100 TOKOH BICARA PROPERTY TAKE OFF POSITION 2016 (bag.5)

0
202

100 TOKOH BICARA PROPERTY TAKE OFF POSITION 2016 (bag.5)

Optimisme yang datang dari kalangan pemerintah, tokoh dan pelaku bisnis properti, pengamat, dan perbankan, menjadi salah satu bentuk dorongan yang kuat untuk dapat menggerakkan sektor properti di tanah air.

Bukan tanpa alasan! Beberapa hal dikemukakan sebagai potensi yang seharusnya dapat meningkatkan pasar dan bisnis properti tahun depan.

 

Andreas Audyanto, Marketing Director Banara Serpong
  Luar biasa, di saat ekonomi take off di akhir 2015 ini, bersamaan dengan 2016 yang merupakan titik awal dari peningkatan silklus 5 tahunan di properti tanah air kita. Tentunya 2016 akan menjadi sangat luar biasa dan lebih bergairah di bandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ini dikarenakan peningkatan MEC (Middle Economy Class) di Indonesia di 2015 yang mencapai 6%. Ini mengakibatkan pembeli properti lebih pandai, mereka lebih selektif, lebih kritis dan tentunya mereka sangat kalkulatif dalam memilih sebuah produk properti yang saat ini banyak ditawarkan. Mereka bukan hanya melihat developer-nya saja tapi lebih melihat produk yang ditawarkan, dan siapa yang di balik developer ini. Dan kami sebagai developer pastinya harus siap belanja land bank sekarang. Tentu kami juga mengembangkan inovasi-inovasi baru dalam konsep yang kami akan tawarkan.
 

Sugeng Widodo, SH., Praktisi Hukum Properti

Prospek properti di tahun 2016 ditentukan oleh kondisi ekonomi makro maupun mikro. Tahun 2016 sektor properti memiliki harapan cerah, apabila para developer mampu membuat strategi khusus dan kreativitas tinggi dalam memasarkan produknya. Pemerintah juga telah memberikan insentif pajak kepada para pemgembang, baik untuk pengembang kelas menengah bawah maupun kelas atas. Aksi demo buruh menjadi salah satu faktor yang bisa memperlambat pertumbuhan sektor properti.

 

Liong Subur Kusuma, General Manager Sales & Marketing Metropolitan Park

Liong Subur Kusuma, General Manager Sales & Marketing Metropolitan Park 
  Pastinya tahun 2016 akan lebih baik dari 2015. Ini dikarenakan ada dua faktor utama, yakni pertama, pada awal tahun 2016 pembangunan infrastruktur sudah mulai berjalan. Ini tentunya akan meningkatkan daya beli masyarakat dan pada akhirnya permintaan produk properti pun meningkat. Kedua, tax amnesty, kalau ini jadi diberikan maka tentunya properti akan lebih mudah tumbuh. Masyarakat pun semakin berani untuk berinvestasi di bidang properti. Jadi dalam pandangan saya, properti 2016 akan mulai terlihat tumbuh pada semester II 2016. Namun, hambatan-hambatan seperti persoalan pajak harus dibenahi terlebih dahulu.

Ir. Nahrawi Syam, MSi., Pengamat Senior Tata Kota

Prospek sektor properti di tahun 2016 akan cerah karena pemerintah telah melakukan perubahan dan perbaikan regulasi ekonomi yang disertai dengan juklaknya (petunjuk dan pelaksanaannya) yang lengkap dan jelas. Penyerapan APBN dan APBD juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap sektor riil di pasar. Perkembangan sektor properti sangat tinggi, hanya daya beli masyarakat masih terbatas. Banyaknya pengembang yang berekspansi ke wilayah pinggiran kota, seperti Serpong dan Bekasi menjadi salah satu indikator terus meningkatnya sektor properti. Jadi, masyarakat tidak perlu lagi mengandalkan Jakarta dalam melakukan berbagai aktivitas. Di wilayah Serpong dan Bekasi juga sudah menjamur pusat-pusat perbelanjaan mewah, gedung-gedung tinggi perkantoran, dan fasilitas gaya hidup sosial. Di tahun 2016 sektor properti benar-benar sangat menarik dan menggairahkan.

 

Bambang Sumargono, Associates Director Lippo Homes  
 

Saya percaya dengan adanya siklus dalam bisnis properti yang saya sebutkan sebagai empat penjuru mata angin. Keempat hal tersebutlah yang menjadi faktor, memengaruhi pertumbuhan properti tersebut, yakni moneter, fiskal, regulasi, dan supply & demand. Moneter, saya kira jika Rupiah berada di level Rp 12.500 akan sangat bagus untuk pertumbuhan properti. Selain itu, pemerintah, termasuk perbankan dan OJK harus bisa melonggarkan beberapa aturan terkait LTV, KPR Inden, dan suku bunga. Termasuk juga soal pajak, jangan sampai membingungkan masyarakat dan investor, sebab saya lihat masih banyak yang mempelajari hal ini sebelum benar-benar membeli properti. Jika semua ini bisa dilakukan, saya yakin properti akan tumbuh sangat tinggi.

Saat ini memang pemerintah sangat gencar membangun infrastruktur dan sarana transportasi. Termasuk juga beberapa paket kebijakan yang telah diumumkan. Bagi saya, kebijakan tersebut mungkin baru ada dampaknya di pertengahan tahun 2016, setidaknya di akhir semester I 2016. Tetapi yang jelas saya katakan bahwa 2016 adalah tahun adaptasi. Kebutuhan properti untuk segmen Rp 1 miliar ke bawah mungkin masih cukup prospektif, tapi di atas itu apalagi di sekitar Rp 5 miliar ke atas masih dilematis. Sehingga menurut saya, properti baru mencapai puncak di 2017/2018.

2016 TITIK BALIK PERTUMBUHAN PROPERTI

Arief Aryanto, Direktur PT Perdana Gapuraprima Tbk.

2016 menjadi titik balik pertumbuhan properti dimana 2015 ini boleh dikatakan perkembangannya masih saling menunggu. Jadi 2016 ini saatnya untuk mulai menggeliat lagi. Nantinya para investor dan terutama pembeli mulai kembali, terutama karena 2015 ini banyak yang masih menahan diri. Nanti 2016, dengan kepercayaan dan hasil kerja 2015 ini diharapkan sudah semakin membaik. Memang ada beberapa kebijakan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan properti, tetapi yang paling penting adalah stabilitas nilai tukar. Nilai tukar sangat menentukan kapan orang membeli atau menginvestasikan atau arah untuk mengembangkan usahanya di bidang properti. Karena 2015 kelihatannya masih ada sesuatu kondisi yang kurang kondusif sehingga orang lebih banyak bermain di sektor keuangan atau valas. Nanti tahun 2016 dengan adanya kebijakan kemudian ekonomi juga sudah mulai stabil, nilai tukar juga semakin baik, ini tentu memberikan kepercayaan kepada sektor menengah untuk mulai menginvestasikan kembali ke properti. Karena bagaimana pun properti masih memiliki portofolio yang paling baik dibandingkan dengan investasi lainnya yang sejenis.

Sesuai dengan prediksi pemerintah, memang mengarah ke nilai tukar Rp 13.500-Rp 13.800, memang itu yang paling ideal untuk bisa mempertahankan sektor industri tetap jalan. Jadi melihat kondisi saat ini memang masih sangat prospektif untuk pertumbuhan properti 2016 sebagai tahun pertama menggeliatnya industri ini. Sehingga jika pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi sekitar 5%-6%, maka properti juga tidak terlalu jauh dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, jadi sekitar 6% atau 8%. Dengan demikian kita harapkan mencapai booming pada 2017/2018. Karena memang stok juga cukup available, tinggal bagaimana kita mendorong daya beli masyarakat untuk bisa menyerap produk properti.

2016 Masih Belum Bagus Sekaligus Tantangan

Ivy Wong, Director of Business Development PT Pakuwon jati TBk  

IvyWong  Prospek properti 2016 masih belum bagus. Tahun depan merupakan tantangan bagi para developer untuk konsisten dalam menjual produknya. Spesifikasi produk harus jelas. Indonesia tetap memiliki peluang bagus dalam sektor properti. Investor dan end-user menjadi dua hal yang sama-sama penting dalam pertumbuhan sektor properti. Untuk apartemen kelas menengah masih ada peluang. Pengembang harus memproduksi produk properti yang gampang dijual yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Agar konsumen tertarik membeli properti, pengembang harus menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan konsumen.

Albert Luhur, Executive Director PT Summarecon Agung Tbk 

Prospek bisnis properti di tahun 2016 diperkirakan akan membaik seiring dengan optimism pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu pembangunan infrastruktur yang segera akan menggerakan sektor riil juga turut membantu dalam meningkatkan daya beli masyarakat. Kesemua faktor eksternal tersebut juga didukung oleh faktor internal Summarecon Bekasi yang tidak berhenti berinovasi dalam menghasilkan produk-produk yang disesuaikan dengan kondisi saat ini dengan tetap menjaga kualitas dari produk dan memegang komitmen untuk delivery produk yang sesuai dan tepat waktu untuk menjaga kepercayaan konsumen.

 

MASYARAKAT EKONOMI BARU YANG AKAN TERUS TUMBUH

Andreas Nawawi, Direktur Paramount Land  

  Saya sangat optimis dengan 2016 karena saya merasakan akan ada banyak hal yang menjadikan properti di Indonesia kembali menjadi primadona. Alasan saya, karena adanya beberapa kebijakan pemerintah yang menurut saya sangat menolong, salah satunya dengan tax amnesty. Kebijakan ini sangat memungkinkan untuk industri properti akan kembali berputar. Kedua, saat ini di seluruh dunia, tidak banyak lagi tempat-tempat atau negara yang memberikan kepastian investasi yang menarik. Menurut saya, salah satunya yang terbaik saat ini adalah di Indonesia. Ini karena Indonesia salah satu negara yang memiliki tingkat harga yang rendah sehingga menjadikan para investor lebih tergiur untuk berinvestasi. Selain itu, Indonesia juga salah satu negara yang dinilai teraman serta masih terus bertumbuh nilai investasinya juga akan terus tumbuh ke depannya. Apalagi kalau dilihat juga 2028 adalah puncak demografi Indonesia, dimana ini menjanjikan masyarakat ekonomi baru yang akan terus tumbuh, setidaknya selama 13 tahun ke depan ini. Saya melihat di kuartal pertama 2016 sudah mulai tumbuh dan terus meningkat sehingga diharapkan di akhir tahun 2016 sudah bisa mencapai 50%-75% jika dibandingkan dengan 2015. Sehingga saya yakin bahwa properti kita ini akan mencapai booming pada 2018, makanya mulai saat ini kita terus mempersiapkan semuanya dengan baik. Seperti pengembangan proyek-proyek Paramount ke Manado, Semarang, Balikpapan, Pekanbaru, Bandung, Medan, dan lainnya. Kami percaya bahwa properti kita bukan hanya di Jakarta dan sekitarnya saja tapi akan berkembang merata di seluruh Indonesia.

 

Ishak Chandra, CEO Strategic Development & Services Sinar Mas Land 

Secara umum pasar properti di 2016 masih sama saja dengan 2015 ini. Hanya mungkin baru terasa sedikit peningkatan di akhir 2016 dan awal 2017. Memang pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan ekonomi yang bertujuan mendorong industri ini, hanya saja jika dibebankan dengan berbagai syarat yang memberatkan maka akan sama saja. Sehingga bagi saya properti kita mungkin akan mulai terlihat lebih baik mulai 2017 dan mencapai booming properti pada 2018 mendatang.

 

DAYA BELANJA MASIH LEMAH

Handaka, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) 

  Tahun 2016 permintaan properti masih tinggi dari semua segmen. Namun, daya belanja masyarakat masih turun. Keadaan ekonomi makro yang belum stabil juga membuat para pengembang tidak confidence dalam berinvestasi. Tetapi saya yakin, properti dari mulai segmen residensial, high-rise building akan cerah. Apalagi bila BI segera bertindak untuk mengeluarkan kebijakan penurunan suku bunga perbankan.

Sicilia Alexander Setiawan, Direktur Pikko Land Development Tbk

Saya berharap di tahun 2016 bidang properti membaik. Kita sangat berharap penjualan produk perumahan bisa berjalan lancar. Banyak tenaga kerja di bidang properti yang juga harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itulah sektor properti harus membaik. Setiap pengembang juga menginginkan agar proyeknya dapat memenuhi harapan konsumen.

MENGUNTUNGKAN DI KELAS MENENGAH BAWAH

Panangian Simanungkalit, Pengamat Properti 

  Di tahun 2016, untuk rumah dengan harga Rp 500 juta ke bawah pasarnya tetap tumbuh. Sedangkan untuk rumah seharga Rp 1 miliar ke atas akan mandek. Hal ini disebabkan oleh nilai tukar Rupiah yang masih gonjang-ganjing terhadap Dollar.  Di tahun 2016, sektor properti akan take off dan diprediksikan tahun 2108 akan turun lagi. Kalau Jokowi tetap memimpin Indonesia untuk dua periode, maka sektor properti akan tetap mengalami kenaikan hingga tahun 2019. Walaupun nilai tukar Rupiah merosot, permintaan konsumen terhadap sektor properti tetap akan cerah karena didorong oleh kondisi demografi penduduk. Jumlah golongan kelas menengah atas juga meningkat hingga 45 juta orang. Otomatis rumah dibawah Rp 1 miliar akan tetap menarik pasar. Dari segi investasi, sektor properti masih menguntungkan kalau untuk kelas menengah bawah. Sedangkan untuk kelas atas terhenti. Soal kenaikan investasi properti di Indonesia minimal harus mengalami dua kali inflasi. Itu artinya, jika inflasi sekitar 5 persen, maka harga properti akan naik antara 10 hingga 15 persen. Sedangkan mengenai lokasi properti yang menguntungkan, semua lokasi memiliki potensi bagus, bila pengembang tepat dalam membuat segmentasi pasar. Pada prinsipnya, sektor properti akan mengikuti keadaan makro ekonomi. Jadi, sektor properti akan berkembang bila dalam strateginya bisa menentukan segmen yang pas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here