100 TOKOH BICARA PROPERTY TAKE OFF POSITION 2016 (bag.6)

0
153

100 TOKOH BICARA PROPERTY TAKE OFF POSITION 2016 (bag.6)

 

Optimisme yang datang dari kalangan pemerintah, tokoh dan pelaku bisnis properti, pengamat, dan perbankan, menjadi salah satu bentuk dorongan yang kuat untuk dapat menggerakkan sektor properti di tanah air.

Bukan tanpa alasan! Beberapa hal dikemukakan sebagai potensi yang seharusnya dapat meningkatkan pasar dan bisnis properti tahun depan.

SUPPORT PENUH PROGRAM SEJUTA RUMAH

Untuk tahun 2016, sektor properti akan sangat baik, terutama untuk rumah-rumah yang harganya dibawah Rp 300 juta. Hal ini terjadi karena pemerintah ingin men-support secara total program sejuta rumah untuk rakyat. Permintaan dan persediaan rumah untuk kelas menengah bawah juga akan semakin tinggi bersamaan dengan rumah-rumah yang harganya Rp 300 juta. Imbasnya ialah harga rumah yang berada di kisaran 300 juta ke atas akan terhenti.

 

Imam Sudiyono, Direktur Wika Realty  
  Pada triwulan kedua dan ketiga tahun 2016, sektor properti akan lebih baik. Mata uang Rupiah akan menguat dan suku bunga perbankan juga stabil. Sektor infrastruktur juga sudah berjalan, hal ini akan mendukung pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat yang akan kembali naik. Kebijakan pemerintah harus pro rakyat dengan cara pemberian kredit ke masyarakat harus dipermudah. Pemerintah juga harus melakukan perbaikan di bidang perizinan sektor properti.   

Joko Sukamto, Kepala Divisi Pengembangan Usaha PPK Kemayoran

Memang tahun 2015 ini properti mengalami perlambatan, tapi untuk kelas menengah atas saja. Kalau untuk kelas menengah ke bawah dengan harga di kisaran Rp 200 juta ke bawah, saya pikir masih tetap tumbuh seperti biasa. Namun secara keseluruhan, pada 2016 nanti tentu properti kita mestinya akan lebih baik melihat kondisi ekonomi yang juga terus membaik. Pemerintah juga terus mendorong ini dengan pembangunan infrastruktur dan mengeluarkan kebijakan-kebijakan. Tentu akan berpengaruh positif pada properti kita.

 

Himawan Arief Sugoto, Direktur Utama Perum Perumnas  
  Tentunya pertumbuhan properti di tahun 2016 akan lebih baik, kita melihat berbagai regulasi dan kebijakan ekonomi yang tentunya sangat mendukung properti. Asalkan Rupiah kita tidak fluktuasi lagi. Kalau REI memperkirakan 2016 tumbuh sekitar 10% mungkin kami yang konsen di rumah murah lebih dari itu. Apalagi pemerintah juga telah mengalokasikan dana FLPP sebesar Rp12,5 triliun, tentu ini berdampak besar pada peningkatan rumah menengah ke bawah. Kami juga berharap agar tahun depan pemerintah lebih memperhatikan pembangunan rumah murah vertikal (rusun), tidak hanya landed saja.

Eddy Marek Leks,  Praktisi Hukum

Secara umum saya menilai bawah 2016 akan lebih bagus dari 2015 ini. Kita lihat bahwa saat ini banyak pembeli yang masih menahan diri dan tahun depan kemungkinan mereka akan mulai membelanjakan properti, seiring juga dengan beberapa kebijakan yang disampaikan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu. Kebijakan-kebijakan tersebut memang sudah bagus untuk mendukung industri properti. Hanya saja kita masih harus menunggu implementasinya di lapangan akan seperti apa.

 

REITS BISA JADI PRIMADONA PEMBIAYAAN PROPERTI

Adler Manarissan Siahaan, Real Estate Industry Specialist, Chief Business Development Officer Mustika Land 

 

Menurut saya, market outlook untuk sektor properti di tahun 2016 akan rebound, membaik setelah menghantam bottom sepanjang 2015 ini. Umumnya, perusahaan properti menggunakan fase koreksi sepanjang 2015 ini untuk konsolidasi, memperkuat korporasinya di sisi fundamental. Perusahaan properti telah bersiap menyambut matahari terbit untuk industri yang multiplier-nya paling banyak dan masif ini. Itu di sisi mikro. Di sisi makro, pemerintahan Jokowi tiada henti membuat paket-paket kebijakan untuk mendukung segera pulihnya sektor properti. Saya percaya, BI akan segera menurunkan suku bunganya bertahap sepanjang 2016 dan bukan tidak mungkin, SBI turun hingga 100 basis poin pada periode tersebut. Ini akan menggerakan industri properti, baik di sisi produksi maupun konsumsi.

Dengan fundamental yang membaik di tingkat mikro, salah satunya adalah juga intervensi pemerintah dalam hal revaluasi aset, maka mereka akan berlomba memikat sumber-sumber pendanaan murah seperti go-public (IPO). Saya melihat, banyak perusahaan akan listed di 3Q 2016. Belum lagi ketentuan pemerintah yang akan menghapus double-taxation pada Kredit Investasi Kolektif (KIK) dan Dana Investasi Real Estat (DIRE). Ini membuat creative financing seperti Real Estate Investment Trusts (REITs) bisa jadi primadona sumber pendanaan. Selama ini baru hanya 1 DIRE yang baru berjalan di Indonesia. Stimulus-stimulus tersebut di atas akan membuat sektor atau industri yang mulai highly-regulated ini makin semarak di tahun 2016.

 

TIDAK HANYA DI PULAU JAWA

MM Azhar Lubis, Deputi Kepala BKPM Bidang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal

Dipastikan tahun 2016 sektor properti akan membaik karena pembangunan rumah dan apartemen, baik untuk kelas bawah hingga kelas atas sudah menyebar ke seluruh Indonesia. Jadi pertumbuhan properti bukan hanya berkembang di pulau Jawa saja, khususnya Jabodebek. Demand properti tetap tinggi, namun daya beli agak slow down. Bank Indonesia juga mulai memberikan tindakan positif untuk menurunkan suku bunga bank. Jadi, secara umum, pertumbuhan ekonomi makro dan mikro nasional akan ada pertumbuhan dan peningkatan yang signifikan.

PROPERTI AKAN TUMBUH DARI TIMUR

Ali Tranghanda Direktur Indonesia Property Watch

 

Melihat perkembangan indikator wilayah yang ada di kota-kota besar di Indonesia, beberapa kota di wilayah Indonesia bagian Timur menunjukkan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju pertumbuhan secara nasional 4,67%. Hal ini yang belum sepenuhnya dicermati oleh para pelaku bisnis properti.

Pembangunan infrastruktur termasuk pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus di luar Jawa sedang digenjot dan pada waktunya akan menggerakkan sektor riil dan meningkatkan daya beli. Akhirnya sektor properti pun akan tumbuh. Pasar properti akan tumbuh di mulai dari luar Jawa khususnya Indonesia bagian Timur. Segmen menengah akan menjadi penggerak sektor properti yang akan kembali tumbuh paling lambat di semester II/2016. Namun pertumbuhannya belum lah terlalu signifikan. Agaknya siklus properti akan menemukan track-nya kembali di tahun 2016.

Vivin Harsanto,  head of advisory Jones Lang Lasalle 
  Sektor properti optimis akan cerah, walaupun masih dalam tahap slow down. Salah satu kunci agar sektor properti tumbuh pesat di tahun 2016 ialah perbaikan sektor ekonomi, dalam hal ini berbagai kebijakan pemerintah yang menyangkut perekonomian nasional secara menyeluruh. 
Anton Sitorus,head of Research Savills PCI 
  Semester I mungkin belum ada perubahan. Pertumbuhan properti baru mulai terasa di semester II 2016. Indikatornya kita bisa melihat pergerakan dari sekarang, ditambah lagi dengan beberapa kebijakan yang telah diumumkan pemerintah beberapa waktu. Ini sebetulnya menjadi sinyalemen positif untuk pertumbuhan properti kita hanya saja kita belum tahu pelaksanaan di lapangan. Bagi saya, aturan dan kebijakan-kebijakan tersetokoh bicarabut juga belum terlalu menggigit, sehingga perlu ditinjau kembali. Dan soal pajak barang mewah (PPnBM), kalau bisa diringankan lagi. Sebetulnya ini yang menjadi kendala terbesar pertumbuhan properti kita.

Indrastomo,  Praktisi Perbankan Bank Artha Graha 

Prospek properti 2016 tidak jauh berbeda dengan tahun 2015. Semua investor masih wait & see. Ekonomi makro masih stagnan. Nilai tukar Dolar dan Rupiah masih belum stabil di pasar. Pasar saham juga lesu. Ketiga hal inilah yang membuat sektor properti menjadi terhambat pertumbuhannya. Masyarakat lebih suka memegang uang cash daripada membeli barang.

 

TRAFFIC COMPETITIONS MASIH TERJADI DI SEGMEN ATAS

Mansyur S. Nasution, Direktur Bank BTN

  Prospek properti di tahun 2016 akan sangat baik karena seluruh masalah dalam sektor ekonomi telah berhasil diidentifikasi oleh pemerintah. Dana APBN juga sudah mulai terserap. Penyederhanaan birokrasi juga sudah diterapkan oleh pemerintah. Infrastruktur beberapa proyek sudah jalan. Otomatis hal ini akan menimbulkan dampak positif. Pemerintahan Jokowi-JK juga sangat proaktif dalam menekan suku bunga perbankan. Untuk properti di tingkat kelas atas masih terjadi traffic competitions antar pengembang. Sedangkan untuk sektor properti di level bawah dan menengah subsidi tetap bertahan dalam kisaran 5%. Ekonomi makro juga akan lebih baik karena pemerintah telah konsisten dalam menerapkan kebijakan ekonomi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here