,25 persen. Seharusnya dengan penurunan ini akan mendorong perbankan untuk dapat juga menurunkan suku bunga KPRnya. Namun suku bunga acuan di beberapa bank termasuk Bank Mandiri, BRI, BNI, dan BTN masih berada di kisaran 10,25 – 10,5 persen. Indonesia Property Watch mengakui dibutuhkan waktu untuk penyesuaian suku bunga tersebut. Namun dengan kondisi saat ini rasanya bank-bank BUMN bergerak sangat lambat.

“Bagaimana bisa mengerakkan sektor riil bila perbankan BUMN masih mematok suku bunga tinggi. Spread suku bunga sudah terlalu tinggi, harusnya pemerintah melalui BI dan OJK dapat melakukan sedikit ‘paksaan’ kepada bank BUMN agar dapat menurunkan suku bunga KPRnya,”  himbau Ali Tranghanda, CEO Indonesia Property Watch.

“Di negara lain spread antara safe rate dengan bunga KPR antara 3 – 3,5 persen dibandingkan di Indonesia yang saat ini bisa mencapai 6 persen. Itu terlalu tinggi dan hanya menguntungkan perbankan semata,” tambah Ali.

Berdasarkan analisis yang dilakukan Indonesia Property Watch, faktor suku bunga dan tingkat penjualan rumah memerlihatkan keterikatan yang kuat. Dengan adanya penurunan suku bunga, maka terdapat kemungkinan besar tingkat penjualan properti akan naik juga. Setiap penurunan 1 persen suku bunga KPR, maka pangsa pasar KPR diperkirakan akan naik 4 – 5 persen. Dengan suku bunga BI saat ini, maka sangat dimungkinkan terjadi penurunan suku bunga KPR sampai 1 digit menyentuh level 7 – 8 persen. Dengan demikian maka potensi pertumbuhan KPR akan sangat tinggi dapat mencapai 10 – 15 persen di tahun 2017. Pertumbuhan KPR ini harus terus digenjot ditengah perlambatan yang masih terjadi di pasar perumahan dan properti.

Beberapa alasan yang dikemukan perbankan sehingga belum dapat menurunkan suku bunga memerlihatkan bahwa efisiensi  perbankan nasional masih jauh dari baik. Penyebab lain terkait lambatnya penurunan suku bunga kredit adalah peningkatan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) sehingga membuat bank sangat waspada dalam mengelola portofolionya. Namun dengan tetap mematok suku bunga di level yang tinggi, maka sektor riil pun tidak akan berputar dan dikhawatirkan malah membuat NPL makin tinggi. Perbankan terutama BUMN harus segera menurunkan suku bunganya agar pasar properti dapat bergerak positif.

Indonesia Property Watch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here